@KapudS640 Aku yg ke minimarket udah keliling keliling nyari barang, tp malah barangnya ga ada... kadang mikir, "ni pegawenya curiga ga ya? Dikira mau ngutil kayaknya"
Pov jaga poli umum
👨⚕️: Keluhan nya apa bu ?
🤷♀️: Tenggorokan saya sakit dan gatal dok
👨⚕️: dirumah udah minum obat apa aja ?
🤷♀️: di beliin anak saya nama nya DIGEOL kayaknya dok, warna kuning bungkusnya
👨⚕️: Digeol ya bu ? *dalam hati
((((DIGEOL)))😭😭*
Langsung googling di laptop kasih tau ibu nya, yang ini bu ?
🤷♀️: Iyaaa bener dok 😆😆
Obat yang dimaksud :
Aku pengemudi taksi online. Biasa ambil shift malam. Minggu lalu, sekitar pukul 11 malam, aku menjemput seorang pria tua. Ia masuk ke mobil dan berkata, “Jangan lihat tujuan di aplikasi. Tolong antar saya ke lima tempat malam ini. Saya bayar 1 juta rupiah. Tunai. Tapi kamu jangan tanya2 kenapa, sampai semuanya selesai.”
Ia menyerahkan lima alamat.
Tempat pertama: sebuah rumah di pinggiran kota. Ia tidak turun. Hanya duduk di mobil, menatap rumah itu sekitar sepuluh menit. Air matanya mengalir diam-diam. “Baik. Ke tempat berikutnya.” Aku pun mengemudi.
Tempat kedua: sebuah sekolah SD. Gelap. Sepi. Ia turun, berjalan ke taman bermain, duduk di ayunan. Dua puluh menit di sana. Kembali ke mobil dan berkata pelan, “Saya mengajar di sini. 43 tahun. Kenangan terindah dalam hidup saya.”
Tempat ketiga: sebuah kafe tua. Ia masuk, memesan kopi, duduk sendirian di pojok. Kopi tidak diminum. Hanya duduk dan memandangi ruangan. Lima belas menit. Saat kembali ia berkata, “Saya dan istri saya kencan pertama di sini. Tahun 1967.”
Tempat keempat: pemakaman. Ia berjalan ke sebuah nisan. Berdiri di sana. Berbicara pelan—saya tak bisa mendengar. Tiga puluh menit. Saat kembali, matanya merah. “Istri saya. Hari ini tepat tiga tahun.”
Tempat kelima: rumah sakit. Ia minta aku parkir dan menunggu. “Ini yang terakhir.” Ia menatap aku. Tetap duduk di mobil.
“Sekarang saya akan beri tahu alasannya. Saya kanker stadium empat. Mungkin tinggal hitungan minggu atau hari. Malam ini saya ingin melihat seluruh hidup saya sekali lagi. Sebelum saya tak bisa lagi.” Aku langsung menangis diam2 di kursi pengemudi.
“Rumah tadi—itu tempat saya membesarkan anak-anak.
Sekolah—tempat saya menemukan tujuan hidup.
Kafe tadi—itu tempat saya jatuh cinta.
Pemakaman—tempat saya mengucap selamat tinggal.
Dan di sini… rumah sakit. Malam ini saya akan masuk. Lantai perawatan pasien terminal yang tunggu akhir. Saya tidak akan pulang lagi.”
Ia menyerahkan uang 1 juta rupiah. “Terima kasih sudah mengantar saya melewati hidup saya. Kamu orang tak dikenal yang berbuat baik pada saya. Saya ingin malam ini terasa hangat. Kamu membuatnya hangat.”
Aku menolak. “Saya tidak bisa menerima ini.” Ia bersikeras. “Tolong. Tidak ada yang bisa saya warisi. Anak saya sudah lama tidak bicara dengan saya. Teman sudah tak ada. Kamu memberi saya tiga jam kebaikan. Itu lebih berharga dari 1 juta rupiah.”
Ia turun. Mengambil koper kecilnya. Lalu berbalik. “Siapa namamu?” “Mariono.” “Terima kasih, ya. Kamu memberi pengalaman baik terakhir dalam hidup saya.” Ia berjalan masuk ke rumah sakit. Aku duduk terhenyak di mobil. Terisak. Hampir satu jam.
Keesokan harinya aku kembali. Menanyakan namanya. “Pak Sudarsono. Kamar 412.” Aku membawa kue sedikit. Mengetuk pintu. Ia tersenyum ketika melihat aku.
“Mariono. Kamu kembali.”
“Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apa Bapak baik-baik saja?”
“Sekarat. Tapi tadi malam saya sempat melihat hidup saya sekali lagi. Jadi ya… saya baik-baik saja.”
Kami berbicara dua jam. Tentang istrinya. Murid-muridnya. Tentang hidup yang telah ia jalani. Anak yang tidak mau menemuinya lagi; "Saya terlalu keras, katanya." Aku datang setiap hari selama dua minggu. Membawakan kopi. Membacakan berita. Kadang hanya duduk diam. Ia menceritakan segalanya—penyesalan, sukacita, momen yang ingin ia ulang.
-cont-
selama menikah, jarang masak dan yg masak selalu suami. tapi bukan berarti gue buta bgt akan hal permasakan kali, terlihat gue kaya gabisa apa² bgt aja