Diogo Ramalho Gabung Green Force.
Persebaya resmi menambah kekuatan di lini tengah dengan mendatangkan Diogo Ramalho untuk menghadapi Super League 2026/27.
Gelandang box-to-box dengan daya jelajah tinggi, kuat dalam transisi permainan, serta memiliki fleksibilitas untuk bermain sebagai gelandang sentral, gelandang bertahan, maupun winger.
Sebelumnya, pemain berusia 27 tahun itu bermain di kasta tertinggi Liga Rumania dengan memperkuat FCV Farul Constanta.
Dengan kontrak multiyears, Ramalho siap menambah energi, kreativitas, dan keseimbangan di lini tengah Bajol Ijo.
Eits, iki durung terakhir yo rek. Sek onok pemain maneh sing siap dadi bagian Green Force!
Salam Satu Nyali
WANI!
#Persebaya #PersebayaUntukSemua
Yuran Fernandes Officially Green ๐
Yuran resmi menjadi bagian dari Persebaya untuk menghadapi Super League 2026/ 2027. Punya prestasi juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Yuran siap menambah kekuatan di lini pertahanan Green Force.
Yuran adalah pemain non kiper paling jangkung di liga musim lalu dengan tinggi 198 cm. Ia sukses mencetak 5 gol dan 1 Assist dari 26 kali penampilan.
Yuran teko gak dewean Rek, selanjute sopo maneh? Ssstt... pantau terus yo, Rek. ๐
#Persebaya #PersebayaUntukSemua
Generasiku lahir dari cerita kakek nenek kami, atau orang tua kami, tentang begitu digdayanya Persebaya. Lalu kami tumbuh dan merasakan sendiri, hingga generasi kami tumbuh, berjuang untuk membawa club ini kembali dan eksis di kancah sepakbola indonesia.
99 tahun perjalanan ini dibangun oleh banyak cerita.
Berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, Persebaya telah melewati berbagai zaman, menyatukan generasi demi generasi dalam satu kebanggaan yang sama.
Tentang mereka yang berjuang. Tentang mereka yang setia datang ke stadion. Tentang mereka yang mendoakan dari rumah. Tentang mereka yang menjaga nama Persebaya di mana pun berada.
Persebaya adalah milik semua.
Milik yang lahir dan tumbuh bersama. Milik yang baru jatuh cinta hari ini. Milik setiap hati yang percaya bahwa kebanggaan ini akan terus hidup dari generasi ke generasi.
Selama 99 tahun, Persebaya telah menjadi bagian dari perjalanan kita semua. Dan cerita itu akan terus berlanjut.
Persebaya untuk Semua.
#persebaya #persebayauntuksemua
Ketika laki-laki melecehkan perempuan secara verbal, akan dilihat sebagai bentuk kekerasan berbasis gender (power imbalance), ancaman, atau objektifikasi tubuh. Ini akan langsung mendapat perhatian besar dari aktivis, media, dan lembaga seperti Komnas Perempuan.
Sebaliknya, ketika perempuan melakukan hal serupa ke laki-laki (misalnya komentar vulgar tentang tubuh, rayuan paksa, atau lelucon seksual), masyarakat cenderung menganggapnya ringan, "basa-basi", atau bahkan "laki-laki harus kuat". Ini adalah contoh double standard yang masih kuat di banyak budaya, termasuk Indonesia.
Laporan dari laki-laki akan lebih jarang diproses serius oleh polisi/masyarakat, meski hukum memungkinkan. Korban laki-laki malah akan diremehkan atau ditertawakan.
Laki-laki diajarkan sejak kecil untuk "kuat", "tidak cengeng", dan "menanggung sendiri" (konsep masculine gender role stress atau discrepancy stress).
Ketika mengalami pelecehan verbal dari perempuan, banyak laki-laki merasa malu atau "tidak maskulin" jika melapor. Mengakui diri sebagai korban dianggap sebagai kelemahan yang mengancam identitas diri.
Stereotip di masyarakat memiliki kecenderungan bahwa perempuan dianggap lebih pasif, emosional, atau "lemah" sehingga pelecehan verbal dari mereka dianggap "hanya kata-kata" atau "reaksi defensif", bukan kekerasan serius.
Sementara laki-laki dianggap lebih kuat secara fisik dan emosional, pelecehan terhadap mereka dianggap "tidak mungkin menyakiti" atau bahkan "layak" jika ada alasan (misalnya, dianggap "salah sendiri").
Di dunia secara umum, norma patriarki masih kuat, tapi justru memperkuat paradoks ini. Laki-laki diharapkan dominan, sehingga menjadi korban pelecehan verbal dianggap "memalukan" dan jarang diangkat sebagai isu serius.
Persepsi masyarakat terhadap kekerasan terhadap laki-laki masih dipengaruhi stereotip maskulinitas, sehingga korban enggan bicara karena takut kehilangan citra diri atau dianggap "bukan laki-laki sejati".
Ini juga menunjukan bahwa konsep laki-laki dan perempuan setara mesti dilihat dari berbagai bidang. Di mata hukum, ekonomi, dan HAM sudah. Tapi di bidang sosial dan norma masih harus dilihat kembali.