Dito Ariotedjo masuk kabinet dengan harta Rp 282 M. Dari jumlah itu, Rp 162 M-nya adalah "hadiah" , 4 rumah + 1 Alphard , dari mertuanya: Fuad Hasan Masyhur, bos travel haji Maktour.
Nggak masalah? Secara hukum boleh. Dilaporkan di LHKPN. Transparan.
Tapi coba pikir ini ,
Tahun 2023, nama Dito disebut di sidang korupsi BTS Kominfo. Saksi mahkota Irwan Hermawan ngaku kasih Rp 27 M ke Dito buat "pengamanan perkara." Dito bantah. Oke. Kita catat.
Tahun 2025, mertua Dito , Fuad Hasan Masyhur, orang yang kasih dia Rp 162 M itu , dicekal KPK. Kasusnya: dugaan korupsi kuota haji Rp 1 TRILIUN. Kantor Maktour digeledah. Barang bukti disita. KPK bahkan menyebut ada indikasi penghilangan barang bukti.
Akibat korupsi ini: 8.400 calon jemaah yang sudah antre 14 TAHUN gagal berangkat haji.
Bukan gagal karena sakit. Bukan karena meninggal. Tapi karena kuota mereka ,yang memang hak mereka , diduga dimainkan orang-orang berduit.
September 2025, Dito dicopot dari kabinet. Belakangan terungkap ia bahkan sudah mengajukan mundur sendiri sesaat setelah mertuanya dicekal.
Januari 2026, KPK panggil Dito lagi , kali ini soal kasus haji. Dito hadir.
Dito bilang: "Sebagai warga negara saya harus patuh hukum."
Serius?
Jadi begini kronologinya:
a. Hidup disubsidi mertua bos travel haji ✓
b. Namanya muncul di dua kasus korupsi berbeda ✓
c. Mertuanya dicekal KPK, kantornya digeledah ✓
d. 8.400 orang tua yang antre belasan tahun gagal ke Tanah Suci ✓
e. Dito dicopot, dan sekarang jadi saksi ✓
Dan lo tahu kata2 Dito sendiri waktu ditanya soal hartanya yang Rp 162 M dari mertua itu?
"Kita kan tidak bisa milih lahir dari mana."
Bener banget, Pak.
Yang 8.400 jemaah itu juga nggak bisa milih , mereka nggak bisa milih supaya hak haji mereka nggak diduga dimainkan oleh orang2 yang lo panggil keluarga.
Guys, ada satu orang di debat Head to Head CNN Indonesia yang menurut gue paling berani dan paling jujur dalam menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia sekarang.
Prof. Ferry Latuhihin pakar ekonomi dan analis pasar modal tidak basa-basi.
Tidak diplomatis.
Langsung ke inti.
Dan apa yang dia katakan sangat sulit dibantah.
Pertama tentang prediksi yang bikin banyak orang tidak nyaman:
Ferry memprediksi rupiah bisa menyentuh Rp20.000 di Juni, Rp22.000 di Juli, dan Rp25.000 di akhir tahun.
Banyak yang langsung menolak prediksi ini.
Tapi Ferry punya alasan yang sangat spesifik dan yang paling penting:
track record-nya selama ini benar.
Dia sudah prediksi IHSG ambruk benar.
Dia prediksi rating Indonesia di-downgrade benar. Dia prediksi dolar menembus Rp17.000 malah lewat.
Dan ini argumen intinya yang paling kuat:
"Kalau kamu bilang ini semua gara-gara faktor eksternal global coba lihat angkanya.
Saat mata uang negara-negara Asia lain menguat terhadap dolar rupiah tetap melemah.
Saat bursa Asia menghijau IHSG kita turun hampir 5% dalam sehari."
"Jadi kalau kamu taruh semua blame di faktor global
you must be wrong.
Karena boroknya ada di kita sendiri."
Dan ini tentang apa yang Ferry sebut sebagai borok internal yang paling mengejutkan:
Sebelum perang Iran bahkan dimulai Fitch dan Moody's sudah menurunkan outlook Indonesia.
Di angka pertumbuhan 5,11% yang seharusnya bagus lembaga rating justru memberikan sinyal negatif.
Kenapa?
Karena mereka melihat sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh angka pertumbuhan:
kebijakan yang tidak bisa diprediksi dan tidak memberi kepercayaan kepada investor.
Contoh yang Ferry sebut:
begitu PT DSI didirikan S&P langsung menggonggong dengan ancaman downgrade.
Begitu Danantara diumumkan Fitch langsung memberikan rating sangat negatif.
"Ini bukan tentang apakah kebijakan itu niatnya baik. Pertanyaannya:
apakah investor percaya kebijakan itu benar atau koplak?"
Dan ini tentang lingkaran setan yang paling sulit dipecahkan:
Kalau pemerintah mengeluarkan obligasi baru dengan kupon lebih tinggi untuk menarik investor yang pertama kena dampaknya adalah asuransi, dana pensiun, dan bank sebagai pemegang SBN yang ada sekarang.
Nilai aset mereka turun.
Loanable fund berkurang.
Kredit ke ekonomi makin seret.
Tapi kalau tidak dinaikkan investor tidak mau masuk karena imbal hasilnya tidak sebanding dengan risiko.
"You cannot close the balloon here without it inflating somewhere else.
What a big nonsense you say every time oh ekonomi kita kuat 5,6% pertumbuhannya."
Dan ini yang paling relevan untuk kehidupan sehari-hari:
Ferry mengingatkan sesuatu yang sering dilupakan:
Indonesia masih impor kedelai untuk tahu tempe, masih impor gandum untuk roti, masih impor gula, masih curiga impor beras, masih impor jagung, masih impor pupuk dan tentu saja masih bergantung impor minyak.
Artinya setiap kali rupiah melemah semua harga bahan pokok itu ikut naik.
Bukan karena kebijakan harga domestik berubah.
Tapi karena bahan bakunya sendiri lebih mahal dalam rupiah.
Dan kondisi ini diperparah oleh sesuatu yang Ferry sebut shrinkflation harga barang tidak naik tapi ukurannya mengecil.
Ini tidak dihitung sebagai inflasi secara resmi tapi dampaknya ke kantong masyarakat sama saja.
Dan ini kalimat Ferry yang paling menohok tentang BI menaikkan suku bunga 50 basis poin:
"Diketawain sama market."
Bukan karena langkahnya salah secara teori.
Tapi karena hitungannya tidak masuk:
kalau US Treasury yield 4% dan Indonesia harusnya membayar risk premium minimal 3% di atasnya karena rating yang lebih rendah berarti SBN seharusnya diperdagangkan di yield sekitar 10%. Tapi sekarang masih di bawah 7%.
Artinya: investor yang rasional tidak akan masuk.
Dan yang sudah ada di dalam punya alasan kuat untuk keluar.
Dan ini yang paling penting dari seluruh analisis Ferry:
"Ini bukan temporary shock.
Ini systematic shock. Bedakan itu."
Temporary shock artinya ada gangguan dari luar yang akan reda sendiri.
Systematic shock artinya ada masalah struktural di dalam sistem yang tidak akan selesai hanya dengan menunggu.
Dan selama tidak ada mitigasi risiko yang nyata — bukan sekadar pernyataan bahwa fundamental ekonomi kuat tekanan terhadap rupiah tidak akan berhenti.
"Purbaya bilang tenang aja ini temporary.
Kalau temporary kenapa dari tahun lalu terus naik? Temporary apanya?
Ferry bukan sedang menakut-nakuti.
Dia sedang menjalankan fungsi yang paling penting dalam ekonomi: memberikan sinyal yang jujur ketika sinyal resmi tidak mencerminkan realitas.
Dan realitasnya sekarang adalah: rupiah di Rp17.900 bukan hanya angka di layar. Itu adalah hasil akumulasi dari masalah kepercayaan yang sudah menggerus selama berbulan-bulan
dari kebijakan yang tidak konsisten, dari program besar yang dipertanyakan tata kelolanya, dan dari narasi optimisme yang tidak didukung oleh tindakan mitigasi yang nyata.
Masalah kepercayaan tidak bisa diselesaikan dengan pidato. Hanya bisa diselesaikan dengan rekam jejak — dengan kebijakan yang konsisten, transparan, dan bisa diprediksi.
Dan sampai itu terjadi Ferry mungkin benar.
mungkin bulan depan kita akan bertemu
rupiaah di 20.000/usd
Guys, ada cerita yang menurut gue sangat manusiawi dan sangat touching dari podcast Nikita Willy dan Indra Priawan dan ini bukan drama, bukan kontroversi, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.
Dua pertanyaan yang paling banyak ditanyakan orang tentang Niki:
Kenapa dia tiba-tiba menghilang dari TV?
Dan kenapa sekarang berhijab?
Jawabannya ternyata saling terhubung dan dimulai dari satu momen yang sangat sederhana tapi sangat menghantam.
Soal menghilang dari TV dan ini lebih personal dari yang lo bayangkan:
Niki terakhir syuting sebelum hamil Isa.
Setelah itu prioritasnya bergeser.
Bukan karena dilarang suami.
Indra tidak pernah melarang.
Bahkan tidak pernah minta.
Tapi Niki sendiri yang sadar bahwa sebelum menikah Indra sering datang ke event sendirian.
Makan malam sendiri.
Karena istrinya selalu syuting.
"Kasihan banget.
Masa udah nikah pun dia tetap harus sendiri."
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Niki itu menjadi keputusan yang dia buat sendiri, dengan kesadarannya sendiri bukan karena tekanan siapapun.
Soal hijab dan ini yang paling menghantam gue:
Niki mengaku prosesnya panjang.
Belum bisa cerita semua.
Tapi ada satu momen yang dia ceritakan dan menurut gue ini adalah cerita parenting paling touching yang pernah gue dengar tahun ini.
Saat Niki pulang dari umrah guru ngaji Isa, anaknya yang baru 4 tahun, menyerahkan sebuah hadiah.
Guru itu bercerita:
waktu mau kasih Isa hadiah karena ngajinya bagus, Isa ditanya mau hadiah apa.
Jawaban Isa: "Mau beli kerudung buat Ibu."
Guru ngajinya yang membelikan.
Dan menyerahkannya kepada Niki saat pulang umrah.
"Wow. Ini apakah harus benar-benar memakai kerudung?"
Itu reaksi Niki.
Dan itu salah satu pemicunya.
Yang paling dalam dari seluruh cerita ini:
Niki dan Indra tidak pernah secara eksplisit mengajarkan Isa tentang hijab atau aurat dengan cara yang formal.
Mereka hanya selalu menutup bagian pribadi Isa saat mandi dan mengatakan itu private parts, tidak boleh terlihat orang.
Dari kebiasaan kecil itu Isa tumbuh dengan pemahaman sendiri.
Sampai suatu hari waktu Niki pakai baju yang agak terbuka, Isa bilang: "Harusnya pakai baju enggak kayak gitu. Itu privacy."
Anak 3,5 tahun.
Tidak diajarkan secara eksplisit.
Tapi menangkap esensinya sendiri.
Dan dari sanalah Niki mulai berpikir lebih serius.
Satu kalimat Indra yang paling gue pegang:
"Kalau misalnya anak itu sudah cinta sama sosok figur bapak dan ibunya apapun yang dilakukan orang tuanya pasti akan ditiru.
Tapi kalau deep inside anak itu enggak suka sama sosok figur orang tuanya apapun yang diajarkan tidak akan didengar."
Ini bukan soal agama saja.
Ini soal parenting secara universal.
Anak tidak butuh orang tua yang paling sempurna. Anak butuh orang tua yang dia cintai dan kagumi.
Dan kecintaan itu dibangun bukan dengan ceramah tapi dengan kehadiran, dengan contoh, dengan waktu.
Nikita Willy menghilang dari TV bukan karena dilarang. Dia memilih.
Dan berhijab bukan karena dipaksa suami. Dia dipicu oleh anaknya sendiri yang usianya belum genap 4 tahun.
Kadang perubahan terbesar dalam hidup seseorang tidak datang dari ceramah panjang atau tekanan eksternal.
Tapi dari satu momen kecil yang tiba-tiba menghantam jauh lebih dalam dari apapun.
Sebuah kerudung yang dibeli seorang anak kecil untuk ibunya adalah salah satu momen seperti itu.
A psychologist recently explained something interesting why 90s kids developed different thinking patterns than Gen Z, largely because of games. Back then, no autosaves, no hints, just three lives. Games like Super Mario Bros. and Prince of Persia taught: fail, restart, keep going you had to earn progress. Games like Tetris and The Legend of Zelda trained maps and patterns, building memory, navigation, and patience. Finish a level turn off the console. No infinite dopamine. Play was social: one couch, one screen, real conflict and cooperation.
Today, games like Fortnite and Roblox are endless, with autosaves and reward systems that keep you playing. They hold attention but don’t train completion the same way. The difference is simple: 90s kids built focus and tolerance for failure, while today’s players are shaped by constant stimulation. What do you think about this?
Saat Masyarakat Sudah Bosan,
Mendengar Cara Menjadi Kaya dari Orang yang Kaya, karena Menjual Cara Menjadi Kaya.
🔥 Era ketika ribuan orang rela membayar jutaan rupiah hanya untuk berteriak "..Saya pasti bisa..." di dalam aula hotel berbintang kini telah resmi tutup kalender, digantikan oleh realitas digital yang jauh lebih dingin dan praktis.
🔥 2013, saat kuliah di IAIN. Mindos pernah membuat seminar kewirausahaan dengan judul :
"...Seminar kewirausahaan, tanpa perlu ikut seminar...".
🔥 Isinya kala itu, adalah pebisnis batagor dan kepala cabang bakso Soni yang jadi pemateri.
🔥 Fenomena matinya bisnis seminar motivasi konvensional ini merupakan konsekuensi logis dari demokratisasi informasi yang masif, di mana pencerahan hidup yang dulu dianggap eksklusif kini tersedia gratis dalam potongan video singkat di TikTok atau @YouTube.
🔥 Secara alami, pergeseran ini dipicu oleh meningkatnya skeptisisme masyarakat terhadap konsep motivasi yang hanya mengandalkan letupan emosi sesaat, tanpa disertai kerangka kerja atau keahlian teknis yang aplikatif.
🔥 Masyarakat masa kini jauh lebih kritis dan mulai jenuh dengan narasi kesuksesan utopis yang sering kali dianggap sebagai toxic positivity, sehingga mereka lebih memilih belajar langsung dari praktisi yang memiliki rekam jajakhh nyata dibandingkan sekadar retorika di atas podium.
🔥 Transformasi ini mencapai titik kritisnya saat pandemi melanda, di mana pembatasan fisik memaksa industri ini bermigrasi ke ruang digital yang justru menyingkap bahwa banyak materi seminar sebenarnya bisa dikomoditaskan dalam format webinar murah.
🔥 Masyarakat lebih suka FGD (Fokus Group Diskusi), yang membahas hal teknis yang empiris shg bisa direplikasi. Tidak spt program MBG dan Koperasi Red-White yang ngawang-ngawang.
🔥 Jadi ya..., Meskipun kebutuhan akan pengembangan diri tidak akan pernah benar-benar hilang, bisnis motivasi gaya lama telah kehilangan relevansinya karena masyarakat kini lebih menghargai substansi teknis dan kesehatan mental dibandingkan teriakan semangat yang bersifat sementara.
pas masih kecil pernah ada tahun dimana saya enggak mudik karena orang tua enggak ada uang.
saya waktu itu cuma mikir
"emang mudik semahal itu ya??? bukannya cm ngumpul2 dirumah nenek aja??"
akhirnya setelah dewasa saya paham. walau kami waktu itu enggak ada mobil tp kalau naik bis aja orang tua harus bayar 4 seat karena anak 2, belum makan, jajan2, dll.
belum lagi anggapan orang yg tinggal di "kota" sering dianggap sukses, orang tua saya yg PNS biasa2 sampai minjem2 uang untuk mudik.
karena harus ngasih2 saudara di kampung, bawain sesuatu, dll
yah.... memang hidup itu jauh lebih indah dan sederhana di masa kita kecil,
namun di sisi lain banyak pertanyaan2 dalam hidup kita yg baru bisa terjawab ketika kita sudah dewasa.
semoga Allah kasih kita rezeki di lebaran tahun ini ya!
kamu mudik tahun ini???
sebelom dicatut dan direupload org, izinkan aku mengunggah tulisanku di sini :
Kita Tidak Pernah Sepenting Itu, di Mata Orang Lain (1/4)
#mentalhealthdoodles