Saking seringnya hidup dalam kondisi 'survival mode' skrg jadi susah banget buat hidup 'rileks'😭😭 kek harus banget tiap hari overthinking yg enggak2😭 capeeee bangetttt
Baru kali ini gue nemu orang yg kemana2 sering naik mobil, pake iphone boba dan bikin story bangga banget bisa dapet BANSOSSSSS mana bepeje-esnya juga PBI pulakk😭😭😭😭😭😭 gk tau deh nalarnya dimana. Gak masuk di otak gue.
Berkali2 gue apply kerjaan di LN tapi giliran waktunya interview gue malah kabur2an🙏😭😭 pdhl belom tentu nyangkut juga🤣 gimana dah caranya mengumpulkan 'keberanian' buat beneran minggat dari negeri para bedebah inihh😭😭
Nguapaen ini ibunya suami ngirim2in brosur kpr rumah mana lokasinya di tempat tinggal dia, kek siapa jg yg mau tinggal se-kota ama dia😭 mana nyuruh2 beli sendiri, beliin juga kagak. Kek duitnya anaknya banyak aja😭🤣
Gue skrg juga udah kagak mau ngasih "career advice" ke doi. Buodo amat dah lu mau ngapain, mau kek gimana ke depannya. Skip ngatur2 'cowo bingung'🤣 mending gue alihkan energi gue buat diri gue sendiri🐣
Ultah suami kali ini gue memilih utk 'do nothing' mirroring kemaren ultah gue doi ngado aja kagak, mana romantic dinner, tart bahkan bucket bunga aja gue yg arrange sendiri bjirrr😭😭😭😭 klo ada yg mikir suami gue romantis rasanya kek pengen nelen ludah aja🤣🤣
Pilihan dokternya juga buanyak, lu mau ke drg umum bisa, ke spesialis ortodonti ada, konservasi gigi ada, https://t.co/HTDP1iG2ET ada, Sp.Perio-Sp.Pros-Sp.KGA pun adaaa😭😭
Hadeh ribet banget klinik gigi satu ini. Sejauh ini service yg paling mantep tetep klinik tempat gue pasang behel. Admin fast response, price list bener2 transparan, dateng sesuai jam reservasi gk perlu antri2, pokoknya managementnya gue acungin jempolll dahhh
@captainjyeon Ini kaa stepnyaa.. gampang banget kok. Klo mau cairin ke rupiah bisa lewat m-banking, klo mau cairin dlm bentuk tunai sesuai mata uang asing yg dipilih bisa langsung dateng ke kantor cabang terdekat
Gw baru tau tabungan valas usd mandiri gratis biaya admin bulanan jirrrr😭 knp ga dr kemaren wa bukanyaa malah buka skrg pas uda naek😭 better late than never🥹🤏🏻
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media.
Letkol Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet.
Bukan menteri.
Bukan jenderal bintang empat.
Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas.
Apa yang terjadi di bencana Sumatra
dan di mana Teddy masuk:
Akhir November 2025.
Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
BMKG sudah memberikan peringatan
delapan hari sebelumnya.
Tidak ada rapat darurat.
Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat.
Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa.
Rapat soal koperasi.
Ketemu Menteri Kelautan.
Menerima Ratu Belanda.
Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar.
Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang.
Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh.
Lebih dari tiga minggu di lapangan.
Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan.
Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat.
Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi.
Rina melakukan siaran langsung.
Dia tumpahkan semua yang dia lihat.
Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet
menonton siaran itu dari Jakarta.
Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk.
Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti.
Bukan insiden tunggal ini pola:
Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa.
Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon.
"Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya."
"Tapi memang belum ada bantuan.
Faktanya begitu."
"Cerita soal dampaknya aja.
Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk."
Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja."
"Maksa banget," kata Indira.
Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar:
Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman.
Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Yang ada adalah telepon.
Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu.
Tidak perlu SK.
Tidak perlu aturan resmi.
Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan Teddy?
Persis sama.
Menelepon pemilik media.
Mengamuk.
Meminta pemred diganti.
Tanpa surat resmi.
Tanpa proses hukum.
Cukup satu telepon.
Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain:
Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo.
Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda.
Lebih profesional.
Lebih terukur.
Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif,
bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana.
Bukan mengontrol berita palsu.
Bukan melawan disinformasi.
Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang.
Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli:
Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab.
Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada bantahan.
Hanya diam.
Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan.
Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar.
Dan sistem seperti itu pernah kita kenal.
Namanya Orde Baru.
Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.