tulisan anies dalam majalah tempo:
- judulnya hukum yang retak dalam odyssey: potret indonesia
- film odyssey nolan buka cerita kuda troya ditarik masuk sendiri
- karena dikira perang udah selesai
- troya jatuh bukan karena tembok jebol
- tapi karena rasa percaya yang dikhianati dari dalam
- kesakralan itu kayak kaca, sekali retak gak bisa dihapus lagi
- anies bilang retakan itu muncul di republik ini pada oktober 2023
- mahkamah konstitusi si penjaga konstitusi
- malah pake putusannya sendiri
- buat ubah syarat usia calon wakil presiden di tengah jalan
- itu bukan karena tembok jebol
- tapi karena pintunya dibuka sendiri sama hukum
- mei 2024 mahkamah agung tiba tiba ubah tafsir usia calon kepala daerah
- dihitung pas pelantikan bukan pendaftaran
- september 2024 aturan yang batesin jumlah kementerian maksimal 34 diganti jadi tanpa batasan
- maret 2025 uu tni direvisi cepat dan sebagian tertutup
- ngeluasin ruang perwira aktif masuk jabatan sipil
- anies bilang gejala di masyarakat juga sama telanjangnya
- kepala babi dikirim ke ruang redaksi
- air keras dilemparin ke wajah aktivis\
- pengemudi ojol mati di bawah kendaraan taktis
- dia bilang film nolan itu jadi peringatan buat kita,
- katanya republik ini bukan dongeng yunani
- gak ada langit yang bakal turun tangan atau petir yang bakal datang nolong
Ini salah ya, man-teman.
Sutiyoso yang punya ide dan Fauzi Bowolah yang eksekusi, mulai pencarian dana dan pembentukan PT, sehingga bisa mulai jalan proyek. Gunting pita juga dilakukan Fauzi Bowo. Skema keuangan pun sudah fix, tapi diundur-undur era Jokowi sampai dia bikin lagi gunting pita kedua, seakan Jokowi yang bikin MRT.
Oh ya, foto groundbreaking oleh Fauzi Bowo ini hampir hilang dan baru ditemukan di tumpukan arsip setelah sebulan mencarinya.
"Bukankah Kita Tetap Bersaudara Walaupun Kita Tidak Bersepakat dalam Satu Masalah?" -Imam Syafi'i ra.
Satu ketika, Imam Muhammad ibn Idris Asy Syafi'i (w. 204 H) berdebat tajam dengan Abu Musa Yunus ibn Abdul A'la Ash Shadafi (w. 264 H), salah seorang muridnya yg kemudian menjadi ulama hadits dan ulama Syafi'iyah pada kurun waktu tersebut. Perdebatan hebat mereka berujung pada ketidaksepakatan, tidak menemukan titik persamaan. Sehingga keduanya tetap teguh dengan pendapatnya masing-masing. Bahkan diriwayatkan, Abu Musa Ash Shadafi sampai meninggalkan majelis dan pulang ke rumahnya dengan berdiri dan menampakkan wajah marahnya.
Setelah perdebatan sengit itu, pada malamnya Imam Syafi'i mendatangi rumah Abu Musa Ash Shadafi seraya mengetuk pintu.
"Siapa di depan pintu?" tanya Abu Musa Ash Shadafi.
"Muhammad ibn Idris", jawab Imam Syafi'i.
Mendengar jawaban itu, Abu Musa Ash Shadafi sejenak termenung memikirkan seluruh orang yg dikenalnya dengan nama Muhammad ibn Idris. Tidaklah ia mengenal yg lain kecuali adalah Imam Syafi'i, gurunya.
Ia kemudian membukakan pintu. Dan keduanya saling berpegangan tangan. Kemudian Imam Syafi'i berkata:
"Ya Aba Musa, ala yastaqimu an nakuna ikhwanan wa in lam nattafiq fi mas-alatin? Duhai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara meskipun kita tidak bersepakat dalam satu masalah?" tanya Imam Syafi'i retoris kepadanya.
"Duhai Yunus. Kita bersatu dalam ratusan masalah, lalu kita akan berpisah karena satu masalah saja?
Duhai Yunus. Janganlah engkau berusaha untuk senantiasa menang dalam seluruh masalah. Kita berdua menghidupkan kesamaan hati, itu lebih utama dari kesamaan sikap.
Duhai Yunus. Janganlah engkau robohkanย jembatan yg telah engkau bangun dan engkau lewati, khawatirnya suatu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali.
Bencilah kesalahan, tapi jangan membenci pelakunya. Bencilah kemaksiatan dengan segenap hatimu, namun kasihanilah dan sayangi pelakunya.
Kritisi suatu pendapat, tapi tetap hormati dan muliakanlah orang yg menyatakannya. Karena tugasmu adalah membasmi penyakit, bukan membinasakan orang yang sakit," pesan Imam Syafi'i kepada Abu Musa Yunus Ash Shadafi.
Kisah ini hanya satu 'fragmen' di antara ribuan kisah para ulama terdahulu yg kualitas ilmunya jauh dibandingkan kita bahkan para ulama di zaman ini dalam menjaga adab ketika ber-ikhtilaf, berbeda pendapat. Bahkan, di zaman para sahabat Nabi saw pun lumrah terjadi perbedaan pendapat.
Suatu ketika Abdullah ibn Abbas ra berbeda pendapat dan berdebat serta berselisih tajam dengan Zaid ibn Tsabit ra. Sampai Ibnu Abbas ra berkata dengan nada tinggi: "Apakah Zaid ibn Tsabit dan orang-orang yg mengikutinya tidak takut kepada Allah?!"
Namun, walau pun begitu tajam perdebatan di antaranya tidak sedikit pun melunturkan adab dan ukhuwah di antara mereka.
Ketika Zaid ibn Tsabit menaiki bughal (hewan tunggangan yg jenisnya antara kuda dan keledai) di satu kesempatan, Abdullah ibn Abbas bersegera memegang tali kekangnya dari bawah seraya menuntunnya. Terkaget Zaid. Ia lantas mengungkapkan ketidakenakannya dengan bertanya: "Apa yg engkau lakukan duhai anak paman Rasulullah saw?"
"Beginilah kami diajarkan untuk memuliakan ulama kami", jawab Abdullah ibn Abbas ra.
Tak lama berselang, Zaid ibn Tsabit ra pun turun dari tunggannya itu. Ia meminta kepada Abdullah ibn Abbas ra: "Ulurkan tanganmu wahai anak paman Rasulullah saw."
Saat Abdullah ibn Abbas ra mengulurkan tangannya, Zaid ibn Tsabit ra bersegera meraihnya dan mencium tangan Abdullah ibn Abbas dengan ta'zhim-nya.
"Apa yg engkau lakukan duhai Zaid?" tanya Abdullah ibn Abbas ra.
"Beginilah kami diajarkan untuk memuliakan keluarga Rasulullah saw," jawab Zaid ibn Tsabit ra.
Ibnu Tamiyah menjelaskan, "Sungguh para salaf dahulu telah melakukan kekeliruan dalam masalah-masalah ini. Namun, mereka bersepakat tidak mengkafirkan satu sama lainnya."
(bersambung di bawah)
Pas jadi Gubernur, sok2an teriak gak mau utang ini itu, sempet2 drama komedi nolak2 pinjaman WB - tapi akhirnya terima juga.
Eh pas jadi Presiden, beuh ...
Kalau mau liat cara kematangan berpolitik lihatlah Gubernur NTB dan Gubernur Bali dalam membantu NTT yang terkena gempa. Mereka mendatangi Gub NTT dulu. Lalu rapat bersama di Posko. Kalau KDM datang, nampaknya sebagai content creator.
DESA ADAT TERBAKAR๐ฅ
๐จ INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI'UN! DESA ADAT SADE LOMBOK KEBAKARAN!
Sabtu, 22 Agustus 2026
Kabar duka mendalam menyelimuti dunia pariwisata dan kebudayaan Indonesia. Malam ini, kawasan Desa Adat Sade di Rembitan, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaporkan mengalami musibah kebakaran.
Desa Adat Sade merupakan salah satu destinasi wisata budaya ikonik dan kebanggaan masyarakat Lombok yang memperlihatkan keaslian arsitektur serta kearifan lokal suku Sasak.
Beberapa poin perhatian penting di lokasi wak
๐ Ancaman Terhadap Warisan Budaya & Bangunan Adat
Bangunan rumah adat berbahan dasar bambu dan atap alang-alang kering membuat kobaran api dengan sangat cepat merambat. Musibah ini merenggut material bangunan bersejarah dan ruang hidup warga setempat.
๐ Bantuan Pemadaman & Keselamatan Warga
Petugas pemadam kebakaran (Damkar), BPBD, aparat keamanan, dan warga sekitar terus berjibaku di lokasi untuk memadamkan api dan melokalisir perambatan agar tidak menghanguskan seluruh area pemukiman adat.
๐ Keprihatinan Publik & Kerugian Destinasi
Terbakarnya Desa Adat Sade menjadi pukulan berat bagi sektor pariwisata budaya di Lombok. Masyarakat berharap seluruh warga adat dalam keadaan selamat dan penanganan pascabencana serta rehabilitasi kawasan segera mendapat perhatian penuh pemerintah.
Mari kita kirimkan doa terbaik untuk warga Desa Adat Sade agar diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi musibah ini! ๐๐ฅบ๐
memohon bantuan serta solidaritas bagi warga Desa Adat Sade, Guys! ๐จ๐
Nah ini contoh kerja diluar jobdesc. Cukup kasih bantuan cukup kang dari Jabar. Kasian dong warga Jabar ditinggal Gubernurnya buat ngurusin Provinsi lain
"Tiap buruh harusnya dapat gaji Rp 7 juta per bulan" itu TIDAK REALISTIS kalau skalanya besar dan tanpa kebijakan industri.
Misal kita mau bikin populasi buruh bergaji Rp 7 jt / bulan sebanyak 20 juta orang. Berarti kita butuh pabrik-pabrik yang jika ditotal, harus bisa cetak cashflow Rp 140 T / bulan, atau Rp 1.680 T / tahun.
Kebijakan industri yang dibutuhkan, in turn, adalah penciptaan pabrik sebanyak 200 pabrik baru.
Gw ambil contoh pabrik PT Avia Avian di Jawa Timur yang mempekerjakan 10.000 orang dan menawarkan gaji 7jt. Kita butuh bikin 200 pabrik kayak gitu lagi.
Kalau kita mau seluruh populasi pekerja di Indonesia (150 juta orang) mendapatkan gaji minimum Rp 7 jt / bulan, artinya butuh penciptaan ekonomi yang setara dengan membangun 15.000 pabrik baru, atau sekitar 8 kota Cikarang baru. Di Cikarang saat ini ada 2.000 pabrik.
Produksi barang yang dihasilkan 15.000 pabrik itu harus diserap supaya pabriknya dapat cashflow. Pada masa industrialisasi Asia Timur, ini gampang: ekspor aja ke negara-negara Barat. Langsung dibeli, langsung cashflow.
Kalau rely ke pasar domestik ga mungkin cepat, karena siapa yang mau beli?? Harus cycle bikin 10 pabrik -> orang menjadi kaya dan bisa beli -> bikin 30 pabrik -> seterusnya.
Masih sangat jauh banget.
UMKM mustahil menaikkan standar kehidupan Indonesia karena adalah ekonomi sirkuler.
Misal kamu jualan bakso. Berharap ada yang beli. Siapa yang mau beli kalau ekonomi UMKM semua? Tukang jual bakso lain?
Untuk dapat living standard rumah & baju & sekolah negara maju, kita butuh ini: pabrik baja, pabrik batu bata, pabrik ubin, pabrik mebel, pabrik semen, pabrik cat, pabrik aluminium.
UMKM ga bisa bikin kayak ini buat menyuplai ratusan juta orang. Mustahil. Harus ada agregasi skala. Modal yang awalnya tersebar tidak jelas di ekonomi informal dikonsentrasikan, terus berubah jadi mesin, jadi gedung pabrik, jadi armada truk, jadi organisasi birokrasi manajemen yang kompeten dan bergaji tinggi.
Tanah, bebatuan, bijih, batubara, bensin, cahaya matahari diubah oleh ratusan pabrik menjadi listrik, jadi rumah, jadi mobil, jadi kulkas, jadi LRT, jadi gedung, jadi baju, jadi elektronik. Barang-barang ini diadakan dalam jumlah raksasa untuk ratusan juta orang.
Kemudian standar kehidupan Indonesia maju. Orang-orang yang sebelumnya nggak punya jadi punya.