Bi ruuh bi dam, nafdika ya Islam.
Ya tempalah mujahid dan mujahidah cilik kita agar menjadi pejuang-pejuang tangguh.
Bukankah besi harus segera ditempa dan dibentuk selagi panas?
Tangisnya terhenti, ia tidak lagi berteriak minta pulang sambil melihat awan yang menaungi dengan penuh kasih, kasih ilahiyah sambil menghirup minuman teh dinginnya. Usai aksi damai, sekitar jam tiga sore barulah turun hujan dengan derasnya.
Adakah bentuk cinta yang lebih baik pada anak dibanding cara menanamkan ruhul jihad kepada anak dan menggiring mereka pada kesadaran bahwa cinta Allah begitu besar kepada mereka, sehingga mereka harus menebusnya dengan jihad fi sabilillah.
Saya jawab: "Ki kamu sedang berjihad dengan jiwa dan bahkan darah untuk membela Islam. Lihat Allah sayang pada kita karena ketika kita berjihad, pas lagi panas-panasnya ada angin dan awan yang menutupi matahari agar tidak terlalu panas”.
Apalagi ia sudah mendambakannya selama puluhan tahun dan baru mendapatkannya di usia yang cukup senja. Namun Allah tengah mendidik Nabiyullah Ibrahim sekeluarga.
Di sudut lain terlihat pula seorang kakek tengah mengajari cucunya yang berusia sekitar tiga tahun untuk rukuk dengan benar ketika shalat sambil menuntun bacaannya.
Namun tsiqqah billah menuntun Nabi Ibrahim dan Siti Hajar untuk tetap tegar melaksanakan semua perintah Allah yang sekilas tidak masuk akal dan terkesan kejam dan tega pada anak dan istri. Belum lagi perintah Allah yang berikutnya untuk menyembelih Ismail.
Ada juga cukup banyak ibu-ibu yang mendukung bayinya yang masih merah dipunggung dan diajak thawaf mengelilingi ka'bah di tengah terik matahari, namun subhanallah bayi itu tertidur pulas dan nikmat.
Fatimah Heeren Sarka, seorang mualaf wanita berkebangsaan Jerman menulis dalam artikelnya bahwa tahap-tahapan pendidikan yang harus diberikan kepada anak-anak muslim adalah sbb: