Daripada memproblematisir “lebih mudah membicarakan polemik”, mungkin akan lebih strategis utk memeriksa lebih dulu kontradiksi-kontradiksi internal skena seni rupa yg bikin pameran atau diskusi seni cenderung sepi.
liat dari impactnya aja. karya-karya yang dipajang lebih menguntungkan si sponsor. 1. untuk cuci tangan dari tuduhan otoriter
2. untuk mendisiplinkan protes (protes boleh di ruang² yang kami izinkan)
apa impact pada publik yang diharapkan dari karya yang masih dipajang?
Persoalan2 struktural di Jogja mulai diutarakan dg terbuka di ruang2 publik oleh…. coba oleh siapa? Ya betul: cah2 suporter.
“King” mulai muncul di tembok2 kota, dg grafiti sik kualitase sak onono lan sak kenone. Bebas seko uborampe Danais soale cah2 iki.
Yang jualan "Pancasila Pemersatu Bangsa" pasti sedang mengalami DELUSI parah. Dalam hidup sehari-hari, Pancasila digunakan oleh Pemerintah, TNI, Polisi, DPR, Parpol, untuk memperkaya diri, merusak alam, dan menindas rakyat yang sudah tertindas.
Fotonya kurang pas sih, kalo buatnya pake AI bisa aja kok pake background Prabowo Gibran digantung terbalik di patung pancoran, meromantisasi kemenangan lama tidak membuat kita mencetak sejarah kemenangan baru soalnya. 👍
"Leftist" kebarat-baratan yang aslinya memiliki pandangan yang far-right. Kripto-fasis yang menggunakan image Tan Malaka tapi gak memahami Marxisme atau berusaha memahami apa yang Tan Malaka bahkan tuliskan.
🚨 Mikel Arteta: “Sometimes I've been crictical with the referees or doubting consistency. Today they took a brave decision”.
“When you look at it with clarity it's very clear that is a FOUL and a right decision. So, thank you.”.