@Jakartalk Bisa bangun berapa ribu sekolah, rumah sakit, atau bantu petani nelayan yang lagi susah? Tapi ya gitu lah, lebih penting bikin istana di Kalimantan biar namanya abadi. Rakyat cuma bisa nangis liat duit pajaknya dibakar gini
Investor China: 'Pak, kami capek disuruh bayar pelicin mulu, aturan berubah tiap minggu, denda rekor 180 juta USD.' Pemerintah: 'Lah kok pada ngeluh, padahal kami lagi sibuk bikin program makan siang gratis 'Bro, ekonomi 8% mah mimpi. Yang ada investor kabur ke Vietnam, kita yang kena PHK massal.
Wahh baca ini dada gue ikut sesak
Bapaknya pasti capek banget ngusahain dari kecil sampe S1 cumlaude. Tapi anaknya juga lagi bahagia banget dapet jodoh & langsung dikaruniai anak. Kadang orang tua lupa, anak itu bukan investasi balik modal. Anak itu amanah.
Semoga bapaknya diberi kelapangan hati ya, dan kamu tetap sabar. Doa orang tua itu kuat, tapi doa anak yang lagi bahagia juga nggak kalah kuat.
Dollar di angka 17.300.
Sekilas cuma angka.
Tapi kalau dipikir-pikir… ini bukan sekadar kurs.
Ini cerita tentang hidup kita sehari-hari.
Coba jujur deh,
akhir-akhir ini kamu ngerasa gak?
Uang kayak lebih cepat habis.
Padahal gaya hidup sama.
Kerja masih itu-itu aja.
Gaji juga… ya segitu.
Tapi kenapa rasanya makin sempit?
Nah, di sinilah peran “angka 17 ribu” itu.
Gini sederhananya.
Indonesia itu masih banyak “bergantung” sama luar negeri.
Mulai dari BBM, bahan baku industri, sampai barang elektronik.
Dan hampir semuanya…
dibayar pakai dolar.
Jadi waktu dolar naik,
artinya kita harus bayar lebih mahal untuk hal yang sama.
Ibaratnya gini:
Dulu kamu beli sesuatu pakai Rp15 ribu.
Sekarang, barang yang sama…
butuh Rp17 ribu.
Barangnya gak berubah.
Tapi “harga aksesnya” naik.
Masalahnya, efek ini gak langsung kelihatan.
Dia pelan-pelan.
Diam-diam.
Tapi pasti.
Contohnya?
Harga makanan naik sedikit.
Ongkir naik.
Tarif listrik bisa ikut terdorong.
Harga barang impor naik.
Kelihatannya kecil.
Tapi kalau dikumpulin?
Lumayan bikin napas pendek.
Dan yang paling “nyesek” itu bukan kenaikan harga.
Tapi…
gaji yang gak ikut naik.
Ini realita yang banyak orang rasain.
Kita kerja keras.
Bangun pagi.
Pulang sore.
Tapi daya beli kita…
pelan-pelan turun.
Aneh gak sih?
Kita gak jadi lebih malas.
Tapi kok hidup terasa makin berat?
Secara ekonomi, ini disebut “penurunan daya beli”.
Artinya:
uang kamu nilainya turun.
Bukan jumlahnya.
Tapi “kekuatan belinya”.
Dan ini sering gak disadari.
Karena kita masih pegang angka yang sama di rekening.
Tapi yang bisa dibeli…
makin sedikit.
Terus penyebabnya apa?
Banyak.
Salah satunya,
karena dolar lagi kuat.
Kenapa dolar bisa kuat?
Karena secara global,
investor lebih percaya simpan uang di sana.
Bisa karena suku bunga tinggi.
Bisa karena kondisi dunia lagi gak pasti.
Jadi uang dari berbagai negara…
“lari” ke dolar.
Dan ketika banyak orang butuh dolar,
nilainya naik.
Sementara rupiah?
Tertekan.
Tapi ini bukan cuma soal luar negeri.
Dari dalam negeri juga ada faktor.
Kita masih banyak impor.
Artinya kita butuh dolar terus.
Sementara ekspor kita belum cukup kuat untuk “menyeimbangkan”.
Jadi permintaan dolar tinggi.
Penawarannya terbatas.
Hasilnya?
Rupiah melemah.
Sekarang pertanyaannya:
Apa dampaknya buat kita?
Jawaban jujurnya:
banyak.
1. Harga barang naik (terutama yang ada unsur impor)
2. Biaya produksi naik → harga jual ikut naik
3. Daya beli turun
4. Tabungan terasa “menyusut nilainya”
Dan ini bukan teori.
Ini yang lagi kejadian.
Tapi di sisi lain,
gak semuanya negatif.
Ada juga yang diuntungkan.
Misalnya:
- Eksportir (karena dapat dolar)
- Freelancer yang dibayar USD
- Bisnis yang targetnya luar negeri
Buat mereka,
rupiah lemah justru jadi peluang.
Nah, di sinilah mulai kelihatan satu hal penting:
Di kondisi yang sama,
hasilnya bisa beda-beda.
Ada yang tertekan.
Ada yang justru naik.
Bedanya di mana?
Bukan di kerja kerasnya.
Tapi di “posisi” mereka di sistem ekonomi.
Makanya,
ini bukan cuma soal kurs.
Ini soal:
kita ada di sisi mana.
Kita cuma jadi “pengguna” yang terdampak?
Atau mulai jadi “pemain” yang ikut dapat manfaat?
Mungkin kita gak bisa kontrol dolar.
Kita gak bisa atur kebijakan global.
Kita gak bisa hentikan inflasi.
Tapi…
Kita masih bisa kontrol keputusan kita sendiri.
—
Di kondisi kayak gini,
ada beberapa hal yang mulai jadi relevan:
Mulai sadar mana kebutuhan, mana keinginan.
Mulai mikir:
apakah penghasilan kita cukup tahan terhadap perubahan ekonomi?
Mulai cari cara:
gimana caranya punya income yang gak cuma bergantung pada rupiah?
Bukan berarti harus langsung besar.
Tapi minimal…
punya “opsi”.
Karena kalau semua bergantung pada satu sumber,
dan sumber itu tertekan…
ya kita ikut tertekan.
Dan ini mungkin bagian yang paling penting.
Banyak orang mikir:
“Ah ini urusan pemerintah.”
Padahal kenyataannya,
efeknya paling terasa justru di level kita.
Di dapur.
Di dompet.
Di keputusan kecil sehari-hari.
@miillkttaee Baru liat ini langsung auto save tiket 18 Mei 1,7jt include bagasi ke Incheon? Ini beneran real atau aku lagi mimpi? Siapa yang udah coba T'way Air? Reviewnya gimana soal seat, makanan, sama on time-nya? Kasih tau dong biar ga takut2in sendiri wkwk
@txtdrbekasi Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
16 jiwa sudah… padahal Bekasi tiap hari penuh orang yang cuma mau pulang kerja. Ya Allah, kasih kekuatan buat keluarga yang ditinggal, dan kasih kesembuhan buat yang masih kritis.
Semoga ini jadi yang terakhir ya
Dikit lagi nih tembus target verified followers! 🔥 Yuk kaum cenblu merapat, kita mutualan. Langsung follow atau drop jejak di reply aja, auto follback secepat kilat! Saling bantu engagement bareng-bareng
Parah sih ini. Dipijit kok malah nambah beban pikiran. Niatnya badan yang pegel, eh malah hati yang pegel denger cerita anaknya yang direndahin ipar Terus minta lowongan pula. Ibu-ibu ini kreatif banget nyari kesempatan. Gue saranin besok pas dipijit pake earphone aja, pasang lagu relaksasi volume kenceng. Biar dia yapping tapi lo ga denger. Problem solved.
Aku yang tiap hari naik KRL Bekasi langsung merinding liat videonya.
Bayangin lagi capek pulang kerja, tiba-tiba ada taksi mogok di tengah rel. KRL berhenti, terus ditabrak kereta cepat dari belakang. Gerbong perempuan pula...
Husnul khotimah buat yang meninggal, kesembuhan buat yang luka, dan ketabahan buat keluarganya. Ya Allah lindungi kami yang masih sering lewat jalur ini.
Foto ini bikin darah naik. Mobil mogok di rel, banyak nyawa melayang, tapi dia masih santai ngerokok kayak ga ada apa-apa
Bukan cuma sopirnya, perusahaan taksi hijaunya juga harus tanggung jawab. SOP derek cuma dari perusahaan sendiri? Gila.
Semoga korban selamat, dan pelaku + pihak terkait diusut tuntas. Jangan sampai kejadian gini terulang lagi.
Subhanallah... penjelasan ini bikin jelas banget kenapa bisa terjadi.
Argo Bromo Anggrek emang kenceng banget, tapi sinyal cuma 1 km jaraknya. Pas udah kuning langsung ngerem, tapi karena speed tinggi, masih lolos ke sinyal merah berikutnya
Innalillahi... semoga korban selamat semua, dan KAI segera perbaiki sistem sinyal + jaga jarak aman di jalur padat kayak gini. Kita butuh kereta cepat, tapi safety nomor 1 ya.
Aku yang biasa diledekin temen 'norak pake lanyard pulang kerja' langsung diem baca ini
Padahal ini penting banget. Pulang capek-capek, tapi masih ada tanda kalau terjadi apa-apa.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Husnul khotimah kak, semoga amal ibadahnya diterima dan keluarga kuat.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
Baca pengumuman ini sambil bayangin gerbong KRL yang biasanya penuh ibu-ibu pulang kerja malam, capek tapi semangat... tiba-tiba jadi musibah. Sedih banget. Terima kasih sudah tangani korban dan keluarga, tapi tolong jangan berhenti di situ. Evaluasi total ya, biar nggak ada lagi yang kehilangan nyawa cuma gara-gara pulang kerja. Semangat buat tim KAI di lapangan.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
14 nyawa melayang hanya dalam sekejap... Sedih banget bayangin orang-orang yang lagi buru-buru pulang kerja atau mau liburan, eh malah jadi korban. @KAI121@CommuterLine
tolong dong evaluasi total sistem sinyal, pengawasan, dan keselamatan. Ini bukan pertama kalinya, jangan sampai terulang lagi. Doa terbaik buat para korban dan keluarga yang ditinggalkan ya, semoga diberi ketabahan.
@estehbangchan Kak Riss, aku ikut sedih banget baca ini
Tas adiknya ketemu lengkap, itu pertanda baik kok. Semoga Gita lagi dalam lindungan Allah dan segera ketemu keluarga.
Aamiin ya Allah. Tolong bantu RT & share foto wajahnya ya guys, siapa tau ada yang pernah liat atau tahu kabarnya.
Baru baca ini langsung nyesek banget di dada
Gimana enggak, baru balik kerja setelah cuti melahirkan, pasti lagi semangat-semangatnya mau kasih nafkah buat anak. Pulang kerja malah pulang ke pangkuan-Nya.
Ya Tuhan, kasih kekuatan buat keluarga yang ditinggal... semoga tetenya husnul khotimah dan tenang di sana
@tempodotco 80% karyawan PHK dalam sekejap
Bukan salah mereka, tapi perusahaan yang rusak lingkungan dan akhirnya kena batas.
Semoga pemerintah kasih pesangon layak + program re-skilling cepat. Ribuan keluarga di Sumut bakal terdampak berat. Ini peringatan buat yang lain juga.
@SosmedAnu MasyaAllah tetangga langka banget ini
Bayar hutang 300rb jaman 90an sampe disesuain sama gaji sekarang 6jt. Bener-bener punya malu dan tanggung jawab.
Di zaman sekarang yang utang 2jt aja ilang ga berbekas, ini malah kebalikannya.