I WANTTTTT that boring Muslim life. Fajr. Qur’an. Halal rizq. Gym. Dhikr. A small circle. Less posting. Less explaining. Less drama. More Salah. More solitude. More peace. Honestlyyyyy, if getting closer to Allah makes my life look boring, I'LL TAKE ITTTTT.
Bismillah Terkabul🥹
- Gaji 6-8 juta per bulan (PPH ditanggung kantor)
- Senin - Jumat (08.00 - 16.30) sabtu minggu libur
- BPJS Kesehatan & BPJS Ketenagakerjaan dari perusahaan.
- Mendapat makan siang dari kantor.
- Lingkungan kerja yang sehat, nyaman, dan positif.
- Memiliki atasan yang baik, suportif, dan mau membimbing.
- Rekan kerja yang baik, saling menghargai, dan saling mendukung.
- Memiliki waktu dan fasilitas untuk menjalankan salat wajib maupun salat sunnah dengan nyaman.
Abdullah ibn Mas'ud RA yang tanya soalan tu.
Nabi SAW jawab:
"As-salatu ala waqtiha."
Solat pada waktunya.
Riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim,
Kitab Mawaqit as-Salah.
Bukan solat yang panjang.
Bukan solat yang banyak rakaat.
Solat yang dijaga waktunya.
@intinyadeh mari kita coba
sekarang masih 27 akhir tahun ini 28 hehe,
kalo bisa tangerang aja, biar ga jauh2..
mungkin bisa mulai dari perkenalan?
hmu🙌
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
Mulai ada perasaan takut, padahal sudah jelas ada Tuhan yang selalu menopang
Semoga Allah mudahkan dan kuatkan setiap langkah
Jujur mulai takut bgt setiap ganti hari
Mampir Ke Warung Cuman Mau Ngabarin Kalau Sudah Keterima Kerja Di Matahari
Sebuah video menyentuh memperlihatkan momen dua kakak tunarungu yang menceritakan kepada ibu warung bahwa mereka berdua telah diterima bekerja di Matahari.
Dengan bahasa isyarat dan ekspresi penuh bahagia, keduanya menyampaikan kabar tersebut. Ibu warung yang mendengar pun ikut terharu dan bangga atas pencapaian mereka.
Momen ini menuai banyak doa dan dukungan dari warganet. Banyak yang berharap keduanya sukses dan semakin mandiri ke depannya.
Ini rahasia teknik brand marketing dari Jepang.
Saat branding sudah cukup dikenal, maka yang dikurangi adalah pendekatan rasional karena pendekatan emosional efektif meningkatkan penjualan dengan memangkas banyak langkah pengambilan keputusan.
Caranya bagaimana?