kehilangan spark itu rasanya aneh,
lu masih jadi diri lu, tapi hidup lu udah nggak sebernyawa dulu
slowly losing your spark hits harder than being sad all at once.
Pertanyaan yang akhir akhir ini ada di kepalaku:
"Aku bisa nyelesain magang ga ya?"
"Aku bisa nyelesain skripsi ga ya?"
"Aku bisa lulus tepat waktu ga ya?"
"Aku bisa bahagiain mereka ga ya?"
"Aku bisa jadi orang ga ya?"
"Aku bisa nyelesaiin semuanya ga ya?"
Di kehidupan yang singkat ini, aku cuma mau mulai belajar berdamai dengan aku. Berdamai dengan ramainya, juga sepinya, sebagai bagian dari diriku. Because life goes on.
Semua orang berjalan, aku melihatnya. Aku pikir aku tak bergerak, but I was wrong. Yang sebenarnya terjadi adalah, aku tidak melihat ke arahku sendiri. Padahal nyatanya, aku juga berjalan. Aku hanya lupa pada kakiku. Selalu merasa kurang untuk diri sendiri, maupun orang lain.
Ekspektasi selalu ada disaat membuat keputusan, dan itu juga perlu batasan. Alasannya masih sama, mengurangi rasa kecewa. Setidaknya diri sendiri sudah mempersiapkannya, meskipun rasa kecewa tetaplah rasa kecewa.