Drop a 💰 if you want to attract more abundance in your life.✨💰✨
"Wealth comes from thinking thoughts of abundance and prosperity, without allowing any contradictory thought to enter your mind."
#RhondaByrne#TheSecret#lawofattraction#loa#visualization#manifestation #askbelievereceive
Saw some people panicking or asking about quantum computing's impact on crypto.
At a high level, all crypto has to do is to upgrade to Quantum-Resistant (Post-Quantum) Algorithms. So, no need to panic. 😂
In practice, there are some execution considerations. It's hard to organize upgrades in a decentralized world. There will likely be many debates on which algorithm(s) to use, resulting in some forks.
And some dead project may not upgrade at all. Might be a good to cleanse out those projects anyway.
New code may introduce other bugs or security issues in the short term.
People who self custody will have to migrate their coins to new wallets.
This brings to the question of Satoshi's bitcoins. If those coins move, then it means he/she is still around, which is interesting to know. If they don't move (in a certain period of time), it might be better to lock (or effectively burn) those addresses so that they don't go to the first hacker who cracks it. There is also the difficulty of identifying all his addresses, and not confuse with some old hodlers. Anyway, it's a different topic for later.
Fundamentally:
It's always easier to encrypt than decrypt.
More computing power is always good.
Crypto will stay, post quantum.
I'm 24
I started watching p*rn at the age of 15 and wasted 8 years of my life
After being p*rn free for 2+ years
Here are 5 shocking reasons why you should stop watching p*rn before it's too late:
A man deposits $10,000 in a bank.
The bank thanks him and records the deposit on its balance sheet. But not where you might expect. For the bank, that $10,000 is actually a liability – because technically it belongs to the customer and might have to be returned.
So the bank does what banks do. It lends $9,000 of that money to someone buying a car.
Now something interesting happens. The $9,000 loan appears on the bank’s books as an asset – because someone now owes the bank money.
So the same $10,000 is doing two jobs at once. The depositor believes he has $10,000 safely in the bank. The borrower now has $9,000 to spend.
That $9,000 gets deposited somewhere else. The next bank lends $8,100. That gets deposited again. Then $7,290 gets lent out.
Soon the original $10,000 has quietly turned into tens of thousands of dollars of loans scattered across the economy.
Everyone believes they have money. Depositors see balances in their accounts. Borrowers have the money they spent. Banks show healthy assets on their balance sheets because people owe them money.
And here’s the best part.
Banks charge interest on all those loans – maybe 7%. But the depositor who supplied the original money might earn only 0.5% on their savings account.
So banks collect interest on money that mostly wasn’t theirs to begin with – and keep the difference.
The system works beautifully.
As long as nobody asks for the money back at the same time.
Stop ganti iPhone kalo batre-nya udah ngedrop.
Gue dulu kira iPhone gue udah waktunya ganti karena ngedrop. Ternyata bukan.
Apple emang sengaja set default yang bikin baterai boros.
Setelah gue utak-atik sendiri, baterai gue dari 6 jam jadi tahan 10 jam . Tanpa ganti baterai.
Gini caranya:
Instagram dan Tiktok bikin pria terobsesi pada wanita yang gak bakal mau sama mereka.
Instagram dan Tiktok juga bikin wanita merasa berhak punya pasangan yang bisa provide lifestyle yang gak mampu mereka miliki.
Semua orang mengejar khayalan, lalu kecewa saat kenyataan gak sesuai ekspektasi.
Setiap hari pria scroll Instagram dan TikTok, lihat wanita cantik, body goals, makeup flawless.
Tanpa sadar, standar mereka naik. Mereka mulai membandingkan setiap wanita di kehidupan nyata dengan influencer yang mereka lihat online.
Lupa bahwa semua itu hasil filter, lighting, editing, dan makeup berjam-jam. Lupa bahwa wanita-wanita itu gak akan pernah mau sama mereka.
Pria jadi terobsesi pada sesuatu yang gak realistis. Mereka ngejar wanita cantik dan sexy yang pada kenyataannya gak tertarik sama mereka.
Wanita di kehidupan nyata yang baik, real, dan available? Dianggap biasa aja. Kurang menarik. Kurang exciting.
Akhirnya mereka stuck: gak bisa dapetin yang mereka mau, tapi gak mau sama yang available. Sendirian, tapi tetap ngejar ilusi.
Di sisi lain, wanita scroll Instagram dan TikTok, lihat couple goals yang liburan ke Maldives, makan di restoran mahal, dapet hadiah branded.
Tanpa sadar, ekspektasi mereka naik. Mereka mulai merasa berhak punya pasangan yang bisa provide gaya hidup seperti itu.
Lupa bahwa semua itu hasil kurasi. Cuma kasih liat yang bagusnya aja. Lupa bahwa pria yang bisa provide begitu cuma segelintir, dan belum tentu mau sama mereka.
Wanita jadi terobsesi pada lifestyle yang gak realistis. Mereka ngejar pria yang mapan, romantis, perhatian, dan bisa kasih hidup mewah.
Pria di kehidupan nyata yang baik, bertanggung jawab, tapi income standar? Dianggap kurang. Gak cukup untuk bikin bahagia.
Akhirnya mereka stuck: gak bisa dapetin yang mereka mau, tapi gak mau sama yang available. Sendirian, tapi tetap ngejar ilusi.
Inilah efek paling berbahaya dari social media: semua orang mengejar ilusi alih-alih membangun kenyataan.
Semua orang menuntut orang lain memenuhi khayalan mereka. Khayalan yang bahkan mereka sendiri gak bisa provide untuk diri sendiri.
Pria menuntut wanita cantik seperti model, tapi mereka sendiri gak punya apa-apa yang bisa ditawarkan.
Wanita menuntut pria kaya spek CEO, tapi mereka sendiri gak punya value yang setara.
Akibatnya? Makin banyak orang yang single berkepanjangan. Makin banyak yang frustrated karena "gak ada yang cocok."
Padahal bukan gak ada yang cocok. Tapi ekspektasi kamu yang udah terlalu tinggi dan gak realistis.
Kamu sibuk ngejar sesuatu yang gak mungkin kamu dapetin, sementara orang yang bisa bikin kamu bahagia ada di depan mata, tapi kamu abaikan karena "kurang."
Social media bukan cermin realita. Social media itu highlight reel yang dikurasi, diedit, dan dijual.
Kalau kamu terus membandingkan kehidupan nyata dengan ilusi di layar, kamu gak akan pernah puas. Gak akan pernah bahagia.
Saatnya melek dan realistis, mulai hargai orang-orang real di sekitar kamu.
Kalau kamu merasa stuck gara-gara standar yang terlalu tinggi, chat WA 0812-9224-8681. Saya bantu kamu kembali ke realita dan nemuin jodoh yang beneran cocok.
📢 OHH TERNYATA.. TERJAWAB SUDAHHHH❗
finally awalnya kmrin aku ragu buat konsumsi vitamin IPI krn harganya. Ternyata ada fakta mengejutkan di balik harga yang muraah😭😭
Gara-gara Mbak Dian Sastro mention channel Predictive History (Profesor Jiang) pas ngobrol sama Raditya Dika, gue jadi kepo.
Akhirnya gue tonton salah satu videonya: Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Penulis: Hernadi Akbar