Putri duduk manis dengan kaki terentang lebar begitu. Roknya tersingkap, jari-jariku perlahan memisahkan bibir licin itu, memeriksa setiap inci yang berkilauan sementara kau gemetar. "Lihatlah kemaluan kecil yg haus ini, sudah meneteskan cairan untuk diperiksa."
Boneka kesayangan yg sempurna berputar-putar dengan rok mini tanpa apa pun di bawahnya. Tanpa cd, tanpa pikiran, tanpa kekhawatiran—hanya makhluk kecil yg kosong pikirannya, berpakaian persis seperti yg kusuka, ada untuk menyenangkan, tanpa tujuan lain selain menjadi boneka.
Orgasm dahsyat lainnya menerjangmu, tubuhmu tersentak, air mata mengalir, tapi aku tak berhenti. Tanganku tetap terkunci di antara paha gemetarmu, memaksa lebih banyak lagi. Kau terbatuk-batuk mengucapkan "terima kasih" di antara isak tangis.
Aku merasakan kondomnya robek di tengah dorongan—panas, tiba-tiba, telanjang. Tak berhenti. Tak bisa. Menggenggam pinggulnya lebih keras, membenamkan lebih dalam, membanjiri rahim kecilnya yang ketat dengan denyutan demi denyutan yang deras sementara dia merintih..
Kau memang ditakdirkan untuk kalung ini, kan, sayang? Kemaluanmu sudah menetes seolah tahu apa yg akan terjadi, satu tarikan tajam pada tali kekang dan lututmu akan menyentuh lantai sebelum pikiranmu sempat menyadarinya.
Dia berpegangan erat padaku seolah aku satu-satunya jangkar baginya—lengannya melingkari erat, kukunya mencengkeram bahuku, seluruh tubuhnya gemetar saat aku perlahan-lahan menariknya ke tepi lalu berhenti, berulang kali. Permohonan kecilnya yang terbata-bata teredam di leherku.
Minumlah lagi, syg. Aku tidak bertanya berapa banyak yg sudah kau minum, kan? Jangan khawatir, aku akan mengawasimu. Sekarang, lebarkan kakimu dengan benar, biar aku periksa sesuatu. Aduh, kenapa celana dalammu basah sekali, syg? Apakah minum membuatmu begitu haus?