Kata-kata tak pernah bermaksud mendewa-dewakan kapasitasnya, bisa saja benar, yang bisa terbilang sekedar bahkan melampaui. Kata-kata itulah yang terkandung kata Ibu, atau sejatinya Ibu yang mengandung kata-kata itu sendiri. Kata-kata yang dilahirkannya semacam doa dan nasihat.
Kapan hari denger Mbak Rara Sekar di Space, dia pesen buat kita, kalo mau donasi buku, sumbangkanlah buku yang tepat. Buku yang emang sesuai sasaran, bukan buku yang menurut kita ngga berguna lagi di rumah dikirimkan. Mereka bukan penampungan "sampah" buku kita.
Mereka sanggup dan mampu merenovasi gedung Sarinah jadi luar biasa apik. Namun, coba lihatlah... Tulisan macam apa ini? Enggak sanggup bayar copywriter, kah? Gimana hati enggak sakit, kalau urusan literasi masih terus-menerus diabaikan dan dianggap enggak penting begini?
Ibu dikirimi duit langsung vc lagi benerin atap kamar gue, dicor tembok sama ganti asbes, dikasih liat juga buku2 di kamar udah dikemas sementara dipindah ke lantai bawah. Didepan 2 orang tukang yg lagi ngecor juga tetangga, ibu bilang dengan lancangnya “Siapa tau mau ada Istri”
Purnama malam ini menyaksikanku betapa sulitnya mengerlingkan tangis pada kegamangan nan mengiris. Dan, sialnya, desir angin mengejek deraan yang tak reda. Pada sepi-sepi sebelumnya, aku tak mengamini yang terjadi kali ini.
Hujan begini jadi nostalgia sewaktu kecil sekitar hampir umur 5 tahun. Waktu itu bangun tidur pagi pagi, di rumah sendiri ga ada bapak ibu karna pergi jualan sama kerja. Gue nangis sampai pipis di celana, dan bapak pulang entah itu udah saatnya pulang atau belum dari jualan, tapi
Nostalgia ini berhasil membuat mata berkaca-kaca dan rindu rumah, walaupun ga komunikatif juga karena gue lebih sering diam sih. Semoga sehat sehat terus ya, pak, bu.