@Kemasansachetan@Gabrielscrumble Kayanya mending sewa kang foto kerumah kak, biar memori fotonya ada suasana rumah dan bisa lebih lama juga durasi fotonya
Ada nasihat bagus untuk para suami. Ini rahasia, jangan bilang siapa-siapa.
Berbuat salah itu manusiawi. Tapi mbok ya salahnya yang standar saja. Misalnya, meletakkan handuk sembarangan (sambil tetap dikembalikan setelah diomeli), ambil baju jadi berantakan (jangan lupa ditata
Jadi ,sudah 1 bulan lalu anak pertamaku berpulang kpd Sang Pencipta. Krn alm suka jajan sama abang2 yg jualan lwat dpn rumah mrka yg jual tuh sampai hafal. Dari abang pentol,bapkao,roti bakar. Apa lg abg yg jual pentol juga jualan di dpan Madrasah tempat alm mengaji. Tp semenjak
alesan gak mau ngomong sama siapapun lagi soal grieving karena semua org ngasih feedback untuk jangan sedih terus… gmn loh aku gak sedih setiap hari… aku loh ditinggalin papa ku…. siapa yang mau ditinggalin selamanya…. siapa yang gak sedih ditinggalin selamanya….
SESUAI JANJIKU, "typo" spasi di nisanmu udah kuedit dan kutambahkan bunga matahari pemberian Eliz. Dia bawa empat tangkai dari Tanjung Karang. Dua di pusaramu, dua lagi dekat ayah.
Meski kutulis sendiri sebisanya, tapi setidaknya bahan kayunya sudah jauh lebih baik. Katanya sejenis kayu damar. Akan tahan ditempa panas dan hujan hingga tahun depan saat waktunya memasang nisan yang lebih permanen.
Nisan lama lalu kucuci di laut tempatmu dulu sering bermain. Tempat Emak berendam air panas belerang yang juga muncul di dekat karang itu.
Seizin Emak dan keluarga Kalianda pula, nisan "typo" ini akan kubawa pulang ke Pondokgede. Untuk pengingat agar kita perlu selalu rendah hati, sebab tak semua hal dalam hidup ini berjalan sesuai kehendak, standar, atau ego kita.
Kejadian nisan "typo" itu kata si Andre juga berkah, sebab tak semua orang berkesempatan menulis sendiri nisan untuk orang yang dicintai.
Jika tahun depan nisan baru dari kayu damar itu tahan menghadapi cuaca Gunung Rajabasa dan memang setangguh reputasinya, aku juga akan cuci di lautmu yang sama.
Btw, mewakilimu, aku tulis komen di Youtubenya Sal Priadi:
"Istri saya meninggal beberapa hari lalu. Di bulan-bulan terakhirnya, ia kerap memutar lagu ini dan membagikan ke kami semua, keluarganya. Bahkan mengajak bernyanyi bersama.
Terima kasih, Sal. Senang bisa hidup di periode sejarah manusia di mana lagu ini diciptakan dan dinyanyikan".
ternyata ya, berduka tuh ga kayak yang sering ditulis orang-orang di tulisan manapun kecuali kalo org itu ngalamin sendiri. satu jam setelah papa berpulang, hal pertama yang aku lakuin malah cuci baju dan sikat kamar mandi sambil ngeblank. beneran bingung, lemes, linglung.
Sama psikiater di Eropa dia ga dikasih obat. Dibilangnya 'you are not crazy. You just lost a child. You have all the reasons to lose your mind. It is okay, you are still grieving. We can talk out your feeling but you don't need medication for grief.'
💚 kalian percaya apa yg kalian alami skrg itu udah termasuk takdir dan rencana Allah? even good or bad, gmn ya biar aku ikhlas ngejalanin masa sulit ini?😌
Selesai sudah.
Hal yang paling melelahkan dari berduka bukanlah menangisi, melainkan menceritakan lagi dan lagi kejadian demi kejadian ketika mereka pergi, menjawab banyak pertanyaan dan dilarang untuk menangis.