Sepupuku jaga kasir minimarket, shift malam. Pas tutup kasir, uang di laci kurang tiga ratus lima puluh ribu.
Dia hitung ulang empat kali. Tetep kurang.
Aturannya jelas dan udah lama dipake, selisih ditanggung penjaga shift. Gajinya sebulan satu juta sembilan ratus. Dia duduk di belakang konter, struk berhamburan di pangkuan, ngitungin lagi dari awal padahal udah tau hasilnya.
Supervisornya dateng jam sebelas malem, dipanggil lewat telpon.
Sepupuku udah siap dimarahin, udah nyiapin kalimat buat minta cicil. Yang keluar dari mulut supervisornya malah, "Struknya mana semua? Sini saya bantu."
Mereka berdua ngitung ulang bareng sampe jam satu pagi. Habis itu dia minta rekaman CCTV ke kantor pusat, sama log sistem kasir hari itu.
Tiga hari kemudian ketauan. Ada satu transaksi pulsa kecatat dua kali, uangnya masuk ke rekening provider, bukan ilang di laci.
Sepupuku nggak jadi ganti sepeser pun.
Yang bikin dia diem lama bukan itu. Supervisornya cerita, dia sengaja nahan laporan selisih itu ke pusat sampe semuanya jelas, biar nama sepupuku nggak kecatat di mana-mana.
Sekarang tiap ada anak baru masuk, supervisor itu ngajarin satu hal duluan, sebelum cara pake mesin kasir.
"Kalau ada selisih, panggil saya. Jangan dibayarin sendiri diem-diem."
Atasan yang baik bukan yang nggak pernah nyalahin. Tapi yang mau cari tau dulu sebelum nyalahin.
Sukma, Palu
cc wnmei_at
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Guys menurut Jusuf Kalla, kebijakan WFH/WFA yang katanya buat hemat BBM yang bakal dilakuin pemerintah prabowo itu sebenarnya nggak tepat sasaran.
Kenapa?
Karena energi yang dipakai di kantor itu mayoritas listrik, AC, lampu dan listrik di Indonesia, khususnya Jakarta & Jawa Barat, masih didominasi PLTU berbahan batu bara, bukan BBM.
Jadi mau kerja di rumah atau di kantor, konsumsi BBM secara nasional nggak banyak berubah.
Yang lebih aneh lagi, masalahnya BBM, tapi solusinya malah WFH.
Padahal kalau mau serius hemat BBM, harusnya fokus ke transportasi:
paksa penggunaan angkutan umum
batasi kendaraan pribadi
atau dorong sepeda di daerah.
Lah ini?
Orang tetap pakai listrik di rumah, bahkan bisa jadi lebih boros karena AC dan alat elektronik nyala seharian.
Jadi bukannya hemat, bisa aja cuma mindahin beban energi dari kantor ke rumah.
Jadi pertanyaannya sekarang
ini beneran solusi hemat energi… atau cuma kebijakan biar keliatan doang?
Sungguh sebuah video sepanjang 5 menit yg amat sangat sepadan untuk ditonton. 🙂
Kami benar-benar menaruh hormat pada setiap wali murid, guru, dan/atau segenap warga sipil yang marah, melawan kubangan lumpur (sppg) atas kesewenang-wenangannya dalam membagikan embege. ✊🏻
Ketahuilah:
Anggaran MBG 2026 MEMOTONG 223T dari anggaran untuk pendidikan!
12 hari budget MBG bisa menggaji SELURUH GURU HONORER selama setahun dgn gaji 1,7 jt /bulan!
Yg dibanggakan cuma capaian jumlah, BUKAN EVALUASI tujuan program!
#AntiKritik
Dalam konteks filosofi transportasi publik, perbandingan antara Whoosh dan MRT Jakarta enggak apple to apple, Mul. MRT dirancang sebagai layanan massal yang disubsidi negara lewat mekanisme Public Service Obligation supaya semua lapisan masyarakat bisa mengaksesnya dengan tarif rendah, sementara Whoosh adalah proyek berbiaya tinggi dengan orientasi konektivitas antar-kota dan harga premium. Faktanya, sejak Whoosh beroperasi, jadwal KA Argo Parahyangan yang selama ini melayani rute Jakarta–Bandung dengan harga terjangkau dan tingkat keterisian tinggi sengaja dikurangi dari 14 perjalanan pulang-pergi menjadi sekitar 6-10. Padahal moda ini sudah terbukti efektif memindahkan pengguna mobil pribadi ke kereta reguler jauh sebelum proyek Whoosh hadir.
Ketika moda yang inklusif seperti Argo Parahyangan dikurangi demi memberi ruang bagi Whoosh, pemerintah justru melenceng dari prinsip pelayanan publik itu sendiri. Pembangunan seharusnya memperluas akses mobilitas rakyat, bukan mempercepat sebagian kecil pengguna dengan mengorbankan banyak yang lain. Dengan berkurangnya Argo Parahyangan, justru muncul kontradiksi. Proyek yang diklaim untuk mengurai kemacetan malah mengikis moda transportasi publik yang sudah berfungsi baik. Sudah lah, ini terlihat demi legacy solo gengs daripada Indonesia pride.
Tidak pernah mengaku lulusan Singapore atau UGM, hanya anak petani miskin, tapi memiliki kapasitas dan kapabilitas yang sangat mumpuni di berbagai sektor.
Hal ini beliau dapatkan bukan dari dari bangku sekolah, tapi karena kedekatan dengan rakyatnya. Apa yang menjadi keresahan masyarakat, maka itu akan diimplementasikan dalam kebijakan pemerintahannya.
Tidak pernah terbersit dalam benak beliau untuk menengok gorong-gorong, karena mustahil ditemukan aspirasi masyarakat di tempat bersarangnya tikus dan kecoak. Beliau lebih memilih turun ke pedesaan, sebab disana adalah tempat jeritan hati rakyat berkumandang.
Jejak dakwah Presiden Soeharto di Papua.
Ustadz Fadlan Gamaratan menyampaikan kiprah Pak Harto dalam bidang dakwah, selain pembangunan masjid dan pemberian bantuan berupa ribuan karung pakaian, beliau juga memberikan kuota umroh gratis bagi para da'i di Papua.
Tak cukup sampai di situ, Presiden Soeharto juga mengaktifkan program 'ABRI Masuk Desa' guna membantu pembangunan ribuan rumah bagi warga di pedalaman Papua. Program ini terlaksana dengan baik dibawah penerapan Dwifungsi ABRI, kebijakan yang belakangan ini sangat ditentang oleh kelompok Neo-PKI.
Kaum komunis menyadari bahwa peran aktif militer di tengah masyarakat merupakan ancaman bagi rencana panjang mereka dalam mengkomuniskan Indonesia.