261002 🐻💬 UPDATE
“ah seriously taeyongie hyung really uploaded it”
“ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ”
“one is AI and one is real he said he was gonna upload it so i was like ah whatever ㅋ”
Tumbuh di keluarga yang rasanya nggak pernah benar-benar mengapresiasi apa yang saya lakukan, it made me question myself every single day, bahkan sampai sekarang.
Mungkin kedengarannya sepele, but somehow, hal kecil itu terus menempel di kepala saya.
carmen hebat banget, she really introduced indonesia so well
kalian pernah nyangka ga bakal ada orang indo disitu?? ga kan
so please support aja, jangan komen "kenapa ga perkenalin ini, itu" dll.
BIASAKAN APRESIASI, she's doing her best, we should be proud of her 🥺💞
On Oct.2, Nana left a message for her fans after admitting her relationship with T.O.P 🥰
Nana:
"You must've been very flustered, right? I'm a little shy too."
"We'll meet beautifully & healthily!!!!!"
#TTTOP#T_O_P#CHOISEUNGHYUN#NANA#탑#최승현#나나#임진아
Tbh diskursus rantau ke luar negeri "ga worth it" karena pada bilang "cuma" bisa saving dikit misal 5jt tuh kek.... lu kalau di indo, 5jt will be your whole monthly salary or even less😭😭😭
Kalo dipikir² iya lho, sehari ngeluarin 10k-30k buat makan jadi mikir itu mahal, padahal itu buat KEBUTUHAN PRIMER (makan) kita lho....
Hmm.. ekonomi lagi jeblok banget..
Dibaca satu-satu biar ga nanya lagi.
- Perempuan wajib ngurus rumah, masak, bersih-bersih, dan ngurus anak, bahkan ketika perempuan jg kerja.
- Cuma laki-laki yg berhak memutuskan keputusan2 penting di rumah karna dianggap kepala keluarga.
- Perempuan dituntut melayani suami, termasuk secara seksual, seolah tubuh dan akses seksual perempuan adalah hak pasangan ga peduli persetujuan perempuan.
- Perempuan yg nolak seks dibilang istri durhaka, sementara consentnya malah diabaikan.
- Perempuan dibebani kontrasepsi dan konsekuensi reproduksi, tp keputusan2 soal tubuhnya sendiri sering ikut dicampuri orang lain.
- Perempuan yg gamau punya anak dianggap egois, ga feminin, dianggap belum lengkap sebagai perempuan.
- Motherhood dianggap kewajiban kodrati perempuan, sdgkn fatherhood dianggap sebagai pilihan atau sekedar bantu istri.
- Perempuan dituntut jaga virginitas, reputasi, cara berpakaian, berat badan, rambut, makeup, dll sementara standar yang sama ga diberlakukan ke laki-laki.
- Victim blaming dlm kasus KS kyk “pakaiannya apa?”, “kenapa keluar malem2?”, “kenapa mau aja diajak?”, bukannya fokus ke pelakunya.
- Kekerasan terhadap perempuan dlm rumah tangga dinormalisasi sebagai “urusan rumah tangga.”
- Laki-laki yg dominan dianggap tegas, perempuan yg dominan malah dibilang galak, judes, atau ga feminin.
- Perempuan yg ambisius dianggap terlalu agresif, sementara laki-laki dg sifat yg sama dianggap punya jiwa leadership.
- Perempuan yg punya karir tp ga mau nikah/beranak dianggap egois, seolah tujuan pendidikan perempuan ujung-ujungnya ttp di kasur sumur dapur.
- Pekerjaan domestik dan mental load sering ga dianggap pekerjaan, padahal ngabisin waktu dan tenaga juga.
- Perempuan diharapkan ngalah, jaga perasaan, dan jadi emotional caretaker dlm hubungan berumah tangga.
- Laki-laki yg ga bisa ngontrol emosi disebut “manusiawi”, tp perempuan yg marah atau shock langsung dicap histeris/emosional.
- Perempuan sering dibatasi soal mobilitas, jam keluar, pergaulan, dan keamanan, trs pas terjadi kekerasan malah perempuan yg ditanya2 dan disuruh belajar.
- Profesi tertentu dianggap “pekerjaan laki-laki”, jd perempuan yg mau masuk hrs buktiin kompetensinya lebih keras.
- Perempuan yg sukses dianggap mengintimidasi laki-laki, sementara keberhasilan laki-laki justru dianggap nilai plus.
- Laki-laki dianggap punya hak buat nentuin seperti apa “perempuan yg baik”, mulai dari pakaian, fisik, perilaku, dll.
- Bahkan ketika perempuan jd pencari nafkah utama, dia ttp dituntut menjalankan peran domestik.