🚨 🔴 🗣️ 🎙️ David Beckham; Recount how manutd fans saved him from the hands of England fans.
“I came back from the 1998 World Cup knowing I was probably the most hated man in England. I had been sent off against Argentina, we went out on penalties, and I knew the new season was going to be difficult.
Then I went to West Ham for our first away game. I walked over to take a corner and the abuse was unbelievable. But behind that goal, I could hear the Manchester United supporters singing my name. They stood by me when everyone else seemed to have turned against me.
That moment calmed me. It reminded me that whatever happened with England, I had a family at Manchester United. That season, we went on to win the Treble.
Pada Oktober 2011, setelah hanya 11 pertandingan melatih Deportivo Alaves di divisi ketiga sepak bola Spanyo, Luis de la Fuente dipecat.
Alaves hanya berada di posisi 8, susah sekali menang, rencana2 De la Fuente tidak berjalan baik.
Pemecatan itu membuat De la Fuente begitu terpukul.
Lalu, selama 1,5 tahun, De la Fuente menganggur. Dia menyebut periode itu sebagai, la 78 lunes al sol, 78 Senin di bawah terik matahari, 78 pekan jadi pengangguran.
Tabungannya terus menipis. De la Fuente dihantui bayang2 yg sangat ditakuti oleh pelatih manapun yakni dilupakan zaman.
Namun, alih-alih meratap, masa menganggur itu dipakai De la Fuente untuk melakukan rekonstruksi diri.
Dia berkendara melintasi Spanyol untuk mengamati sesi latihan banyak pelatih lain.
De la Fuente rajin membedah sistem radikal Marcelo Bielsa. Dia juga belajar bahasa Inggris dan menenggelamkan diri dalam buku-buku sejarah Romawi Kuno tentang gladiator, stoik, dan filsafat.
Sampai suatu hari, Gines Melendez, koordinator usia muda Federasi Sepak Bola Spanyol, mewawancarai De la Fuente pada Mei 2013 atas rekomendasi seorang kolega.
Saat itu, Melendez menemukan seorang pria istimewa yang telah melepaskan ego keduniawiannya dan pada akhirnya sejarah mencatat dia memenangkan segalanya.
Artikel agak panjang tentang pelatih Spanyol yang menjadi Juara Eropa, menjadi Juara Dunia meski tak pernah sekalipun melatih klub divisi tertinggi dalam kariernya: Luis de la Fuente.
https://t.co/fWdS21WblF
Kolom Jonathan Liew di The Guardian setelah laga Portugal vs Prancis di Euro 2024 ini bisa menjadi gambaran mengapa sikap para pemain Portugal kepada Ronaldo biasa2 saja di Piala Dunia 2026.
"Theo Hernandez mencetak penalti kemenangan, dan seketika para pemain Portugal secara naluriah langsung berlari mengerumuni João Félix yang patah hati—satu-satunya pemain yang gagal mengeksekusi penalti—dan mendekapnya dalam pelukan mereka. Mendes berlari menghampirinya."
"João Palhinha berlari menghampirinya. Nelson Semedo berlari menghampirinya. Pepe menyampingkan kesedihannya sendiri—padahal ini bisa jadi merupakan pertandingan terakhirnya—dan berlari menghampirinya. Masih ada sebuah tim di sini, dan satu-satunya hal yang menyedihkan adalah kita tidak pernah diberi kesempatan untuk melihatnya."
"Satu orang tidak berlari ke arah Félix. Sebaliknya, ia berjalan ke arah lain, menyendiri, hanya dikejar oleh sorotan kamera yang penuh rasa ingin tahu. Dia Cristiano Ronaldo."
https://t.co/3SFiTvdbXl
Setelah mencetak gol Piala Dunia pertamanya, Gessime Yassine langsung mendapat pesan dari Noussair Mazraoui.
“Pulang, lalu salat dan bersyukur kepada Allah.”
Momen sederhana namun penuh makna usai kemenangan Maroko atas Haiti. 🤲🇲🇦❤️
@Mikael1705 @idextratime Ya karena Messi yang kosong, liat tu Lautaro masuk kotak kecil, Messi dari lini kedua, bek udah pada ketarik, lah si dodo dijaga 2 orang minta diumpan, kocak bet dah, itu skema mirip kemarin bola yang ke arah bruno tapi diambil dodo.
@idextratime ITU KEMARIN KLO DODO KASIH KOLONG BOLA KE BRUNO GOL TUH, FANS DODO GAK PAHAM MESSI BISA DAPAT BOLA KARENA MASUK DARI LINI KEDUA, SEDANGKAN DODO TU STRIKER YANG HARUS GERAK KE KOTAK.