@tanyarlfes Eh monyet meriang kah badan lu kalau gak nyenggol gen z ? gue gen z tapi waktu kecil gue sering ya mainin tu balon, trus kalau udah gede gue teplokin ke muka gue, sampai sekarang pun kalau gue nemu begituan masih gue mainin
eh gue juga pengen kayak mark lee. resign, terus pas ditanya orang “kerja di mana sekarang?”
jawabannya, “di perusahaan saya.”
anjay mau juga begitu when yh
Tadi sore balik gawe gambil baju di laundry langganan:
🧕🏻: a udah selesai ya bajunya
👮🏻♂️: iya teh ini mau cuci lagi, kaya biasa ya yang sehari. Lah, itu duit siapa teh?
🧕🏻: itu dari saku kemeja aa nya kemaren
👮🏻♂️: *speechless* jujur ga ngeh dan ga inget. Makasih ya teh baik banget ga kaya pejabat konoha.
🧕🏻: hahaha bisa aja a (ketawa karir) yang baru totalnya segini ya a, mau bayar pake apa?
👮🏻♂️: pake cash yang ini aja teh hehehe
🧕🏻: hehehe hore.
👮🏻♂️: hore, selamat.
Ternyata masih banyak orang orang yang kaya gini (walaupun ga banyak). Sehat selalu dan lancar rezekinya orang orang jujur dan berintegritas kaya teteh yang satu ini. Respect! Bakal langganan.
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.
Yang membuat hancur seseorang itu adalah serakah.
Ga bisa merasa cukup.
Serakah ini mengakar dari semua kalangan.
Mau kerja enak, santai tapi duit gampang banyak.
Enough is enough.
Ra iso berpikir ngono.
@tanyakanrl Kenapa setiap ada perselingkuhan yang di Spil cuma ceweknya aja ? Kenapa yg cowok disembunyikan? Padahal kan selingkuh itu sama-sama mau, atau emang ada perselingkuhan itu yang satunya mau yang satunya enggak ?