@txtkarir - BPJS berlaku di semua rumah sakit, gaji nakes level apapun juga minimal 10 juta
- dana unemployment dan pensiun dari pemerintah
- perpustakaan bagus dan gratis di mana2, ada komputernya juga
- pembangunan merata, kota tier jakarta jadi ada banyak
- paspor kuat ala singapore
daftar mimpi basah WNI..
- gaji minimal 10 juta
- WFH 3 kali seminggu
- harga rumah 2 lantai mewah 200 jutaan
- transportasi umum lancar ada di mana2
- taman publik terawat, banyak di mana2
- harga kebutuhan pokok terjangkau
- harga tiket pesawat domestik murah
- pendidikan dan kesehatan gratis untuk anak2 sampai SMA
- ga pernah ada korupsi
apa lagi? coba tambahin..
Sepakat! Banyak hal yg terlalu dibiarkan ‘berlebihan’ di perayaan tahun ini dan itu perlu diakui. Hal tsb perlu dijadikan concern bersama, tanpa perlu mendiskriminasi Bobotoh lainnya apalagi sampe secara jamak bilang SDM rendah dan berkata rasis.
Nu baroga threads buka gera threads, beak pisan konvoy poe ieu dikritisi oleh warga Bandung itu sendiri ataupun wisatawan.
Sieun teh urang mah Allah Marah we karena segala sesuatu nu berlebihan mah hukumna teu baik.
Poe ieu konvoy ka 4x (2014, 2024, 2025 & 2026)
Tapi secara kondusifitas makin menurun, yang naik malah kejadian kejadian kriminal dan kejadian anomali lainnya.
Saatnya mawas diri kah?
Makanya ngobrol/baca soal kota dan bagaimana masyarakat menghidupi tradisinya. Belajar di almamater bagus percuma kalo cuma jadi syarat validasi di pertemuan keluarga doang mah, pinternya cuma sebatas angka, kecerdasannya remed dari TK.
Kenapa Pesib tidak pernah dipermasalahkan?
Karena Persib sudah jadi bagian dari budaya dan perkembangan kota serta mayoritas masyarakatnya.
Naik turunnya, baik buruknya, dan semua hal yang menyertainya akan selalu jadi bahasan dan bagian dari mayoritas rakyat Jawa Barat pada umumnya, serta Bandung khususnya.
Saya rasa kalo membandingkan 2 hal ini tidak apple-to-apple. Keduanya bukan sebuah hal yang sepadan dan bisa dibandingkan begitu saja.
Terus apakah orang bandung gak pusing kalo konvoi persib ini bikin macet dan sampe nutup jalan ber jam-jam? Saya yakin pasti ada yang ngerasa pusing dan bahkan capek kok. Wajar dan normal.
Tapi, balik lagi ke point awal. Persib ini sudah jadi bagian dari budaya mayoritas masyarakatnya. Jadi hal seperti ini adalah sesuatu yang pada akhirnya jbisa dipahami dan diterima oleh mayoritas masyarakat karena kedekatan emosional-nya tadi.
Yang pada akhirnya, mayortias masyrakat menjadikan Persib dan Konvoi-nya ini sebagai hiburan sekejap untuk melepas keruwetan yang dialami tiap harinya. Dan tentu saja, perihal konvoi ini adalah sesuatu yang gak akan bisa untuk dihindari. Jeung banguna mun presiden arek liwat ge, nu aya presiden-na nu nungguan 😂
Sedikit contoh 2014 pas konvoi Persib Juara, Almh nenek saya yang waktu itu umurnya 80-an juga milu surak euy Persib Juara-mah. Tante saya juga ikut neriiakin nama Ferdinand Sinaga pas bus konvoinya lewat. Kedekatan emosional ini yang saya rasa memvalidasi euphoria mayoritas masyarakat soal Persib.
Sedangkan event lari ini sifatnya komersil dan hanya menyentuh beberapa kalangan tertentu saja. Ditambah lagi, pihak EO tidak berkaca pada event-event lari yang pernah diadakan sebelumnya. Mereka kembali gagal buat paham kondisi masyarakat-nya seperti apa.
Gausah jauh-jauh ke event lari deh, tuh... kirab budaya-nya KDM juga banyak yang ngeluh gegara jalan-nya ditutup 😂 tapi kalo hubungannya sama Persib ya lain cerita. Mayoritas masyarakat dari berbagai kalangan ya ikut terjun beruphoria.
Balik lagi soal lari, untuk Rute-nya juga dari yang saya liat nutup akses ke pasar Ciroyom, pasar Andir yang mana jadi tujuan banyak pedagang. (nuhun rudet) 😅😂
You bayangin, ini kota tiap harinya itu traffic udah ruwet. Pas weekend apalagi. Jalur-jalur yang "utama" juga banyak yang 1 arah. Jadi kalo misal 1 jalur ditutup ya harus muter lewat jalur lain yang searah juga, dan bahkan kadang jalurnya lebih kecil dari yang seharusnya.
Nah you bayangin dah itu kendaraan numpuknya kek mana. Ini juga belom ngomongin soal penerangan jalan yang... POOOEEEEKKK ANYEEENNGG!!
Untuk sebuah ibukota provinsi, ini kota tuh sekarang Banyak Kurengnya. Padahal Gubernur-nya juga ngantor sering di situ.
Bandung sekarang tuh semacet itu. Macet banget.
Kemacetan Bandung tuh udah jadi salah satu yang terparah dan bahkan ngimbangin Jakarta. Ditambah kurangnya Transum yang bisa setidaknya mengurai masalah tersebut, bikin kondisinya makin gak kekontrol.
Perdebatan soal event lari ini dan perbandingannya dengan Konvoi Persib saya rasa akan jadi diskursus yang gak habis-habis selama tidak ada keseriusan dan evaluasi menyeluruh dari pihak EO sebagai penyelenggara, dan pemkot sebagai Pemberi Izin.
Gini, dari 2 hal tadi. Saya tidak membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lain. Karena pada akhirnya, semua kembali lagi ke bagaimana Pemda dan pihak keamanan bisa memitigasi dan meminimalisir keluhan yang ada.
Pertama, event lari ini akan minim "gesekan" kalo pihak penyelenggara mau evaluasi dan memikirkan rekayasa pengalihan jalur yang sekiranya digunakan oleh event tersebut.
Jadi sinergitas antara EO dan Pemda ini sebenernya jadi kunci untuk sebuat event Sport Tourism bisa berjalan dengan baik. Untuk kota sekaliber Bandung, sangat disayangkan kalo pada akhirnya terlewatkan untuk event-event besar yang bisa menguntungkan bagi kota dan masayarakatnya.
Kedua, pihak pemda serta keamanan juga harus lebih paham dengan kondisi yang terjadi di daerahnya. Kayanya kalo 2 institusi tersebut bener kerjanya, masyarakat-pun gak akan jadi "Tegang" sebegitunya.
And again... semuanya kembali pada satu kalimat "Everything is political"
Sangat disayangkan event yang seharusnya menguntungkan bagi sebuah kota malah kembali jadi ajang konflik bagi Pelari dan Masyarakat-nya.