Udah lama gak nonton film tentang anak SMA yang penulisannya sebagus ini.
NOBODY LOVES KAY terkesan segmented di opening, tapi rasa & message-nya universal banget, bahkan buat yg gak tau Mobile Legend sama sekali.
Salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Layak diramaikan!
@rosemaryngarlic@kiwa_tengen Kok bisa diaktifiin spaylaternya, emang gampang ya buat aktifin itu cuma dari modal screenshoot akunnya?
Seumur2 gak pernah aktifin paylater jadi gak gitu paham. 😅
Sungguh sebuah video sepanjang 5 menit yg amat sangat sepadan untuk ditonton. 🙂
Kami benar-benar menaruh hormat pada setiap wali murid, guru, dan/atau segenap warga sipil yang marah, melawan kubangan lumpur (sppg) atas kesewenang-wenangannya dalam membagikan embege. ✊🏻
Mengamankan stock sembako untuk mereka yang datang ke rumah, kawan-kawan mahasiswa juga keluarga yang darurat membutuhkan, ataupun Survivor yang dapat kami temui di Jalanan.
Urunan Sembako.
Senin, 2 Februari 2026.
Sabalingga,
Saling bantu, saling jaga!
Dear EO, kalo kalian dapet garapan terkait ama sesuatu yg berlisensi, pastikan produk2 yg tampil disana punya lisensi resmi. Jangan sampe kejadian launching kerjasama ama klub X, tapi bintang tamunya pake produk kawe.. gak usah maksa pake jersey kalo emang gak ada budgetnya...
Setelah menelusuri KUHP baru untuk melihat ada pasal yang bisa dipake atau ga untuk orang-orang yang melakukan pelecehan di X melalui pemberian instruksi kepada Grok, sepertinya Pasal 407 KUHP baru bisa dipake jadi dasar pelaporan
Ancaman hukuman? Maksimal 10 tahun dan denda 2 M
Stop menyalahgunakan AI. Berpikirlah lebih pintar daripada kecerdasan buatan, Tuhan beri kamu hati dan akal untuk berpikir lebih baik dan sehat daripada alat ciptaan manusia.
Berhenti mengganggu manusia lain. Tidak ada satu manusia pun yang wajar diperlakukan tidak menyenangkan, bagaimanapun caranya. Apapun gender, ras, warna kulit, agama, pekerjaan, dan berapapun usianya.
Bismillahirrahmanirrahim.
Atas pertimbangan saya dan keluarga Sabalingga malam tadi, akhirnya kami sepakat untuk urunan membelikan Bapak ini motor (tidak baru tapi yang masih layak dan lebih baik dari motor yang beliau gunakan saat ini).
Oleh karena itu, saya ingin menjual 1 karya ini untuk tambahan membelikan motor hari ini.
Bagi yang berminat mengoleksi, silakan DM saya untuk detail karya, harga, dan detail lainnya nggih.
Saling bantu, saling jaga 🙏🏼
Orang-orang yang serius nunjukin saldo tabungannya itu selain tujuannya caper ada lagi gak sih? Masa iya bikin orang jadi termotivasi.. gak mungkin kan. 🤣
Agak Laen: Menyala Pantiku! Film komedi terlucu sejauh ini!! Rapet banget titik tawanya. Di luar 4 cast Agak Laen, rispek sekali sama ka Gita Bhebhita. Sepanjang film mau adegan komedinya dipukul sendiri atau diumpan ke pemain lain sama-sama lucu. 🤣
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO