Orang Kalimantan paru-parunya tidak sehat, padahal pulaunya paru-paru dunia.
Orang Papua perut buminya isi emas, tapi tidak kaya raya.
Orang Sumatera energi alam ada di mana-mana, tapi mati lampu juga.
tapi kalo kalian perhatiin, pemerintah tuh emg nunggu amarah kita reda dan hilang sendiri gasih..
i mean, skrg kita lagi marah, kita boykot semua org yg tone deaf, kita demo, kita maki maki prabowo. but after that? pemerintah ttp ga ngapa ngapain.. they choose to keep silent
dan pola nya selalu gitu, ada kebobrokan pemerintah - rakyat ngamuk - pemerintah nunggu amarah rakyat mereda - repeat. udah gitu mulu, kalian muak gasih? 😭 as an indonesian, gila, aku ngaku kalo beneran mentally drained sama negara ini
n then what should we do?? pada akhirnya yg nolong rakyat ya sesama rakyat itu sendiri. terus amarah kita? aspirasi kita? ini semua buat apa kalo pada akhirnya yg berubah cuman umur kita anjir???
gue hopeless bgt… demi allah hopeless…
premis paling ANEH adalah kritis ke rezim itu ga nasionalis, ga patriotis.
LAH justru karena SECINTA itu sm indonesia makanya kita BERISIK tiap ada yg GA BERES.
kita cuma mau negara sekaya ini bisa makmur, rakyatnya sejahtera dan akan terus berisik sampe ini terwujud.
Ini negara apa sih sebenarnya. Katanya demokrasi tapi ketika rakyat menyuarakan aspirasi, melakukan unjuk rasa dihadang sma pihak lain. Ini bukan perang, demo pun dilakukan oleh mahasiswa
Harusnya mrka semua dikerahkan ke NTT utk membantu korban gempa bukan mengawal demo
Prabowo: "Silakan kalau mau cari negara lain."
Gue:
Lah, emang nih negara punya elu doang?
Ini negara gue juga. Gue lahir di sini, kerja di sini, bayar pajak di sini. Hidup gue kagak dibiayain sama elu.
Gaji pejabat negara juga dibayar dari APBN yang berasal dari pajak rakyat. Jadi jangan mentang-mentang lagi pegang jabatan, terus nyuruh rakyat cabut.
Ngkritik pemerintah bukan berarti kagak cinta Indonesia. Justru karena ini negara gue, gue punya hak buat ngomong kalau ada yang gue anggap salah.
Yang mesti dibenerin itu kebijakannya, bukan mulut rakyatnya.
Gengs, BDS kemarin secara resmi mengumumkan pernyataan boikot Spotify karena terlibat aktif dalam apartheid dan genosida Palestina oleh Zionis.
BDS mengimbau semua orang untuk menghentikan subscription di kanal ini hingga Spotify berhenti terlibat pada genosida.
Woy boikot woy kok kek makin longgar sih? Jan mentang-mentang presiden lu zionis lu jadi ikut-ikutan wkwkwkwkw mang ketelen itu kopi ma burger inget darahnya orang-orang Palestina? Moralitas lu aneh
Yang paling ngeri dari plan ini:
1. Ga ada satupun warlok yang diajak merepresentasikan diskusi ini.
2. Addressing “Gaza” dan bukan “Palestina”. Ini mau ngapus identity perlahan
3. Proyek kolonialisme dan imperialisme paling blak-blakan di zaman modern.
4. Presidenmu ikutan
Satu juta. Angka itu bukan statistik. Itu adalah 1.057.482 tatapan kosong di tenda pengungsian, bau basah dari pakaian yang tak sempat diselamatkan, dan 961 kursi kosong di meja makan yang takkan pernah terisi lagi.
Kau tahu apa yang paling menjijikkan dari data 961 nyawa melayang dan hampir seribu orang hilang ini? Estimasi biaya pemulihan.
BNPB bilang, butuh Rp51,82 triliun untuk memulihkan Aceh, Sumbar, dan Sumut. Bayangkan. Kerugian yang disebabkan oleh kelalaian sistematis pembalakan liar, tata ruang abal-abal, dan penegakan hukum tumpul terhadap korporasi perusak kini harus ditanggung negara. Uang kita.
Pejabat datang, pasang wajah prihatin di depan kamera, bilang "Indonesia Mampu Atasi Musibah". Mereka memastikan APBN cukup (Kata Mensesneg 3 Des 2025). Tentu saja cukup! Anggaran untuk event pencitraan, studi banding, atau food security project yang tiba-tiba muncul, angkanya jauh lebih berani.
Lihat kontrasnya:
Biaya pemulihan: Rp51,82 Triliun.
Bantuan yang diserahkan Menag tahap awal: Rp155 Miliar (fakta, 2 Des 2025) – mayoritas dari donasi Baznas dan lembaga lain, bukan murni kucuran APBN Penuh.
Korban meninggal hampir 1.000 jiwa, tapi Pemerintah Pusat TIDAK MAU menetapkan status Bencana Nasional (fakta, dikritik ekonom karena membatasi ruang fiskal darurat - 1 Des 2025). Kenapa? Karena menetapkan Bencana Nasional berarti pejabat harus kerja, bukan pencitraan. Itu berarti membuka dompet sebesar-besarnya, bukan sekadar mengirim 3-4 pesawat Hercules berisi mi instan.
Sementara anak-anak di pengungsian merindukan satu piring nasi hangat, elite di Jakarta sibuk berdebat: Apakah lebih penting kerja lapangan atau administrasi? (fakta, alasan belum ditetapkan Bencana Nasional - 3 Des 2025).
Jutaan nyawa terancam. Ribuan hilang. Puluhan triliun rupiah ludes karena keserakahan yang dilegalkan. Dan kita, yang kehilangan saudara, hanya bisa melihat mereka beradu argumen di podium.
Kita menabur kemanusiaan, yang kita tuai hanya lip service dan angka kerugian yang membengkak.