Nggak. MBG sama Kopdes bukan yang bikin rupiah ambruk secara langsung. Tapi dua program ini turut bikin keuangan negara makin kepepet, dan itu berefek ke rupiah. Prosesnya gini: kalau pengeluaran negara jauh lebih gede dari pemasukannya, pemerintah harus ngutang lebih banyak lewat surat berharga. Investor asing yang pegang surat itu mulai ragu, karena makin gede defisitnya, makin mereka khawatir negara susah bayar utang. Makanya mereka jual, tukar ke dolar, cabut. Permintaan rupiah turun, dolar naik.
Mereka kan pantau terus berita kita, defisit APBN per April 2026 udah tembus Rp164,4 triliun, jauh lebih parah dibanding April tahun lalu yang cuma Rp4,3 triliun. Belum lagi dokumen APBN final 2026 tegas bahwa hampir sepertiga anggaran pendidikan, tepatnya Rp223,5 triliun dari total Rp769 triliun, digeser buat MBG.
Yang pasti bikin mereka tambah heran, tentang Kopdes. 80 ribu koperasi desa dikasih pinjaman dari bank BUMN buat modal usaha. Normalnya kan koperasi yang nyicil utang itu tiap bulan. Tapi di aturan terbaru, yang bayar cicilan pokok plus bunganya adalah negara, bukan koperasinya. Jadi koperasinya minjem, tapi yang nanggung utangnya APBN. Koperasinya rugi atau males pun, utangnya tetap kebayar. Beban itu nempel tiap bulan, dari 80 ribu koperasi sekaligus. Apa ga geleng-geleng kepala itu investor dan ekonom global.
Pemerintah udah gerak sih, hanya dinamikanya tetap belum meyakinkan (bahkan lucu). Purbaya udah bilang bakal motong anggaran MBG, ga sampe seminggu dibantah sama BGN. BI juga udah naikin suku bunga, rupiah tetap tembus 17.845. Tapi tetap gw apresiasi 2 upaya itu, khususnya MBG kalau bisa diturunkan lagi dananya, atau kalau tidak mau, fokus arahkan ke sekolah-sekolah di pelosok yang muridnya benar-benar membutuhkan.
Terus apa yang selanjutnya pemerintah harus lakukan?
Menurut keyakinan saya ada tiga hal.
Pertama soal defisit. Yang perlu dilakukan: tunda ekspansi Kopdes ke daerah yang belum siap, daripada maksa jalan tapi malah nambahin defisit baru. Yang lebih penting, buktiin ke pasar bahwa defisit nggak akan jebol 3% sampai akhir tahun. Investor nggak butuh janji, mereka butuh lihat konsistensinya.
Kedua soal cadangan devisa. Per April kata BI, cadangan devisa kita tinggal $146,2 miliar, turun dari $156,5 miliar di awal tahun. Artinya dalam 4 bulan BI udah habiskan $10 miliar buat jual dolar langsung di pasar supaya rupiah nggak makin nyungsep. Masih ada lumayan banyak sih, tapi kalau terus dikuras dengan laju segini, ruang geraknya makin sempit. Yang harusnya dilakukan bukan cuma jual dolar terus, tapi genjot dolar masuk: tarik investasi asing langsung. Dan ini butuh lebih dari sekadar Prabowo keliling dunia.
Kalau kita lihat, dalam 18 bulan Prabowo udah 49 kali keluar negeri, hampir setara 4 bulan penuh hari kerja, dan selalu pulang bawa "komitmen investasi" triliunan. Tapi investor terbesar Indonesia sampai sekarang tetap Singapura, Hong Kong, China, bukan negara-negara yang dikunjungi. Komitmen bukan realisasi. Yang bikin investor beneran masuk adalah kepastian hukum, kemudahan izin usaha, dan konsistensi kebijakan, bukan foto bareng pemimpin dunia.
Ketiga, dan ini yang paling kontroversial, tentang gimana caranya mendorong jumlah ekspor kita. Mulai 1 Juni 2026 eksportir CPO dan batu bara wajib simpen 100% devisa hasil ekspornya di bank BUMN selama 12 bulan. Ekspor komoditasnya juga mulai masuk masa transisi lewat BUMN baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Untuk saat ini eksportir masih boleh pakai mitra/sistem lama sih, tapi dokumentasinya sudah harus lewat DSI. Baru mulai 1 Januari 2027 nanti seluruh transaksi ekspor sepenuhnya diambil alih DSI, sebagai eksportir tunggal batu bara, sawit, dan ferro alloy.
Tujuannya mulia: supaya dolar dari ekspor nggak kabur ke luar dan kebocoran devisa lewat transfer pricing bisa ditekan. Tapi gw tetap khawatir melihat proses eksekusi dan kecepatannya. DSI dibentuk dalam 3 hari: akta notaris 18 Mei, SK Kemenkumham 19 Mei, diumumkan Presiden 20 Mei, tanpa satu pun rapat publik, tanpa DPR, tanpa asosiasi pengusaha. Lalu sekarang satu entitas ini pegang seluruh hak jual komoditas strategis Indonesia ke luar negeri, tanpa audit independen, tanpa mekanisme pengawasan yang jelas. Ironisnya, ini persis modus transfer pricing yang mau diberantas, tapi sekarang yang melakukannya adalah negara sendiri. Kalau badan ini tidak transparan, kita tidak nutup pintu korupsi, kita cuma mindahin lokasinya ke satu titik yang lebih susah diawasi.
Jadi balik ke pertanyaan awal tadi: emang kalau MBG dan Kopdes dihentikan rupiah bisa menguat? Jawaban singkatnya nggak, karena memang tidak sesimpel itu. Dan gw berharap pemerintah bisa notice tiga saran gw diatas. Karena selama defisit terus bengkak, cadangan devisa terus dikuras, dan kebijakan besar kayak DSI dibentuk dalam 3 hari tanpa kajian publik, pasar akan terus ragu. Yang akhirnya menghasilkan rupiah yang lemah, cerminan dari pemerintah yang juga kelihatan ragu-ragu...
I told my therapist,
“I keep falling for people who never really choose me back.”
She didn't give me comfort.
Hearing her, my whole body went still.
Here's what she just replied:
Indonesia Airlines Group dimiliki oleh Calypte Holding Pte. Ltd., perusahaan yang berbasis di Singapura. Mereka milih Singapura mungkin karena regulasi bisnis yang lebih fleksibel dan akses ke pasar modal internasional, plus fokus mereka memang pada rute internasional dari Jakarta.
BREAKING NEWS
Telah lama isu isu muhammadiyah bakal bikin bank sendiri apalagi juga Muhamadiyah telah menarik semua dananya dari bank BSI (bank syariah indonesia)
Dan sekarang lagi on progress melakukan perizinan @ojkindonesia
Manchester united 1 - 0 newcastle united
Everyone knows The Wolf of Wall Street.
The man who built a $200M empire based on fraud.
But most don't know the crimes he committed AFTER getting arrested.
Here's how Jordan Belfort scammed thousands of people (and how you can avoid it): 🧵
Breaking News!
Skema kebijakan PPN dan Insentif yang diputuskan:
1. Beras, daging, telur, sayur, buah2an, garam, gula konsumsi, tetap NOL alias bebas PPN.
2. Jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa transportasi publik tetap NOL atau bebas PPN.
3. Minyak Kita, tepung terigu, gula industri tetap 11% (1% ditanggung pemerintah).
4. PPh Final 0,5% diperpanjang hingga 2025.
5. PPh Pasal 21 karyawan gaji sd Rp 10 juta, ditanggung pemerintah utk industri padat karya.
6. Diskon Listrik 50% utk pelanggan dg daya sd 2200 va Jan-Feb 2025
7. Bantuan pangan/beras Jan-Feb 2025 tiap keluarga 10 kg utk 16 juta KK
8. Diskon PPN 100% utk pembelian rumah harga sd 5 M, utk bagian harga 2 M. Jan-Juni 2025.
9. Pekerja yg mengalami PHK diberi kemudahan mengakses JKP.
10. Subsidi bunga 5% revitalisasi mesin untik produktivitas.
11. Bantuan 50% utk jaminan kecelakaan kerja sektor padat karya selama 6 bulan.
12. Kendaraan listrik berbasis baterai, PPnBM DTP 15% utk CKD/CBU
13. PPN DTP 10% KBLBB CKD
14. Bea Masuk NOL utk KBLBB CBU.
15. PPnBM DTP 3% kendaraan listrik hybrid.
Lebih lengkapnya menyusul.
Abis dari di-ai-way:
Kasir : Kak, kantong plastik habis, adanya paper bag, harga sepuluh ribu.
Gue : Hah? Gak dulu makasih 😐
Keluar darisana peluk belanjaan untungnya sampe mobil doang. Kebayang tuh yang pake transportasi umum, akhirnya terpaksa beli paper bag.
‘Influencer’ Nas Daily has left Instagram after he couldn’t handle how embarrassing he looked like when a group of pro Palestinian protestors in Tokyo disrupted his meet up.
“Tokyo stands united for Plstine: Z*on*sts and normalizers are not welcome here” via palestinejapan (ig)
long weekend kaga berasa long weekend. kamis kerja, jumat goleran, sabtu kerja lagi, hari ini Alhamdulillah goleran lagi, dan hp gw hening. biasanya mah pagi siang malem even at 3am ada aja tuh notif grupchat kantor. 🙂↕️
i’m gonna miss any calls, including the important ones. yea no my emotional state is way important. who won’t be pissed to hear your mobile vibrating from an unknown call on Saturday at 7am. those important calls, I could always call them back.
my work habit switched 180° to be the busiest ass even on weekend. those customers don’t know public holidays, not to mention long weekend. I had to set my mobile into silent & no vibration mode. smh
Switching from supporting sector to operational sector truly needs a lot of adaptation, in every aspect. While your job doesn’t wait, the time is ticking, and your team is less reliable (because we’re all noobs on the exact same thing) and I only have two hands, so….