Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Kata Teddy, Presiden bawa banyak investasi/FDI ke RI dlm lawatannya ke LN. Kalau begitu, FDI ini mestinya men-triger kinerja sektor Industri. Mari kita lihat data
Selama 15 tahun terakhir, laju pertumbuhan industri terhadap PDB terus menurun (lihat grafik). Bahkan di era Presiden Prabowo pada Q1 2026, rasio industri terhadap PDB lebih rendah dari saat Covid-19 (pada Th 2021 sebesar 19,27%)
Apa artinya pertumbuhan industri yang persisten lambat dibawah average PDB selama 15 Th terakhir?
Kita masih dizona deindustrialisasi prematur. Industri kita rontok sebelum Indonesia benar-benar kaya/High income country
Kalau industrinya konsisten tumbuh seperti ini dan bonus demografinya ke fase aging society, ya mungkin tesis Prof Chatib Basri benar. "Indonesia akan menjadi negara yang tua sebelum kaya "
Teddy tidak cocok jadi PR urusan sipil. Lebih cocok perang. Angkat senjata. Semakin Teddy bicara mewakili istana, malah men-downgrade PR istana
#Teddy #Prabowo #Paris
Seorang diplomat karir yg puluhan tahun bergelut dlm diplomasi politik LN, direspon secara tidak subtantif olh tukang bawa payung dan agenda. Dari sisi kompetensi keilmuan, siapa sih Teddy?
Teddy ini men-downgrade kualitas PR istana. Komunikasi publiknya buruk, cenderung ad hominem!!
Cara Teddy ngomong soal perjalanan dinas Pak Prabowo makin ke sini kok makin aneh.
Bukannya nenangin publik, malah kayak buzzer medsos yg sibuk muter narasi.
Katanya Pak Prabowo pakai uang pribadi biar negara hemat. Lah rakyat malah makin bingung, ini negara dikelola pakai sistem apa pakai dompet pribadi.
Negara itu ada aturan dan mekanismenya. Bukan kalau APBN seret terus pejabat nombok sendiri.
Kalau begitu caranya, nanti semua jadi campur aduk. Uang negara sama uang pribadi jadi nggak jelas batasnya.
Kalau sudah begitu, nanti repot pas audit. BPK pasti nanya aliran dana dan accountability-nya bagaimana.
Yang bikin orang makin geleng kepala itu jumlah rombongannya. Katanya sekali lawatan bisa sampai sekitar 60 orang.
Lah kalau mau hemat ya jangan bawa orang sekampung. Masa bilang efisiensi tapi delegasinya kayak rombongan wisata.
Rakyat sekarang juga nggak bodoh. Orang bisa lihat mana penghematan beneran, mana cuma framing.
Claudia Sheinbaum saja pernah bilang pengawalnya sekitar 10 orang. Dia malah nggak suka pengamanan yg terlalu ramai dan penuh gaya.
Di Italia, Giorgia Meloni juga sering tampil dengan delegasi yg lebih ramping. Orang yg dibawa seperlunya saja sesuai agenda.
Bahkan beberapa kepala negara di Eropa sekarang banyak yg pilih VC atau video conference buat rapat bilateral tertentu.
Di Finland dan Estonia, komunikasi antar pemimpin sering dilakukan virtual buat ngurangin biaya dan waktu perjalanan.
Makanya rakyat heran lihat kondisi sekarang. Narasi hematnya kencang, tapi rombongan tetap jumbo.
Belum lagi waktu kritik dijawab dengan nyebut Dino Patti Djalal cuma jadi Wamenlu 3 bulan. Lah itu namanya bukan jawab substansi, tapi malah ad hominem.
Yang dipersoalkan publik itu soal tata kelola dan efisiensi. Bukan soal berapa lama orang pernah duduk di jabatan.
Ngurus negara itu bukan lomba pencitraan. Yang penting kerjaannya proper, efficient, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ujung-ujungnya rakyat cuma minta satu. Negara diurus serius, hematnya nyata, dan jangan kebanyakan sandiwara.
#EfisiensiBukanPencitraan
#APBNBukanDompetPribadi
#GoodGovernance
#Rombongan60Orang
RABIES, penyakit mengerikan yang bikin orang takut air dan mati kejang, jadi momok ribuan tahun.
Tapi, Louis Pasteur, ilmuwan jenius yang bukan dokter, mengubah segalanya. Dengan nyali besar dan sains, dia ciptain vaksin anti rabies yang nyelametin dunia. Penasaran gimana ceritanya?
Yuk, simak!