Walau beritanya simpang siur, Kasus mundurnya Jampidsus dan Ketua Tim Pelaksana PKH (Tim Penertiban Kawasan Hutan) Ferry Ardiansyah hendaknya dimanfaatkan oleh Presiden @prabowo membenahi lembaga penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK).
Jika tidak atau terlambat maka serangan Geng SOP lewat penegak hukum ke Presiden @Prabowo akan makin keras.
Ingat :
To kill or to be killed.
Hanya sapu bersih yang bisa membersihkan
Nanik S. Deyang mengaku kaget saat Prabowo Subianto menunjuknya menjadi Kepala BGN baru. Tak tahu pencopotan Dadan Hindayana.
#TempoPlus
https://t.co/w3uELppAGA
pak @prabowo 🙏
mewakili kami semua anak-anak teknologi 🇮🇩
ibam adalah representasi terbaik dari kami
ikhlas mengabdi untuk negeri
melepaskan tawaran milyaran gaji dari luar negeri
jika tiada keadilan & betapa kejamnya ia didholimi
niscaya tiada lagi dari kami mau mengabdi
Yg menarik justru di kalangan warga yg berpendapatan rendah kepuasan terhadap MBG malah negatif. Universalitas MBG malah memicu perasaan di kaum miskin bahwa MBG tak seharusnya dikasihkan buat semua, apalagi buat warga yg berkecukupan.
Sebanyak 9.000 PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di NTT terancam diberhentikan demi mematuhi aturan maksimal belanja pegawai 30% dalam APBD. "Kenapa harus kami yang jadi korban dari keputusan ini?" tanya seorang PPPK. https://t.co/KqASTQVOmG
Sedikit mau bagi pendapat tentang Koperasi Merah Putih.
Koperasi Merah Putih ini mirip seperti monster Godzilla, yang tiba2 langsung mau dibesarkan jadi monster dari janin, dengan suntikan dana maha besar dari bank BUMN.
Koperasi itu tidak begitu. Koperasi itu tumbuh dari bawah, dirawat dari benih, tumbuh di tanah yang subur, baru kemudian bisa berbuah banyak setelah beberapa tahun. Meskipun lambat, tapi akarnya akar tunggang, sehingga kuat mencengkeram tanah, dan juga melindungi tanah di sekitarnya dan menjadi reservoir air. Gak seperti akar sawit yang serabut.
Saya sendiri adalah aktivis di salah satu koperasi, yaitu Credit Union Cindelaras Tumangkar di Jogja. Koperasi kami tumbuh dari sangat kecil, dengan hanya modal puluhan juta rupiah, yang dikumpulkan dari para pendiri, tanpa dana pihak ketiga. Salah satu inisiatornya adalah bapak Fransis Wahono, yang baru saja dipanggil menghadap Tuhan beberapa hari yang lalu (RIP, semoga surga kekal bagimu).
Setelah belasan tahun, modal kami sekarang sudah mencapai 50 miliar rupiah, dengan ribuan anggota. Kami pun baru termasuk koperasi kelas menengah sebetulnya. Banyak CU-CU lain yang tumbuh jauh lebih hebat lagi dengan aset triliunan rupiah, misalnya CU-CU di Kalimantan, semuanya adalah aset dari anggota.
Dan koperasi-koperasi ini dirawat dan dipupuk oleh para aktivis dan anggotanya, gak ada istilah drop2an dana atau hibah. Dan kami bertahan menghadapi badai covid, dan bahkan tetap tumbuh sampai sekarang.