Sedikit advice untuk tim kabinet dan pejabat:
Tolong jika lain kali ketika ada video kritik yg viral, jangan buru2 direspons.
Bedah per menit, respons dengan data.
Hindari bahasan personal.
Menggeser kritikan ke arah personal, itu menghilangkan inti dari video balasan.
Pernyataan dr Tifa
Bismillahirrahmanirrahiim.
Beberapa hari ini saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan.
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah: sholat, tadarus, membaca kitab-kitab hikmah, dan lebih banyak berdiam di rumah.
Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang.
Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut.
Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan InsyaAllah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat.
Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S2 dan S3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun.
Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian.
Karena saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan bernyali, serta cermat dalam analisis.
Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: "Why, Mon, kenapa kau musti palsuin ijazah, sih?")
Langkah yang Rismon ambil saat ini, setidaknya dalam penilaian saya, terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya kita tunjukkan.
Saking liar dan mandirinya, kadang saya dan mas Roy suka kewalahan dan geleng-geleng kepala melihat segala manuvernya sambil berkata: " Piye to adikmu kuwi?*
"Lha embuh!* Jawab saya.
Setahun ini kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Seia sekata dan senasib sepenanggungan.
Hanya kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat.
Namun kekecewaan terbesar saya justru bukan kepada Rismon.
Kekecewaan terbesar saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya.
Demi menepis tuduhan tentang ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas.
Hal yang sama pernah menimpa Bambang Tri. Juga Gus Nur.
Dan kini sejarah itu seperti berulang.
Pada Rismon, dibuat hancur harga diri melata begitu rendah tak berdaya.
Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat. Bukan alat untuk membungkam mereka yang bersuara.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: kekuasaan yang digunakan untuk membungkam kebenaran pada akhirnya justru memperbesar gema kebenaran itu sendiri.
Namun saya tidak ingin larut dalam kemarahan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjaga hati tetap jernih, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Mengetahui.
Saya memilih jalan yang berbeda.
Dengan dukungan banyak orang, dan dengan sepenuhnya berserah kepada Allah, saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini.
Perjuangan untuk kebenaran memang sering kali sunyi.
Kadang juga menyakitkan.
Tetapi kebenaran memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh kekuasaan:
ia tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.
Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup.
Dan saya memilih untuk tetap berdiri.
Salam,
Tifa
Opini dr Tifa
Banjir Aceh & Sumatera:
Perspektif Kesehatan Masyarakat
Bismillahirrahmanirrahiim
1.
Banjir ini bukan hanya persoalan curah hujan ekstrem. Dari perspektif epidemiologi perilaku, ini adalah kombinasi kerusakan ekologi, tata ruang yang lemah, dan kesiapsiagaan masyarakat yang belum terbangun. Yang terdampak bukan cuma rumah, retapi rasa aman, identitas, dan harapan.
2.
Perubahan tutupan lahan (hutan → sawit), pemukiman di zona rawan, lemahnya sistem peringatan dini, dan respons yang lebih reaktif dari preventif adalah faktor berulang. Air tidak datang “tiba-tiba”. Yang tiba-tiba adalah kesadaran kita.
3.
Risiko kesehatan tidak selesai ketika air surut. Justru saat itu penyakit mulai meningkat: diare, infeksi kulit, leptospirosis, infeksi saluran napas–ditambah trauma psikologis yang kerap tak terlihat, terutama pada anak-anak.
4.
Solusi harus multi-level: pemerintah memperkuat early warning system, audit tata ruang, dan memastikan konsesi lahan tidak merusak daya serap alam. Ini bukan soal teknis semata, tapi soal keberpihakan pada keselamatan warga.
5.
Komunitas bisa membangun peta risiko lokal, jalur evakuasi, dan simulasi kebencanaan rutin seperti Jepang lakukan. Sekolah juga bisa menjadi pusat literasi mitigasi, bukan sekadar tempat distribusi bantuan.
6.
Layanan kesehatan harus fokus pada dua hal: penyakit pasca-banjir dan kesehatan mental korban.
Trauma yang tidak dirawat berubah menjadi luka sosial jangka panjang.
7.
Bencana tidak boleh dinormalisasi. Kalimat “memang tiap tahun begini” adalah tanda bahaya bahwa kita mulai menerima sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah. Kita bisa memilih jalan berbeda: dari menjadi korban, menjadi masyarakat yang siap, sadar risiko, dan lebih kuat menghadapi yang akan datang.
Solidaritas itu perlu.
Tapi kesadaran, itu yang mengubah masa depan.
Jika tulisan ini bermanfaat, silakan share.
Kesadaran publik adalah bagian dari mitigasi.
Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nashiir.
Laa hawla wala quwwata ilabillahil 'alliyil adziim.
Salam Takzim
dr. Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Pertanyaan dr Tifa kepada Negara
Bencana Sumatera & Negara Bangkrut?”
Bismillahirrahmanirrahiim
Saya ingin bertanya, adakah satu kebenaran pahit yang tidak berani diucapkan pemerintah, tetapi rakyat sudah merasakannya dengan naluri mereka sendiri:
Apakah bencana besar di Sumatera tidak bisa diantisipasi bukan karena cuacanya ekstrem, tetapi karena uang negara sudah habis?
Karena,
Ketika sungai meluap, ketika tambang ilegal menggerus hutan, ketika proyek-proyek mercusuar menenggelamkan anggaran publik, rakyat dibiarkan menghadapi air bah sendirian.
Apakah
Pemerintah tidak hadir bukan karena tidak tahu, tetapi Pemerintah tidak hadir karena tidak mampu?
Apakah sesungguhnya,
APBN sudah kering.
Defisit makin lmelebar.
Utang untuk bayar utang.
Transfer daerah dipotong.
Belanja publik dikerdilkan demi proyek-proyek yang menguntungkan segelintir elite, terutama 10 tahun terakhir.
Dan ketika Sumatera runtuh oleh banjir, longsor, dan runtuhan ekologis bertahun-tahun, negara hanya bisa mengirim kalimat template:
“Kami sedang memantau situasi. Kami sedang mengkalkulasi”
Mengapa?
Karena yang seharusnya menjadi anggaran mitigasi, pencegahan, rehabilitasi, dan perlindungan rakyat, sudah disedot habis 10 tahun ini:
Proyek IKN,
Proyek Whoosh, alias kereta tanpa penumpang,
Konsesi tambang untuk kroni dan oligarki,
belanja politik dinasti,
subsidi pencitraan,
dan jaringan korupsi yang merayap seperti kanker yang menghabisi tubuh negara.
Maka terjadilah tragedi:
bencana alam berubah menjadi bencana kebijakan.
Sungai yang meluap adalah geologi.
Tetapi negara yang membisu adalah politik.
Dan di balik semua itu, ada satu fakta keras:
Indonesia 10 tahun ini dikelola seperti keluarga yang memaksakan gaya hidup mewah padahal tabungan sudah nol dan kartu kredit sudah over limit.
Itulah mengapa negara panik menghadapi bencana.
Bukan karena hujan.
Tetapi karena uangnya sudah habis.
Ketika uang hilang, kemampuan negara runtuh.
Ketika kemampuan runtuh, rakyat dikorbankan.
Sumatera tidak menjadi porak poranda dalam semalam. Bukan karena iklim, badai siklon, dan segudang kambing hitam alam.
Sesungguhnya,
Sumatera terutama 10 tahun ini, dihancurkan oleh:
Konsesi tambang yang diberikan tanpa kendali,
Hutan yang ditebang dengan nafsu tanpa batas,
Kawasan resapan yang dijual ke korporasi,
Dan pemerintah yang sibuk mengurus agenda politiknya sendiri.
Hari ini, alam memberikan tagihannya.
Dan negara tidak punya uang untuk membayar.
Maka jangan heran jika bencana Sumatera terasa seperti bangsa ditinggalkan.
Karena memang rakyat sedang ditinggalkan oleh negara yang bangkrut tetapi pura-pura kuat?
Hasbunallah wani'mal wakil. Ni'mal maula wani'mannashiir.
La haula wala quwwata ila billah.
aceh tamiang, pangkalan susu:
mayat dikumpulkan satu truk dan tidak sempat terdata lagi, maka langsung dikebumikan (tanom/tanam) oleh penduduk yg ada, cukup sedih, hujan masih gerimis, ini lebih parah dari tsunami kami teringat tsunami.
Siapa sih yang kelas 2 SMA kena narkoba kemudian dilarikan ke Singapore untuk rehab terus pulang-pulang ngaku kuliah?
Ayo badan intelijen netizen, tunjukkan kecerdasan kalian.
Kita bongkar!