Lo sebel Indonesia ga lolos ke Piala Dunia sampai tau fakta kalo waktu Patrick Kluivert lagi nganggur dan akhirnya ditunjuk jd pelatih Timnas, John Herdman juga posisinya lg nganggur
Level sebelnya jadi double, triple, x100
Someday, kita bisa jadi bagian dari mereka, alias kita-kita semua diberikan rezeki buat melihat dan merayakan (lagi) juaranya Arsenal di Londun Utara, Emirates Stadium.
1..
2..
3..
Aamiin.
Makin ke sini ngejalanin hari ga tenang karena ga ada rasa aman & nyaman, terutama soal kek mana hidup gue di masa depan ya di tempat macam ini.
Sama kayak ada sesuatu yg ganjel tapi ga tau apa. Bom waktu yg gak keliatan tapi sewaktu-waktu bisa meledak. Intinya nyangkut rasanya
Arsenal lolos ke final UCL
Lima tahun lalu gak mungkin itu kejadian. Ngeliat backline yg isinya Holding, Cedric, Chambers, Pablo Mari, dkk, bisa peringkat 8 aja udah oke banget itu.
Tapi skrg jauh bgt bedanya backline mereka, jaraknya ibarat eksosfer & kerak bumi. David Raya bisa menang golden gloves EPL 3 musim berturut-turut dah cukup ngejelasin.
Udah pernah juara EPL secara unbeaten, skrg berpeluang juara UCL secara unbeaten juga.
Sebenernya semua masih bisa terjadi. Arsenal masih mungkin kepleset lagi. Manchester City masih mungkin nyalip lagi.
Tapi jujur lebih milih Arsenal juara musim ini 🫣
Sebagai apresiasi akan perubahan pandangan yg mereka alami musim ini.
Musim ini, Arsenal seakan jadi "public enemy" karena gaya main mereka.
Bahkan sampai dilabeli 'haramball'. Padahal secara rata-rata, mereka masih menguasai lebih dari 55% bola, peringkat tiga dalam urusan sentuhan di kotak lawan, jumlah penciptaan peluang besar, dan xG (setidaknya hingga pekan 35 ini).
Hanya karena permainan yg bagi sebagian orang kurang enak di mata, pertahanan kuat, dan sangat mengandalkan bola mati, mereka dimaki.
Para suporter Arsenal pun berbondong-bondong membela klub kesayangan mereka setiap kali serangan ini muncul.
Entah sadar atau tidak, musim ini telah berhasil mengubah pola pikir mayoritas dari mereka.
Karena ada masanya, Arsenal adalah tim yang sangat bangga akan "permainan cantik" mereka.
Ketika klub Inggris lain seakan menghalalkan segala cara untuk tiga angka, Arsenal asuhan Arsene Wenger berprinsip bahwa menang harus memanjaka mata. Harus dilakukan dengan gaya 🕺
Di Inggris, Arsenal lah yang mulai menanamkan pemikiran bahwa sepakbola itu harus memberikan harapan. Menang jangan asal, tapi juga harus "indah". "Victory through harmony," yang jadi motto Arsenal bahkan ikut dikaitkan dengan hal ini.
Namun, liat mereka sekarang. Mereka lelah main "indah" ala Wenger. Mereka mengorbankan idealisme yg ada, dan berhasil melihat keindahan dari sisi yg berbeda 🪟
Sekarang, Arsenal bangga jadi "Corner Kick FC", dan suporternya mati-matian membela hal itu.
Padahal dulu, Wenger yg menyebut Stoke City klub rugby 🏉
Dulu, melawan tim yg kuat secara pertahanan, dan efektif transisi sering bikin suporternya frustasi.
Setelah bertahun-tahun melihat Philippe Senderos, dan Pascal Cygan. Paling bagus mungkin Kolo Toure, Thomas Vermaelen, dan Laurent Koscielny. Musim ini, pertahanan kuat akhirnya mulai mereka apresiasi 🧱
Walaupun masih ada peluang untuk terpleset lagi. Akan menjadi kepuasaan tersendiri melihat Arsenal juara seperti ini.
Terlepas dari benar atau tidaknya label yg disamatkan pada mereka, karena semua bisa diperdebatkan. Ada yg mengatakan, persepsi adalah relita.
Berhasil juara pastilah prestasi. Prestasi yg sudah lama dinanti. Sekalipun di dalamnya terdapat ironi 🍺😉
Guys, ada momen di rapat DPR
seorang anggota DPR marah dan heran
Dan yang ngomong ini bukan aktivis.
Bukan pengamat.
Ini anggota DPR sendiri yang semprot Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya secara langsung di depan muka.
Pertanyaan yang paling mendasar yang dia lempar:
Kalau kita sudah punya big data
orang datang ngurus KTP
masa dimintain fotokopi KK lagi?
Gua punya KTP untuk apa?
Masih dimintai fotokopi KTP.
Kan aneh.
Surat lahir,
surat baptis masih diminta.
Wah, pusing. Negara kita kayak begini.
Ini bukan pertanyaan teknis yang butuh jawaban panjang.
Ini pertanyaan yang semua orang Indonesia pernah tanyakan dalam hati setiap kali berurusan dengan birokrasi.
Dan jawabannya tidak pernah memuaskan selama puluhan tahun.
Faktanya yang bikin makin miris perbandingan dengan Malaysia:
Indonesia punya e-KTP sejak 2011.
Ada chip NFC.
Ada data biometrik.
Teknologinya canggih.
Anggarannya triliunan rupiah.
Malaysia punya kartu yang secara teknologi identik namanya MyCAD.
Bedanya satu hal:
Malaysia benar-benar memakainya.
Di Malaysia mau isi BBM subsidi tinggal tap MyCAD di pompa bensin.
Sistem langsung cek identitas, cek kuota, kasih harga subsidi otomatis.
Tidak perlu antri.
Tidak perlu surat keterangan.
Tidak perlu aplikasi.
Tidak perlu fotokopi.
Setiap warga dapat kuota 200 liter per bulan.
Kalau kuota habis bayar harga normal.
Tidak bisa diakali.
Kalau ketahuan curang kuota diblokir permanen.
Hasilnya:
pemerintah Malaysia hemat RM600 juta per bulan.
Penjualan diesel bersubsidi turun 30%. Penyelundupan langsung terdeteksi.
Indonesia?
e-KTP yang sama teknologinya selama 15 tahun masih dipakai untuk difotokopi.
Dan ini yang paling menohok dari seluruh pidato itu:
Kita harus bilang kita lebih bodoh dari orang Malaysia kalau urusan ini.
Karena enggak pernah kelar.
Kalimat itu keras.
Tapi tidak salah.
Soal pemborosan anggaran yang berlangsung setiap tahun:
Ini yang menurut gue paling menyakitkan secara fiskal.
BNI punya data nasabah sendiri.
Pertamina buat sistem data sendiri untuk subsidi.
KPU setiap pemilu buat pendataan pemilih sendiri yang nilainya triliunan setiap siklus.
BPJS punya database sendiri.
Kemendikbud punya data sendiri.
Kemensos punya data sendiri.
Semua lembaga membangun silo data masing-masing.
Semua dengan anggaran masing-masing. Semua dengan vendor masing-masing.
Semua dengan tender masing-masing.
Dan di ujung semuanya data tetap tidak terintegrasi. Rakyat tetap diminta fotokopi KTP setiap kali berurusan.
Kita kalau urusan ngamburin uang tuh juara satu. Untuk data saja triliunan kita buang tiap tahun.
Cerita yang paling menyentuh dan ini yang paling human:
Anggota DPR ini bercerita soal kondisi di dapilnya di Kalimantan Utara.
Banyak warga dari NTT, NTB, Toraja yang kerja di Malaysia banyak secara ilegal.
Ketika mereka diusir setelah tidak digaji atau dieksploitasi paspor dan KTP mereka sudah disita oleh majikan.
Mereka pulang ke Kalimantan tanpa dokumen.
Tanpa uang.
Tanpa apa-apa.
Dan ketika mereka coba mengurus KTP baru mereka diminta KK.
Diminta fotokopi KTP lama yang sudah disita.
Diminta surat lahir yang ada di kampung di NTT yang jauh.
Untuk makan aja enggak ada. Sekarang mereka terkapar di perkebunan-perkebunan, digaji di bawah UMR, enggak punya BPJS, enggak punya apa-apa.
Dan sistem birokrasi yang seharusnya melindungi mereka justru menjadi tembok yang tidak bisa ditembus.
Makanya saya bilang KTP itu hak asasi.
Soal keamanan data ini juga perlu diangkat:
Dia menyebut setiap hari dia menerima minimal 50 WhatsApp dan telepon yang menawarkan emas, saham, investasi bodong.
Gimana keamanan data kita ini?
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Masa kita terus diganggu hal seperti ini?
Dan tidak ada jawaban jelas apakah yang bocor itu data adminduk, data bank, atau data operator telekomunikasi.
Tidak ada institusi yang maju mengambil tanggung jawab.
Solusi yang dia minta dan ini bukan permintaan yang rumit:
Satu — sinkronisasi semua data di bawah satu gatekeeper. Kemendagri sebagai pemegang e-KTP harus jadi koordinator. Semua lembaga lain berhenti bikin database sendiri.
Dua — chip e-KTP harus diaktifkan untuk semua layanan publik. Tidak ada lagi fotokopi. Tidak ada lagi surat lahir. Cukup tap kartu.
Tiga — presiden harus turun tangan dan memerintahkan sinkronisasi ini di level ratas. Karena tanpa political will dari atas tidak ada satu lembaga pun yang akan mau menyerahkan kewenangan datanya.
"Jangan nanti KPU dibentuk, tahun berikutnya mengusulkan 2 triliun untuk identifikasi pemilih. Enggak habis-habis kalau begitu terus."
Sudah 80 tahun merdeka. Sudah 15 tahun punya e-KTP. Dan kita masih dimintai fotokopi KTP untuk mengurus KTP.
Kalau itu bukan kegagalan sistemik yang harus dipertanggungjawabkan gue tidak tahu apa lagi namanya.
Usia 25–30 itu fase hidup yang paling aneh:
- Temen2 mulai pada nikah
- Ada yang lagi beli rumah baru
- Ada juga yang masih berjuang buat mulai
- Orang tua makin bertambah usia
- Malem2 sering overthinking
- Waktu rasanya makin cepat berlalu
Rating berlebaran as introvert
Disapa duluan: 10/10, lanjut ngobrol luwes
Ngobrol sm bocil: 8/10, yg anteng & ringan2 aja
Melihat puluhan manusia rame: 2/10
Hp lowbatt & mati: 0/10, mati gaya natap langit2
Masih dapet THR di umur 25: 100/10
Done today, social battery gone
Lebaran canon events:
1) liat sepupu yg seumuran cerita-cerita udah sukses
2) liat sepupu yg seumuran udah nikah dan punya anak
3) liat sepupu lawan jenis yg lama ga ketemu terus pas besar makin rupawan