Saham minus -50% tapi susah sekali untuk cut-loss, jangan-jangan itu “rasa memiliki”.
Setiap dari kita adalah Ibrahim.
Yang Allah perintahkan bukanlah “membunuh” Ismail, melainkan
“rasa memiliki”-nya yang berlebihan. Setiap dari kita punya “Ismail-Ismail” lain yang membuat kita berat untuk melepasnya.
Barang mewah, harta, jabatan, porto.
Pada hakikatnya semua itu pemberian Allah. Semoga apa yang telah kita relakan akan digantikan dalam bentuk yang lebih baik.
Selamat Hari Raya Idul Adha!🐄🐏
gara2 overconsumption, aku ngerasa jd susaaah punya original thoughts.
semua opini & perspektifku kayaknya dibentuk oleh algoritma medsos, atau dari pendapat orang2 di sekelilingku.
sama kayak artikel Substack yang barusan kubaca ini.
... nah, kan? 🫠🫠🫠
Eileen menunjukkan apa yg tidak dimiliki murid Indonesia pada umumnya:
✨️ metacognition knowledge ✨️
Metakognisi itu kemampuan “ngeliatin isi kepala sendiri.” Gak cuma berpikir, tapi SADAR bahwa kita SEDANG BERPIKIR. Lebih jauh lagi, kita bisa mengevaluasi cara berpikir itu, apakah membantu, apakah bikin stres, apakah perlu diubah. Persis kayak Eileen yang pensive. Dia kelihatan banget kalau nyaman jadi orang yang banyak mikir. Dia nggak lihat proses refleksi itu sbg overthinking tapi malah dia jadiin tools to grow. Eileen ini bukti kalau orang hebat itu ya orang yg paham cara kerja pikirannya sendiri, gak cuma yang pintar/berbakat aja.
Murid Indonesia belum banyak yg terlatih skill metakognisinya. Kenapa? Ini menarik bangettttt.
1. Budaya belajar berorientasi jawaban
Pendidikan kita menjadikan murid terbiasa untuk fokus ngejar nilai, akhirnya selalu memikirkan 1-2 jawaban yg benar. Untuk jawab soal dengan cepat dan tepat, akhirnya juga sekadar menghafal konsep. Akibatnya, jarang dilatih bertanya:
- kenapa harus pake strategi ini?
- biar cepet paham harus ngapain?
Padahal metakognisi itu berkembang ketika proses jauh lebih dihargai dibanding hasil.
Sistem pendidikan kita gmn? Maunya ke mana? Please kami mah juga bingung, belajarnya disuruh ala finland, asesmennya ala asia.
2. Keamanan psikologis
Ini masih berkaitan dengan poin 1. Naturally, murid itu akan reflektif ketika mereka merasa aman dalam mengekspresikan pikiran. Mereka gak takut salah jawab/bertindak atau gak takut dicap bodoh. Kalau lingkungannya masih menekankan budaya malu bertanya dan takut salah, ya udah selamanya akan terjebak pada pengetahuan level prosedural aja. Keamanan psikologis berkaitan erat dengan poin berikutnya.
3. Beban kognitif dan tekanan sosial
Banyak murid menghadapi kondisi tekanan ekonomi keluarga dan lingkungan yang kurang suportif. Kondisi ini malah membuat murid dalam mode fight, energinya lebih banyak dipakai untuk mikir gimana cara bertahan hidup besok alih-alih belajar dan melakukan refleksi mendalam. Banyak kan kalian lihat di TikTok/Instagram, anak SD sepulang sekolah mulung beras di pasar, anak SMA bangun sebelum subuh karena masak risol buat dijual ke sekolah. Murid saya? Sepulang sekolah mereka ke ladang. Kalau musim panen, pasti wali kelas sering dapat izin "Assalamu'alaikum bu, besok saya izin gak masuk sekolah karena ikut panen kubis/jeruk/dll" 🥺
Kenapa ya anak kecil sampe punya beban ekonomi? Karena penghasilan ortunya gak cukup meski udah kerja siang malam. Kenapa kok bisa gitu? Emangnya gak ada lapangan pekerjaan kah?
4. Kurang contoh dan model berpikir
Metakognisi itu bisa berkembang melalui modeling. Kalau murid jarang melihat
- gurunya making thinking visible (thinking out loud)
- orang dewasa yg merefleksikan pengalaman
bisa jadi murid gak akan punya contoh bahwa proses berpikir dan merefleksi itu wajar.
Nah sekarang pertanyaannya gaji pokok guru apakah layak?
Sedikit masukan untuk gen-z & gen alpha yg punya duit terbatas untuk spending.
Dari gen-x yang kebetulan sudah hidup lebih lama dan sempat 23+ tahun terlibat mengelola investasi global ratusan miliar dollar.
Kalo lo merasa perlu beli kelas untuk meningkatkan kemampuan diri, menurut gw skill paling penting yg perlu lebih awal dikuasai tuh how to think.
Pahami mental models penting.
Contoh: first principles.
Terus aplikasikan dalam kehidupan dan karir. Salah satu gunanya agar paham memisahkan antara luck dan skill.
Dengan paham pemisahan itu dgn benar maka bisa paham (contohnya) mana aset yg rationally valuable dan mana yg sekadar becek karena narasi dari cocot influencer.
Berikutnya akan paham mana yg bisa disebut investasi dan mana yg sekedar aksi spekulatif.
Selaraskan dengan ekspektasi.
Selaraskan dengan horizon investasi.
And act accordingly.
Jangan terbalik.
Aset spekulatif dibeli dengan mindset investasi atau sebaliknya.
Kalo udah tau bedanya, ga bakalan kegocek influencer YouTube modal kemampuan videografi dan kata sumpah serapah.
@hrdbacot Org² kenapa pada mikir kalo jam kerja lama menunjukan bahwa mereka rajin 😭😭😭
Padahal mah indikasi mereka skill issue dan useless.
Pekerjaan yg harusnya bisa selesai 8jam kudu dikerjain 17jam dengan output yg sama.
Kebanyakan main kodok zuma pasti.
Kerja di tempat yang secara lingkungan udah matang, merit-based, dan punya sistem yang baik itu ya emang pasti bagus output dan outcomesnya.
Meanwhile Bank Indonesia, di negara yang everyone knows is not based on merit-system, bisa punya terobosan kayak gini.
Pertumbuhan ekonomi yg bermutu, peran negara dlm menciptakan ekosistem yg sehat, serta pentingnya meritokrasi dlm memastikan kesempatan yg adil bagi semua. Itulah yg kami diskusikan secara mendalam bareng @cania_citta & @irwndfrry.
Simak selengkapnya di: https://t.co/y7uK92LghB
3 hal yang mesti lo stop lakuin kalau mau bangkit dari kegagalan:
• Stop nyalahin keadaan atau orang lain
• Stop overthinking sampai takut take action
• Stop nyari validasi orang tiap mengambil keputusan
Kalau ingin jadi manager yang dihormati, stop main-main dan lakukan ini
• Ngasi feedback konstruktif, bukan kabur dari difficult conversation
• Investasi waktu untuk pengembangan tim, bukan cuma fokus di rutinitas
• Membangun budaya positif, bukan menoleransi perilaku toxic