🗣️ Pelatih Sevilla, Matias Almeyda, di konferensi pers jelang laga vs Barcelona :
"Dunia sedang dilanda perang dan kita malah membicarakan tentang memainkan sebuah pertandingan, itu artinya kita tidak peduli pada apa pun. Itulah sisi menyedihkan dari hal ini; bisnis harus terus berjalan. Disaat ada perang, sementara saya sedang memeras otak memikirkan bagaimana susunan tim untuk bermain dan mematahkan kutukan 23 tahun ini (Sevilla terakhir menang di Camp Nou 2002). Kita beralih dari sesuatu yang sangat indah ke sesuatu yang praktis hampir tidak manusiawi."
"Jika setiap roket yang ditembakkan bernilai €50 juta dan kemudian kita mengetahui bahwa di Afrika ada kelaparan, mengapa tidak daripada menembakkan roket-roket itu, kita membawa €50 juta tersebut dalam bentuk beras dan pendidikan? Kita hidup di dunia yang hanya mementingkan diri sendiri."
China kembali memamerkan inovasi baru dari baterai nuklir berukuran sangat mini. BetaVolt, perusahaan pengembang teknologi tersebut mengungkapkan, daya baterai bisa bertahan hingga puluhan tahun.
~RS
Malam ini tadi, aku males banget sholat tarawih. Benar² malas.
Udah niat, habis sholat isya' trus ngopi.
Setelah sholat isya' selesai dan berdoa. Aku duduk sejenak. Mikir.
"Diberi kesempatan sujud kok disia²kan?" pikirku.
Eh, tapi aku kan lagi malah tarawih.
Akhirnya aku mengaku. "Yaa Allah, hamba ini malas banget tarawih, tapi hamba gak ingin menyia²kan kesempatan yang Engkau berikan untuk bersujud. Jadi ini, hamba sholat tarawih bukan karena hamva orang baik dan rajin, tapi semata karena tak ingin menyia²kan kesempatan bersujud yang Engkau berikan. Ampunkan atas kemalasan hamba dan ampunkan kalo dalam sholat nanti hamba sholat sekedarnya saja," kataku.
Eh, lha kok mulai dari rakaat pertama justru terasa nikmatnya. Ada rasa syukur di setiao sujudnya.
Alhamdulillah.
Sepertinya justru karena pengakuan segala kekurangan diri dihadapan-Nya itulah yang insyaAllah menjadikan Allah ridha.
Wallahu a'lam
Harga tiket di Traveloka NAIK setiap kali lo cek.
BUKAN karena seat makin dikit dan orang udah pada beli, tapi ini algoritma.
Gue cek tiket Jakarta-Bali kemarin. Rp850rb.
Cek lagi 2 jam kemudian. Rp1.1jt.
Pake HP temen? Balik ke Rp870rb.
Mereka pake dynamic pricing buat maksimalin revenue.
Kita bisa lawan algoritma mereka.
Ini cara yang gue lakuin buat hemat tiket pesawat yang Traveloka gak mau lo tau:
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh : Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, disuruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda, tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Sumber : FB
Dengan semakin meningkatnya optimisme masyarakat Indonesia menyambut Ramadan 2022, ada banyak peluang untuk brand terhubung dengan masyarakat melalui cara yang paling bermakna.
Lihat laporan insight Ramadan kami untuk membantu anda merancang kampanye Ramadan terbaik.
🧵
Big Thread: After a few more days of war, I've been carefully monitoring Russian social media reaction and production and I'm more convinced than before that Putin's regime has totally overestimated its ability to win a propaganda war.