respect setinggi tinggi nya untuk para mahasiswa dan masyarakat yg turun ke jalan, ga lupa untuk semua mutual or non mutual ku yg mau bersuara. terimakasih banyak sudah mau meluangkan waktu untuk posting, like maupun retweet mengenai keadaan negara yg sebenarnya.
tolong terus bersuara, mau sekecil apapun akun kalian, sedikit apapun audiens kalian, ga ada yg percuma. 1 suara, 1 postingan dari kalian sangat berharga. selama internet ga diputus, media sosial belum di blokir, media lokal masih terus bungkam, terus sampaikan aspirasi ya. panjang umur perjuangan ✊🏻
#demo #MenujuIndonesiaBangkrut
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter
Yang lucu justru narasi “Anies menang karena politik identitas” selalu diulang terus, seolah jutaan warga Jakarta nggak punya kemampuan berpikir selain soal agama.
Kalau memang semata-mata politik identitas, kenapa setelah jadi gubernur Anies tetap mendapat tingkat kepuasan tinggi dari banyak survei lintas kelompok? Kenapa banyak non-Muslim juga memilihnya di 2024?
Pilgub DKI 2017 memang panas, tapi menyederhanakan semuanya jadi “Anies jual agama” itu terlalu malas secara analisis. Faktor reklamasi, penggusuran, komunikasi Ahok, ketimpangan sosial, sampai mesin politik juga besar pengaruhnya.
Dan lucunya lagi, politik identitas itu dipakai hampir semua kubu di Indonesia. Nasionalis, agama, suku, wong cilik, anak muda, semua memainkan identitas masing-masing saat pemilu. Tapi kenapa label itu ditempel permanen hanya ke satu orang?
Kalau mau fair, kritik semua praktik politik identitas. Jangan hanya menjadikannya senjata untuk mendeligitimasi pilihan politik orang lain.