- “Tak hanya kehilangan fokus, kau juga mulai kehilangan adab.”
Lantas ia bangkit, menciptakan derit yang mengisi hening.
Melangkah meninggalkan secangkir kopi yang telah dingin.
[ @quelpersonne ]
- kemampuannya terbatas pada membuat Roderich kesal?
Koran ditutup; ada sepercik nyala cemburu yang tersulut dalam dada sang maestro.
Ia menarik napas—sesak terasa menusuk, alih-alih memadamkan kobaran yang tersulut. -
- Dan masih, egonya melontarkan titah untuk menghujamkan salah kepada Elizaveta.
Ia takkan berhenti hingga Elizaveta mengaku salah.
Bukankah cinta ada untuk menyempurnakan?
Prinsip itulah yang Roderich pegang dengan teguh.
[ @quelpersonne ]
- pura-pura acuh sembari membentangkan koran yang dipenuhi oleh berita perekonomian dunia.
“Oh.” Singkat—disela oleh suara lembaran koran yang dibalik.
“Mungkin kualitas biji kopinya. Lain kali, pilih yang lebih baik.” -
“𝐸𝑙𝑖𝑠𝑒, kau mendengarkanku?”
Cangkir yang masih mengepulkan uap tipis tak lagi tersentuh oleh sang tuan.
Selayang protes telah ia sampaikan, namun hingga kini tak kunjung menuai balasan. -