Warga STOP dulu ngomongin ARTIS!
• Ukraina nyerang kilang minyak di Moscow
• Timur Tengah makin memanas
• USA dan Iran eskalasi makin tinggi
• Israel terus gempur Palestine dan Lebanon.
• Selat hormuz, bab al-mandab ditutup,
• Kilang minyak rusia dirusak.
• Kemungkinan harga minyak bumi akan mahal dan langka
• Negara-negara Eropa sedang bersiap untuk keadaan darurat
• Kekeringan dan kebakaran di mana-mana
• Presiden kita Prabowo
• Menlu kita Sugiono
• Mentri ESDM kita Bahlil.
• WAPRES KITA GIBRAN!
BMKG sudah rilis Peta Simulasi Dampak dan Mitigasi Megathrust wiayah Jawa
Nah, apa yang bisa kita lakukan dan persiapkan?
1. Pahami Lingkungan Sekitar kita
- Cek peta kerawanan bencana di wilayah masing-masing
- Ketahui rute evakuasi menuju tempat tinggi
- Tandai titik kumpul aman terdekat di lingkungan rumah dan tempat kerja
- Ketahui lokasi pengungsian akhir yang sudah ditentukan pemerintah daerah
2. Persiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) Isi satu tas ransel dengan kebutuhan dasar untuk 3 hari:
- Air minum dan makanan instan/tahan lama
- Kotak P3K, obat-obatan pribadi, dan sanitasi
- Senter, baterai cadangan, dan peluit untuk alat panggil bantuan
- Powerbank dan pakaian ganti secukupnya
3. Amankan Dokumen dan Aset Penting
- Simpan berkas penting (ijazah, sertifikat, akta, surat berharga) dalam wadah anti air
- Buat salinan digital di penyimpanan awan (cloud)
- Siapkan surat wasiat atau catatan aset keluarga di tempat aman sebagai antisipasi risiko terburuk
4. Diskusi dengan Keluarga terkait Rencana Darurat
- Buat kesepakatan jalur komunikasi jika jaringan seluler terputus
- Tentukan siapa bertugas membawa apa saat situasi darurat
- Simpan nomor-nomor darurat lokal di ponsel (BPBD, ambulan, polisi, pemadam dll)
Kalau ada simulasi mandiri bisa diikuti secara berkala ya manteman.
Bencana tidak bisa kita prediksi kapan datangnya, tapi dampaknya bisa kita tekan dengan persiapan yang matang.
Tetap tenang, rasional, dan terus tingkatkan literasi kebencanaan kita.
Mari saling jaga dan saling ingatkan...
1998: MENCULIK 9 AKTIVIS
2026: MERACUNI 42.000+ ANAK-ANAK 💀💀
AND HE SAID "CUMA KERACUNAN BIASA"
MEANWHILE, DI SUMUT, ADA SISWI SMK YANG HAMPIR 70% KEHILANGAN INGATANNYA SETELAH KERACUNAN
gw rasa maganghub akan ngerusak pasar tenaga kerja. at the end perusahaan akan berbondong2 jadi mitra maganghub. enak. dapet employee gratis tanpa ngeluarin modal😌
Masih soal fiksi 🤣🤣🤣
Jangan bosan ya.
Saya sedikit berbagi pengalaman saja saat saya menjadi seorang development editor untuk sebuah penerbit di Amerika yang menerjemahkan karya penulis Indonesia.
Bagi yang belum tahu apa itu development editor, ia adalah editor yang memeriksa kekonsistenan cerita, baik itu dari segi alur plot, waktu, ruang, dan fakta2 dalam cerita yang bisa dianggap mengganggu.
Saya terus terang kurang tahu apakah editor semacam ini cukup lazim di Indonesia. Pekerjaan ini terlalu berat untuk dirangkap oleh editor bahasa, karena cukup melelahkan.
Ini ada beberapa contoh koreksi yang pernah saya lakukan.
1. Kesinambungan jumlah orang dalam satu adegan. Kalau di awal adegan 10 orang misalnya, sampai akhir adegan ya mesti 10 orang juga. Di film ini juga sering kasus dalam continuity shot. Kalau shot diambil dua kali, padahal adegannya kontinu, bisa jadi ada barang yang hilang atau bergeser.
2. Cek fakta sains. Misalnya jika umur anjing maksimal umumnya adalah 15 tahun, maka jika di dalam cerita digambarkan anjingnya ada sejak tahun 2000 dan masih hidup sampai tahun 2025, tentunya aneh.
3. Cek fakta sejarah. Ini penting banget, terutama untuk novel yang settingnya riil. Misalnya diceritakan ada adegan di mal di suatu kota di tahun 1980, padahal mal pertama di kota itu dibangun tahun 1990. Jadi aneh, bukan.
4. Cek kesinambungan waktu. Misal perjalanan dari titik A ke titik B jika naik kuda dengan kecepatan rata2 maksimal 40 km/jam, dibutuhkan waktu 2 jam, dan di cerita hanya 1 jam, jadi aneh bukan? Kecuali digambarkan dalam dunia fantasi dan kudanya dikasih ramuan khusus atau ada efek sihir.
5. Yang paling sulit adalah kewajaran istilah yang dipakai. Misal kata gokil itu baru dimulai di akhir 70-an. Jadi kalau adegan ceritanya tahun 60-an, pemakaian kata ini jadi terdengar tidak wajar.
anyway soal bicara di depan cermin...
flashback tahun 2023 ketika Najwa Shihab buat acara dialog publik dgn 3 bacapres waktu itu di UGM
ada sesi bacapres refleksi & bicara depan cermin
dari 3 bacapres, cuman Prabs yg menolak ngomong di depan cermin
"Harga buku di Indonesia kemahalan."
Aku dulu juga mikir gitu.
Tapi setelah ngobrol sama beberapa orang di industri penerbitan, aku sadar...
yang mahal ternyata bukan cuma bukunya. Sistem di baliknya juga.