Gue nemu hal agak janggal pas liat review dua film lebaran: Na Wila vs Pelangi Di Mars. Timeline rame banget yang muji Na Wila, tapi di saat yang sama Pelangi Di Mars malah kena banyak review negatif.
Saat kamu menebar CV ke berbagai penjuru, bolak-balik percetakan bikin salinan ijazah, portofolio—segala macam, bergabung dalam antrean panjang interviu, dan berkali-kali hancur karena lamaran kerjamu ditolak, mereka sama sekali takpernah ada untukmu.
Namun begitu kamu dapat kerja, mereka sekonyong-konyong hadir paling depan untuk mengambil pajak dari upah yang akan kamu dapatkan. Bahkan di dalam THR-mu pun harus ada jatah mereka. HAH!
‘Setan Alas’ dibuat dengan budget yang sangat kecil, dan budgetnya tidak cukup untuk membayar para pekerjanya dengan jumlah yang besar.
Namun Yusron bersama produsernya, Fani Pramuditya, punya komitmen kuat untuk menyejahterakan semua pihak yang terlibat dalam “Setan Alas”. Caranya bukan sekadar sistem bayar putus, tapi dengan membagikan saham atau persentase keuntungan kepada setiap kru dan pihak terkait, dan itu dihitung dari PENDAPATAN KOTOR, bukan dari pendapatan bersih yang sering jadi trik culas industri termasuk di hollywood, pembukuannya dibikin rugi terooooos, tidak pernah untung jadi tidak ada pembagian hasil *ohok Star Wars*.
Literally UMKM bagi hasil ini bro!! :)))))
Kasus kekerasan terhadap Asisten Rumah Tangga (ART) terjadi di kawasan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebuah rekaman CCTV yang viral di media sosial memperlihatkan tindak kekerasan fisik berulang terhadap seorang ART perempuan oleh majikannya. Dalam video yang beredar, korban terlihat disabet menggunakan gesper kulit. Tak hanya itu, anak dari majikan juga terekam menendang dan menjambak korban saat berada di dapur dan ruang makan. Dugaan kekerasan fisik dan verbal ini disebut terjadi berulang kali. Korban sebelumnya dikabarkan sudah lama tidak memberi kabar kepada keluarganya di kampung halaman. Pihak keluarga mengira ia dalam keadaan baik-baik saja selama bekerja di perantauan. Setelah kasus ini viral melalui akun Instagram 'sekitaran_jakut', polisi bergerak cepat. Korban kini telah diamankan dan berada di Polres Jakarta Utara untuk mendapatkan perlindungan. “Korban ART yang dianiaya sudah berhasil diselamatkan oleh Polres Jakut. Kita tunggu prosesnya,” tulis Kombes Pol Manang Soebeti di akun Instagramnya, dikutip Senin (2/3/2026). Proses hukum terhadap dugaan penganiayaan ini kini tengah berjalan. Polisi memastikan penanganan kasus dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
🚨 POLISI DUKUNG MALING NO VIRAL NO JUSTICE
BANTU UP 🆙🆙🆙🔝🙏🆘🆘🆘
Detik² Korban Nangkap sendiri Maling toko karena disuruh polisi, sekarang malah jadi tersangka, dituduh aniaya maling Leo Sembiring korban pencurian yg dilaporkan oleh pelaku pencurian sudah melakukan berbagai upaya untuk membela diri bahkan sudah menyurati Kapolri, Kapoldasu dan Komisi III DPR RI terkait hal tersebut.
namun tak digubris Leo Dilaporkan atas kasus penganiayaan terhadap maling di tokonya “Itu diduga rekayasa seorang oknum penyidik dan mantan Kanit.
Kalau kami menganiaya bersama sama pelaku itu sudah pasti dia akan babak belur dan masuk RS Itu kondisinya mulus & dia (pelaku pencurian) masih sempat di bawa Brigadir SZS ke Rumah Samuel Marbun untuk mengambil barang curian yang disimpan di sana.
Ini dikarang karang ceritanya lalu kami dilaporkan ke Polisi, maka dari itu kami mencari keadilan kesini,” beber Leo Leo menjelaskan, dirinya dihubungi penyidik Brigadir SZS dan sepakat datang ke café “Saat itu sebenarnya saya tidak bisa datang karena saya sedang membawa barang² namun karena dia bilang mau nangkap pelaku pencurian makanya saya datang.
kami heran kenapa dia tidak datang bersama petugas unit reskrim malahan dia membawa seorang pria yang belakangan saya ketahui merupakan warga sipil,” terang Leo. “Ada seorang wanita yang kami suruh mancing pelaku saat itu kami sudah berkumpul semua di café itu, namun anehnya saat wanita itu mengirimkan pesan kepada adik saya bahwa dia sudah berada di hotel bersama pelaku, hal tersebut kami beritahukan kepada penyidik, penyidik Brigadir SZS yang duduk bersama kami, anehnya dia malahan menyuruh kami untuk menangkap dan mengamankan pelaku sementara dia menunggu di pos 1 hotel tersebut.
Saya hanya mengamankan satu pelaku dan saat saya coba amanka, pelaku itu malahan mengeluarkan pisau sehinga saya pun dengan spontan membela diri agar tidak ditusuk oleh pelaku yang mencuri di toko kami beberapa hari kemudian keluarga pelaku pencurian malahan melaporkan kami ke Polrestabes Medan, mirisnya wanita yang kami suruh untuk memancing pelaku dan pria yang datang bersama penyidik malahan dijadikan saksi dalam laporan pelaku pencurian tersebut,” sesal Leo