"Seeing how you two look different yet similar at the same time, I'm just curious about your childhoods," Konekomaru said out of the blue as the group of boys—himself, Shima, Ryuji, and Rin—were having lunch together.
"Seeing how you two look different yet similar at the same time, I'm just curious about your childhoods," Konekomaru said out of the blue as the group of boys—himself, Shima, Ryuji, and Rin—were having lunch together.
"And seeing how he's grown now, I feel so proud of him!" Rin said with a grin, smiling widely.
Unfortunately, the person they were talking about didn't feel that way about himself.
Ia tidak percaya pada keajaiban, pada cerita dongeng yang kerap didengarnya sejak kecil. Ia tidak percaya pada keberadaan sosok pahlawan. Karenanya, ia sama sekali tidak pernah menaruh harapan.
Harapan yang tidak akan pernah terwujud itu, hanya membawa penderitaan dan rasa sakit
Ia tidak percaya pada keajaiban, pada cerita dongeng yang kerap didengarnya sejak kecil. Ia tidak percaya pada keberadaan sosok pahlawan. Karenanya, ia sama sekali tidak pernah menaruh harapan.
Harapan yang tidak akan pernah terwujud itu, hanya membawa penderitaan dan rasa sakit
wadah senjata biologis.
"Lakukan sesukamu." Kata singkat yang terucap lemah itu, secara tidak langsung menyatakan bahwa ia menyetujui untuk menjadikan dirinya sebagai wadah senjata—atau apapun yang diinginkan pemimpin mereka.