Beasiswa Swedish Institute sudah dibuka kembali. Untuk tahun ini, beasiswa ini dibuka untuk dua jenis. Pertama beasiswa SISGP seperti biasa yang menargetkan para profesional dan yang kedua Pioneering Women in STEM yang menargetkan perempuan dengan keilmuan bidang STEM
Ada profesor filsafat di Harvard yg keras banget mengkritik meritokrasi sampai dia nulis buku yg intinya bilang merit itu tirani.
Dan bahwa merit itu sulit sekali dipisahkan dari kondisi ekonomi.
✅ Ini nggak sesederhana kaya vs miskin
✅ Merit ada sisi gelapnya: mereka yg bisa “naik” umumnya berpendapat itu deserved, mereka kerja keras - sayangnya sering lupa ada kondisi pendukung.
Jika hanya yg “kerja keras” yg bisa sukses, apa iya yg belum berhasil
itu juga deserve demikian karena kerja kurang keras?
Belum tentu.
✅ Humility, atau kerendahan hati, adalah cara untuk mencegah tirani merit makin menjadi :)
Jika Prof. Sandel ngasih konteks AS, di Indonesia “academically gifted” itu bisa jadi karena punya privilese:
✅ Listrik nggak byarpet (bayangin belajar malam hari nggak ada lampu, atau di kelas cara ngajarnya masih konvensional)
✅ Makan bernutrisi (nggak harus daging, gizi seimbang)
✅ Pekerjaan ortu stabil, anak nggak harus bantu kerja (ada lho anak Indonesia yg mesti “bolos” bulanan ngikuti masa panen ladang/kebun)
✅ Akses sekolah baik (nggak harus nyebrang pulau, sungai, jalan sekian km)
✅ Ketemu guru yg hadir dan bisa mengajar dengan baik (tau sendiri kita kekurangan pengajar)
✅ Tinggal di kota (yap!)
✅ Lotre genetik (ini beneran nggak bisa diatur)
Jadi aku sepakat sama Prof. Sandel, humility itu pentiiiiing banget untuk mengimbangi meritrokrasi.