Want to sell iphone 17 pro deep blue 256GB
Garansi on sampe desember 2026
Terpasang tg Lamina
Battery health 100%
22jt
Bisa cod sekitar jakarta
#wtsiphone#iphone17pro
Want to sell iphone 17 pro deep blue 256GB
Garansi on sampe desember 2026
Terpasang tg Lamina
Battery health 100%
22jt
Bisa cod sekitar jakarta
#wtsiphone#iphone17pro
Bu ibu...
Sekali2 aku mau rekomendasiin baju anak yang menurur aku chef kiss 💯 bgt
Bahannya, dan harganya (dibanding beli di Mother Care🙂)
Merk nya: Nice Kids...
Desainnya bagus, bahan nya variatif... katun ada, tencel modal juga ada. Kemana aja aku slama ini🙈
TERKINI
Sebagai penghormatan kepada Abu Ubaida
Briged Al Qassam akan mengekalkan gelaran Abu Ubaida kepada jurucakap seterusnya yang menggantikannya
Jurucakap Briged Al Qassam akan kekal dipanggil Abu Ubaida
Biawak dalam Ilmu Titen & Sains Benarkah Pengendali Ular?
Di banyak daerah, biawak sering dipandang sebagai “penjaga” lingkungan. Ada yang percaya kalau biawak ada di sekitar rumah atau sawah, maka populasi ular akan berkurang. Tapi… seberapa benar keyakinan itu?
Dalam Ilmu Titen / Kearifan Lokal
Kemunculan biawak biasanya dititeni sebagai tanda :
• Lingkungan masih alami dan basah (sungai, rawa, sawah, empang masih hidup)
• Menandakan banyak sumber pakan (ikan, katak, telur, bangkai)
• Kadang dipercaya membantu mengurangi ular
Artinya, biawak sering menjadi simbol bahwa alam di sekitar masih “bernapas”.
Dalam Kacamata Sains
Secara ekologi, biawak bukan “pengendali resmi ular”. Hubungannya dengan ular seperti ini :
Biawak bisa memakan ular. tapi biasanya ular kecil atau muda
Ular besar tetap mampu bertahan dan bahkan bisa melawan
Mereka lebih tepat disebut predator sekaligus kompetitor, bukan penguasa ular
Peran biawak yang jelas dalam ekosistem :
• Predator ikan, katak, tikus kecil, burung kecil
• Pemakan telur (kadang bikin warga kampung geregetan 😅)
• Pemakan bangkai → bantu kebersihan alam
• Indikator ekosistem sehat, terutama daerah berair
Kalau biawak masih ada, biasanya habitat belum rusak total.
Jadi, Apakah Biawak Mengendalikan Ular?
Tidak bisa dibilang pengendali utama.
Populasi ular lebih dipengaruhi :
• banyaknya tikus & mangsa lain
• kondisi habitat
• campur tangan manusia
Kalau tikus melimpah, ular tetap betah meski ada biawak.
Biawak bukan hama.
Bukan musuh.
Bukan penguasa ular.
Mereka adalah bagian penting dari keseimbangan alam, predator serbaguna, pemakan bangkai, dan penanda bahwa ekosistem kita masih hidup.
Semoga Bermanfaat..🙏
Tentang Tokek yang “Betah” di Rumah — Mitos, Titen, dan Sains.
Ada yang bilang kalau tokek betah di rumah itu pertanda tertentu… rumahnya wingit lah, ada “penghuni lain”, atau ada hal-hal mistis yang tak kasat mata. Padahal sebenarnya penyebabnya jauh lebih sederhana dan sangat… realistis 😄
Tokek betah di rumah karena rumah kita menyediakan fasilitas hidup buat dia :
ada tempat sembunyi
suasananya pas, biasanya agak lembab
dan yang paling penting banyak makanan alias serangga
Tokek itu predator alami nyamuk, laron, semut besar, kecoa kecil, jangkrik liar, dan berbagai serangga lain. Jadi kalau ada tokek betah di rumah, itu bukan berarti rumahnya angker… tapi berarti rumah kita cukup nyaman secara ekologi untuk dia bertahan hidup.
Kalau tokeknya betah, berarti memang ada penghuni lain…
namanya serangga, bukan makhluk gaib 😌
Nah, dalam ranah titen Jawa, keberadaan tokek ini sebenarnya bisa dibaca sebagai titen ilmiah :
Banyak tokek berarti serangga di rumah masih cukup banyak, kemungkinan rumah agak lembab, ada sumber cahaya yang menarik serangga, atau kebersihan dan ventilasinya perlu diperhatikan.
Dalam bahasa ilmiah, tokek bisa disebut indikator lingkungan (bioindicator). Ia tinggal di tempat yang :
menyediakan pakan,
aman dari gangguan,
punya kondisi mikroklimat yang cocok.
Artinya, tokek bukan pembawa misteri… tapi pembawa informasi tentang kondisi lingkungan rumah kita.
Kearifan lokal tetap penting, budaya tetap kita hormati. Tapi akan jauh lebih keren kalau kearifan itu kita rangkai bersama ilmu pengetahuan. Biar tetap membumi, tapi juga masuk akal.
Jadi kalau besok dengar tokek bunyi keras dan betah di pojokan rumah… tenang saja. Itu bukan pertanda gaib. Itu cuma alarm alami bahwa ekosistem rumah kita sedang hidup 😊
Secara konsep ini SELARAS dengan prinsip pertanian modern – “integrated farming / circular agriculture”.
Tapi secara TEKNIS : kalau kotoran ayam langsung jatuh ke kolam ikan tanpa pengolahan dulu, itu berpotensi beracun dan mematikan ikan. Jadi sistemnya harus dimodifikasi supaya aman.
Kenapa konsepnya sejalan dengan pertanian modern?
Karena modern farming sekarang memang mengarah ke :
efisiensi sumber daya
minim limbah (zero waste)
reduksi pupuk kimia
meningkatkan keberlanjutan
Makanya dikenal sistem :
Integrated Farming System (IFS)
Aquaponics
Agroecology
Circular Agriculture
Intinya : limbah dari satu komponen jadi nutrisi bagi komponen lain.
Tapi… apakah aman kalau kotoran ayam langsung ke kolam ikan?
Resiko utama bagi ikan
Kotoran ayam mengandung : Ammonia & Urea sangat tinggi
bisa berubah jadi amonia toksik (NH3)
bikin ikan keracunan, stres, mati
Padatan organik tinggi - air cepat keruh
bakteri pengurai butuh oksigen
oksigen di air turun
ikan sesak lalu mati.ⁿ
Patogen & bakteri Termasuk :
Salmonella
E.coli
Campylobacter berbahaya untuk ikan, berpotensi bahaya untuk manusia kalau konsumsi ikan mentah/tidak matang sempurna
Lho tapi konsep seperti ini memang ada kok?
Betul, tapi yang benar itu bukan “kotoran langsung ke kolam”.
Yang modern digunakan adalah :
Aquaponics
Alurnya : ikan → air kotor → FILTER & BIOFILTER → tanaman → air bersih → balik ke kolam
Yang diolah :
padatan disaring dulu
amonia diubah oleh bakteri nitrifikasi jadi nitrat (aman)
baru dipakai nutrisi tanaman
Sistem pertanian terpadu (tradisional Asia juga punya)
Contohnya :
sistem ikan–bebek–padi di China
kolam ikan + kandang ternak di Jawa dulu
TAPI… kotoran tidak langsung jatuh ke kolam selalu ada proses : pengenceran
fermentasi / kompos cair
pengelolaan kadar nutrisi
Ide sistemnya benar & selaras dengan pertanian modern Tapi…
Kalau diterapkan mentah seperti di gambar itu terlalu indah untuk jadi kenyataan & berbahaya untuk ikan.
Jika mau aman :
harus ada unit pengolahan limbah ayam
ada filter mekanik
ada biofilter nitrifikasi
kontrol kadar amonia, nitrit, nitrat, DO
Baru disebut “modern, scientific, sustainable”.
UNDUR-UNDUR PENANDA ALAM YANG SERING DISALAHPAHAMI.
Banyak orang penasaran, kalau di suatu tempat banyak hewan undur-undur, itu pertanda apa? Apakah ada kaitannya dengan hal-hal mistis, keberuntungan, atau bahkan kesehatan ?
Jawabannya : tidak. Justru hewan kecil ini memberi informasi yang jauh lebih rasional dan ilmiah tentang lingkungan kita.
Undur-undur sebenarnya adalah larva serangga antlion. Mereka hidup di tanah dan membuat lubang berbentuk corong sebagai perangkap mangsa, terutama semut dan serangga kecil lainnya.
Nah, keberadaan undur-undur ini bisa kita baca sebagai indikator alami kondisi lingkungan.
Apa yang Ditunjukkan oleh Keberadaan Undur-undur?
1. Indikator Kondisi & Jenis Tanah
Undur-undur hanya bisa hidup di tempat dengan kondisi tertentu:
tanah gembur dan berpasir
kering, tidak becek
drainase baik
partikel tanah mudah longsor saat bergerak
Artinya kalau ada undur-undur dalam jumlah banyak, lingkungan itu umumnya :
tidak lembab / tidak tergenang
bukan tanah liat berat
bukan tanah padat yang sering diinjak atau dipadatkan
2. Indikator Lingkungan yang Tenang
Undur-undur suka tempat :
teduh
jarang terganggu manusia atau hewan
tidak sering disapu, dibersihkan keras, atau diolah
Kalau suatu area terlalu sering diinjak, dipakai aktivitas, atau terganggu, mereka akan pergi.
3. Indikator Ekosistem Mikro yang Hidup
Karena undur-undur adalah predator kecil, keberadaan mereka menunjukkan :
populasi semut & serangga kecil tersedia
rantai makanan berjalan
ekosistem mikro sehat
Kalau kita menjumpai undur-undur, itu tanda bahasa alam yang kasih tahu kita bahwa :
tanahnya kering, gembur, berpasir
lingkungannya tenang
ekosistem kecil di situ berjalan baik.
Inilah contoh bagaimana ilmu titen tradisi bisa kita hubungkan dengan penjelasan ilmiah modern, dan untuk memahami alam dengan lebih cerdas.
Semoga Bermanfaat...🙏
TITI MANGSA
Pernah dengar istilah titi mangsa?
Ini bukan ramalan, bukan mitos, dan bukan klenik. Titi mangsa adalah sistem kalender musim tradisional Jawa yang disusun berdasarkan observasi ilmiah jangka panjang terhadap alam : angin, hujan, suhu udara, hewan, tanaman, dan lingkungan.
Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis hitungan astronomi, titi mangsa adalah kalender ekologis. Ia lahir dari kesabaran nenek moyang Jawa yang mengamati perubahan alam selama ratusan tahun lalu menyusunnya menjadi pola yang teratur.
Indonesia, termasuk Jawa, berada di wilayah iklim monsun. Artinya, arah angin berubah setiap setengah tahun, membawa musim kemarau dan musim hujan. Tapi perubahan itu tidak terjadi mendadak. Ada masa transisi, ada tanda-tanda kecil di alam, ada fase yang bisa dibaca.
Nah… fase-fase itulah yang kemudian disusun menjadi 12 mangsa dengan durasi berbeda-beda sesuai perubahan alam, bukan angka kalender.
Setiap mangsa punya ciri khas :
perubahan suhu dan kelembapan
pola curah hujan
perilaku hewan dan serangga
fase tumbuh tanaman
risiko lingkungan seperti kekeringan atau banjir
Secara ilmiah, titi mangsa sangat dekat dengan :
phenology → ilmu yang mempelajari hubungan fase tumbuhan & hewan dengan iklim
agroklimatologi → hubungan iklim dengan pertanian
pattern recognition iklim yang hari ini dipelajari secara modern
Karena itu, titi mangsa dulu menjadi “panduan hidup” masyarakat Jawa : Untuk menentukan waktu tanam dan panen
Untuk membaca potensi hama & penyakit tanaman
Untuk memahami waktu paceklik & ketersediaan air
Untuk membaca arah angin, cuaca, bahkan keselamatan perjalanan
Bukan sekadar budaya, tapi sistem pengetahuan lingkungan yang cerdas.
Apakah masih relevan sekarang?
Masih. Walau perubahan iklim, El Niño, dan La Niña membuat musim bergeser, logika titi mangsa tetap penting, manusia harus belajar membaca alam, tidak hanya bergantung pada angka dan teknologi. Banyak peneliti bahkan menjadikannya referensi dalam studi lingkungan dan pertanian modern.
Jadi, kalau ada yang bilang titi mangsa itu mistis… mungkin mereka belum tahu bahwa di balik kearifan lokal Jawa ini, ada logika ilmiah, pengalaman ekologis panjang, dan kecerdasan peradaban yang luar biasa.
Alam sebenarnya selalu memberi tanda. Tinggal kita… mau peka atau tidak.
Semoga Bermanfaat....🙏
Ketika Alam Memberi Tanda Kunang-kunang, Bapak Pucung, dan Garengpung dalam Ilmu Titen & Penjelasan Ilmiah.
Di masa lalu, petani tidak punya BMKG, radar cuaca, atau prakiraan satelit. Tapi mereka punya sesuatu yang jauh lebih halus: kepekaan membaca tanda-tanda alam. Banyak yang mengira ini “mitos”, padahal sebagian besar sebenarnya lahir dari pengamatan panjang dan menariknya, banyak yang sesuai dengan penjelasan ilmiah modern.
Berikut tiga “penanda alam” yang sering disebut dalam ilmu titen Jawa :
1. Kunang-kunang
Ilmu titen mengatakan :
Kalau banyak kunang-kunang keluar malam hari, biasanya udara lembap dan lingkungan dalam kondisi baik.
Secara ilmiah :
Kunang-kunang suka daerah lembab, bersih, tidak tercemar pestisida
Biasanya muncul saat :
awal hingga pertengahan musim hujan
saat kelembaban tinggi
Mereka juga indikator ekosistem sehat, karena larvanya hidup di tanah yang tidak rusak
Jadi benar kemunculan kunang-kunang sering menandakan: lingkungan masih alami
musim basah / lembab sedang berlangsung kuat
2. Bapak Pucung (Kepik Merah Randu)
Banyak orang melihat bapak pucung keluar ramai dan menganggapnya tanda musim tertentu.
Secara ilmiah, ini masuk akal :
Bapak Pucung adalah kepik yang suka hidup di :
randu (kapuk)
kapas
tanaman keluarga Malvaceae
Populasinya meningkat saat :
musim kemarau
atau masa transisi menuju musim hujan
Karena pada periode ini buah randu matang & mengering - sumber makanannya melimpah
Jadi kemunculan banyak bapak pucung sering berarti :
kondisi masih cenderung kering
ekosistem sedang pada fase kemarau / pancaroba
3. Garengpung (Tonggeret / Cicada)
Dalam ilmu titen, suara garengpung yang keras sering dikaitkan dengan musim panas.
Secara ilmiah :
Garengpung muncul dan aktif saat : udara panas
hari cerah
Mereka butuh suhu tinggi untuk aktivitas dan menyanyi (mengeluarkan suara keras)
Puncak kemunculannya biasanya saat musim kemarau atau puncak panas
Artinya, garengpung memang indikator :
cuaca panas stabil
kemarau sedang dominan
Apa yang dulu dianggap mitos, ternyata banyak yang :
berbasis pengamatan panjang
selaras dengan ekologi & biologi
bisa dijelaskan secara ilmiah
Rangkumannya :
Kunang-kunang - tanda lembab & ekosistem sehat
Bapak pucung - tanda fase kering / kemarau & tanaman randu berbuah
Garengpung - tanda panas & kemarau kuat
Alam selalu berbicara. Petani dulu mendengarnya. Kita tinggal belajar membaca kembali.
Semoga Bermanfaat ..🙏
Ilmu Titen Petani Dulu yang Masih Valid Secara Ilmiah
1. Banyak siput / kaki seribu keluar dari tanah
Titen petani : tanda tanah lembab & musim basah menguat
Penjelasan ilmiah : tanah jenuh air - oksigen berkurang - hewan tanah naik ke permukaan.
2. Katak / kodok ribut malam hari
Titen : hujan akan sering, sawah masuk fase basah stabil
Ilmiah : katak aktif pada kelembaban tinggi & tekanan udara rendah - biasanya menjelang atau saat periode hujan stabil.
3. Semut berpindah sarang ke tempat lebih tinggi
Titen : tanda akan ada hujan deras berkepanjangan
Ilmiah : semut sensitif pada perubahan kelembaban & getaran tanah - mereka evakuasi sebelum area banjir.
4. Daun banyak menggulung / layu siang tapi segar sore
Titen : tanaman kekurangan air tapi belum kritis
Ilmiah : mekanisme leaf rolling untuk mengurangi penguapan saat stres air.
5. Rumput liar tumbuh subur - tanahnya hidup.
Titen : tanah sehat & subur
Ilmiah : rumput adalah indikator:
bahan organik cukup
aktivitas mikroba tinggi
struktur tanah baik
6. Banyak capung di sawah
Titen : lingkungan sawah sehat & air relatif bersih
Ilmiah : capung butuh air bersih untuk fase larva - indikator ekosistem baik.
7. Awan rendah, tebal, tidak bergerak cepat
Titen : hujan dekat
Ilmiah : awan cumulonimbus / nimbostratus dengan kelembaban tinggi & tekanan rendah - potensi hujan sangat besar.
8. Burung kecil banyak mencari makan di sawah
Titen : banyak serangga - artinya tanaman subur
Ilmiah : ekosistem rantai makanan berjalan - vegetasi sehat mendukung populasi serangga.
9. Jamur liar mulai bermunculan
Titen : tanah lembab stabil & bahan organik tinggi
Ilmiah : jamur tumbuh saat:
kelembaban tinggi
suhu sesuai
tanah kaya bahan organik
Ini juga tanda sawah/ladang memasuki fase biologis yang aktif.
Petani dulu tidak asal percaya “tanda alam”. Mereka mengamati, menyimpan, lalu menurunkan ilmunya. Dan ternyata banyak yang sejalan dengan ekologi, meteorologi, dan sains modern.
Ilmu titen itu bukan kuno, itu sains berbasis pengalaman hidup.
Semoga Bermanfaat..🙏
Perubahan Iklim: Salju di Arab biasanya sering terjadi tapi dibawa oleh angin karena ada sirkulasi badai salju dari utaranya (Turki dsk). Namun saat ini disertai suhu minus 4. Artinya salju orisinil terbentuk di Arab bukan ditransfer dari wilayah di utaranya.
Doa warga Tamansari Kebon Bibit yg didzalimi RK itu pedih guys...
RK ngundang bukber warga di balkot, warga ngisi ttd daftar hadir, itu ttd daftar hadir dijadikan ttd persetujuan penggusuran kawasan perkampungan di Tamansari Kebon Bibit buat dibangun rusun jelek cc @elisa_jkt
Sabar ya teman-teman.. InsyaaAllah saya akan menyusul ke Takengon dan Bener Meriah setelah event di Bandung.
Ini Kak Noormala dan Bang Suardi, komandan relawan Baitul Maal Merapi Merbabu kita di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Doakan mereka.