Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia
Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi
Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter
Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal.
========
Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko
Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya.
Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
Barangkali butuh konteks tambahan, ini saya bahas serius... tanpa embel-embel.
Pernah dengar "Bagaimana Kurt Godel membahas Bukti Tuhan ada lewat Matematika?"
(Kalau tau, langsung di sebutkan premis-premisnya secara lengkap)
Tapi, kali ini tujuannya bukan bahas Tuhan ada atau nggak.
Saya mau mengambil Aksioma 1 saja. Tujuannya betapa pengaruh Bahasa dalam Matematika.
"If φ is a positive property and If It is necessarily true(True in a possibille worlds)that every object with property φ also has property ψ, then ψ is also positive property"
Terjemahan :
"Jika φ merupakan sifat positif dan dan jika sudah pasti benar(benar dalam semua kondisi (skenario) dunia) bahwa setiap hal yang memiliki sifat φ juga memiliki sifat ψ, maka sifat ψ juga merupakan sifat positive"
Ini salah satu cara matematika beragumen layaknya argumen manusia pada umumnya.
Iya, jadi logika matematika memiliki korelasi kuat dari pengaruh bahasa di tempat.
Pertama :
P(φ) dan φ(x) yang dimaknai dua hal berbeda.
P(φ) = sifat φ adalah sifat positif
φ(x) = x memiliki sifat φ
Kalau digabung jadi apa? Benar, P(φ(x))
Ini mirip fungsi Komposisi, menggabungkan fungsi A ke fungsi B.
P(φ(x)) memiliki makna :
x memiliki sifat φ dimana φ merupakan sifat positif(P)
Lihat seberapa besar pengaruhnya bahasa ke dalam konteks matematika. Sedangkan Matematika berpengaruh dari struktur logika bahasa pada sebuah kalimat.
Kedua. Logika Kuantor.
Kalau dalam bahasa inggris, pemakaian "Each" atau "Every" adalah untuk menyebut 'setiap' anggota tanpa terkecuali. Seperti kata "Hi, Everyone"(Hai setiap(semua) orang)
Ini juga sama..
∀x(φ(x) => ψ(x))
Artinya :
"Untuk setiap(semua) anggota x, Jika x memiliki sifat φ maka x juga memiliki sifat ψ"
Ini adalah generalisasi Kuantor, yang nantinya kita bisa sebut :
Semua x yang punya sifat φ pasti juga bersifat ψ
Kayak mendengar :
Semua orang Indonesia yang baik hati pasti juga bersifat penyabar.
Kalau dari sini, kamu bisa menyimpulkan kalau ketemu orang Indonesia yang baik hati pasti sepaket ama sifat penyabar.
Ini adalah kepastian dari logika korelasi ataupun logika sebab-akibat.
Dari maksud pertama kedua, makanya nanti nggak kaget kalau menggabungkan :
1. x memiliki sifat φ dimana φ merupakan sifat positif(P)
2. Semua x yang punya sifat φ pasti juga bersifat ψ
Kesimpulan :
x memiliki sifat ψ yang jelas positif.
Ini disingkat
P(ψ(x))
Tapi perlu diingat, status subjek x ini masih "jika"
======================================
======================================
Requested by : @sideofannora
@yourmathsphere Ah paham, jadi suhu ekstrem rendah itu kayak jalan pembuka supaya fenomena BEC bisa muncul ya. Thanks penjelasannya, my lovely dosen😋❤️
@yourmathsphere Prinsip yang sama juga penting saat menganalisis KPI lain, karena perubahan yang terlihat besar secara persentase belum tentu memberi impact paling signifikan terhadap operasional maupun cost-nya
@yourmathsphere Kalau di dunia manufaktur, perhitungan ini kepakai banget, krn evaluasi performa gak cukup lihat persentase aja. Misalnya output naik 200%, tp blm tentu kontribusinya lebih besar dibanding output yg “hanya” naik 50% dari line produksi dgn volume jauh lebih tinggi
@yourmathsphere Tapi setelah ayank jelasin tadi, jadi kepikiran juga soal logika dalam berpikir secara matematis.
Jadi aku penasaran, apakah logika menghitung dan logika matematika ini sebenarnya saling berkaitan, atau memang konsepnya berdiri sendiri sesuai konteksnya?
@yourmathsphere Aku awalnya lebih kepikiran ke logika menghitung sih😄
Gimana kita bisa tahu suatu cara hitung itu ttp valid secara logika, meskipun bentuknya berubah? Jd nggak cuma tahu trik yg bikin hitungan lebih cepat, tapi jg paham alasan di balik knp cara itu ttp menghasilkan nilai yg sama