Yang menjijikkan dari skandal di Badan Gizi Nasional bukan hanya dugaan korupsinya. Namun juga cara banyak pejabat dan elite politik tiba-tiba berbalik arah setelah kasus itu meledak.
Ketika MBG diluncurkan, kritik hampir tidak diberi ruang. Setiap pertanyaan tentang anggaran, tata kelola, kesiapan infrastruktur, transparansi pengadaan, hingga risiko kebocoran dana dianggap sebagai sikap anti-pemerintah atau tidak mendukung perbaikan gizi anak. Buzzer dikerahkan, bahkan militer meneror ortu yang mengeluhkan kualitas MBG. Padahal sejak awal MBG adalah program raksasa dengan anggaran yang terus membengkak, bahkan menjadi salah satu pos belanja terbesar negara.
Saat itu, banyak pejabat berlomba-lomba menjadi juru bicara program. Mereka memuji tanpa reserve. Mereka menjual optimisme, mengulang slogan, dan menampilkan keberhasilan yang jauh dari terbukti. Kritik dianggap musuh dan antek asing.
Kini, orang-orang yang dulu paling keras membela program mendadak menjadi pengkritik. Mereka berbicara tentang perlunya evaluasi, pengawasan, audit, dan transparansi. Seolah-olah mereka tidak pernah menjadi bagian dari barisan yang membungkam pertanyaan-pertanyaan itu sejak awal.
Fenomena ini menunjukkan moral
hazard.
Kalimat "Kalau Dipanggil Yang Maha Kuasa Saya Tetap Monitor Kalian," ini problematis.
Secara literal, kalimat itu menyatakan bahwa bahkan setelah meninggal (“dipanggil Yang Maha Kuasa”), seseorang masih akan “memonitor” orang lain. Tentu ini mustahil secara faktual. Karena itu, kalimat tersebut bukan pernyataan literal, melainkan metafora. Masalahnya, metafora yang dipilih menyiratkan bahwa pengawasan dan kontrol pribadi melampaui batas kehidupan. Dalam budaya demokrasi modern, kekuasaan seharusnya melekat pada institusi, bukan individu. Ini seolah-olah hendak menyatakan, bahkan kematian tidak mengakhiri kekuasaan seseorang.
Ada cerita klasik di masa Dinasti Han Timur, sekitar tahun 25 Masehi.
Ceritanya, ada pejabat muda menunggang kuda melewati jalan ramai.
Kudanya gagah, tenang, badannya kuat.
Orang-orang di pinggir jalan mulai memuji:
“Hebat kudanya.”
“Bagus sekali.”
“Ayo lebih cepat.”
“Lari lagi.”
Si pejabat muda senang.
Makin dipuji, makin percaya diri, kudanya dipacu lebih keras.
Semakin banyak orang yang memuji, semakin kencang kuda itu berlari.
Sampai pada akhirnya kuda itu kelelahan, roboh, lalu mati.
Kisah ini dicatat oleh Ying Shao, seorang sarjana terkenal pada masa Han Timur, dalam kitab Comprehensive Meaning of Customs and Mores atau 《风俗通义》.
Dalam bahasa Tiongkok modern, inilah yang disebut pěng shā: pujian yang pelan-pelan membunuh.
-----
Hikmahnya:
Yang paling berbahaya kadang bukan musuh yang menyerang dari depan, tapi orang-orang terdekat yang tetap bertepuk tangan saat kamu dengan percaya diri menghitung 10+6=17.
Sekarang ngomong begitu. Desember 2025 lalu masih puji-puji MBG setinggi langit, dan klaim turut serta di dalamnya. Nih kutipan omongannya,"Jadi ini pekerjaan kita semua. Kalau dulu kami enggak diajak, sudah ada Perpres 115 bahwa ini pekerjaan kita bersama," ujar Zulhas.
Padahal saat itu sudah banyak kasus dan kritik.
Mental pejabat di Indonesia rata-rara begini, saat masih di atas angin ramai-ramai menjilat dan tidak mendengar masukan publik. Setelah ada yang jatuh, ramai-ramai ikut menghujat seolah-olah tidak terlibat dengan kegagalan sebelumnya.
Padahal sebagai Menko Pangan, koordinasi operasional BGN juga di bawah dia. Artinya dia juga mesti ikut tanggungjawab soal buruknya desain BMG sejak awal.
Baca di sini: https://t.co/F09JLeKpnf
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengimbau masyarakat melepas simpanan dolar AS karena meyakini rupiah akan terus menguat, sehingga pemegang dolar berpotensi mengalami penurunan nilai aset jika tetap menyimpannya.
~IQ #dollar#Dasco #rupiah
Bagaimana menurut sahabat tentang kondisi ekonomi kita saat ini? Apakah sesuai dengan klaim manis Pemerintah tentang angka kemiskinan yang telah menurun?
Sekali waktu, ngobrol sama orang Regional di Bappenas.
Beliau bilang, banyak kewenangan di daerah jarang dioptimalkan oleh Pemda.
Contoh Sederhana: Parkir, Sampah.
Menurut Beliau, retribusi RESMI Parkir berapa sih, kadang cuma sekedarnya. Justru diambil, Parkir Ilegal yang amat sangat cuan dan menjamur. 😁
Presiden Prabowo Subianto menyebut pihak-pihak yang menghasut dan memecah belah masyarakat tidak bekerja untuk kepentingan Indonesia.
"Kalau ada yang menghasut memecah belah yakinlah dia bekerja untuk orang lain bukan untuk orang Indonesia saudara-saudara," ujar Prabowo dalam pidato pidato pembukaan Munas HIPMI XVIII di Bandar Lampung, Rabu (10/6).
Prabowo menekankan Indonesia butuh pengusaha yang militan, cerdas, dan tidak mudah menyerah.
Baca informasi selengkapnya di https://t.co/wP16vn5KQq.
(📸 Sekretariat Presiden)
#cnnindonesia #cnnindonesiacom #prabowosubianto
prabowo: "kenapa saya ingin jadi presiden? karna saya sudah lihat dari tahun 90-an indonesia menuju arah yg salah"
sekarang malah tambah salah lagi wo 😭
@AnKiiim_ Pantesan di video cuma animasi prabowo doang ternyata emng nggak bakal turun ke rakyat yang aslinya, dan yang ada di animasi dimana² cuma prabowo doang wakilnya cuma di jadiin pajangan doang ternyata
Ya Allah mo nangis 😭 tadi ada ibu² dijambret, respons warga malah "ya wajar, tambang emas ditutup, orang susah." aku coba jelasin dampak lingkungannya, tetap ngeyel. Wo liat Wo 😭 rakyat lo udah di titik dmn ngejambret dianggap wajar dan yg menyedihkan mereka ga merasa itu salah