Ini dia kenapa gw BENCI BANGET ke GIIAS atau pameran otomotif lainnya. Perempuan dipajang-pajang, dianggap setara sama objek yang di sampingnya. Ini budaya yang menurut gw harusnya diMATIIN aja, sekalian deh sama orang-orang yang ngelanggengin.
my grandpa died when i was 18. my grandma pulled me aside and told me every horrible thing he did to her bc she needed to tell someone. she’d kept it a secret for 60 years. she made me promise never to tell my dad bc she didn’t want to ruin the image of his father in his mind
Waktu Bapak "gagal" gantiin pampers, Bapak bukan cuma melempar EKSEKUSI ke istri. Bapak melempar SELURUH RANTAI cognitive labor-nya:
Sekarang istri yang harus INGAT kapan pampers terakhir diganti. INGAT stok pampers di rumah tinggal berapa. INGAT ukuran pampers yang sekarang cocok. BELIIN kalau habis. Dan GANTIIN tiap kali.
Satu "aku gak jago" dari Bapak = satu MODUL KERJA SEUMUR HIDUP yang berpindah ke otak istri.
Bapak diminta gantiin pampers anak. Masangnya miring. Anak bocor. Kasur basah.
Istri dateng, ganti ulang, beresin kasur, ganti sprei.
Bapak berdiri di samping, angkat bahu: "Yaudah kamu aja deh, Ma. Aku emang gak jago ginian."
Bapak merasa itu pengakuan jujur atas kelemahan Bapak. Rendah hati. Bahkan mungkin lucu.
Pak, itu BUKAN kelemahan. Itu STRATEGI. Dan strategi itu punya nama di dunia psikologi: Weaponized Incompetence. Ketidakmampuan yang dijadikan senjata.