Abul Walid Al-Baji berkata,
"Andai kutahu kalau jatah hidupku tinggal menunggu waktu mengapa tak kukhususkan dan kujadikan dalam keshalihan dan ketaatan selalu."
(Tartib Al-Madarik, 8/125)
Kutipan kali ini aku baca dari kitab Hakadza Allamatnil Hayah karya Syaikh Mustafa As Siba'i.
"Seberat apa pun rasa sakitmu karena kehilangan yang kau cintai—baik kesehatan, harta, dan lainnya—sesungguhnya nikmat Allah yang masih tersisa masihlah modal besar untuk bahagia."
Mbatik x SAMDAY
Anak kalcer Baitul Maqdis
Yang membedakan kita (muslim) dengan yang lain dalam membela Baitul Maqdis adalah 'alasan'
Kita adalah generasi yang menolak lupa
Sedia payung sebelum hujan, sedia ilmu sebelum pembebasan
-Ustadz Edgar Hamas
Jadi, ternyata kita cuma sekedar angka ya?
Bukan nyawa yang punya kenangan, impian dan air mata?
Jadi, seperti inilah rasanya jadi orang Gaza ya. Hanya dianggap statistik belaka.
kekayaan Sumatera milik nasional sementara bencananya tidak?
Ah, bahkan kekayaannya hanya milik segelintir orang. Bencananya ditolong rakyat senasional.
Yang seharusnya ngurus bencana lagi sibuk bilang "kami kira tidak akan sebesar ini."
Bapak - bapak yang di atas. Kalau levelnya pejabat bantu korban banjir tu bukan datang bawa beras. Level bapak tu di pembuatan aturan pencegahan, lalu ngebenerin yang rusak.
Tapi susah sih. Ibaratnya dia bakar rumah terus pas warga ribut dia datang bawa air seember.
Kita mengucapkan selamat hari guru,
Yang keadaannya tidak selamat.
Kita memperingat hari guru,
yang lelahnya penuh keringat.
Tidak dihargai oleh pemegang kebijakan,
Di tengah bangsa yang tidak bijak,
Dan marwah guru yang diinjak-injak
bahkan oleh muridnya sendiri.