What I'd do if one day I'm getting married is cooking him his favorite food, giving him massage after a tiring day, listening to story abt his day, laughing at his silly joke, loving him as much as I could.
Don't get married so you can receive.
Get married so you can contribute.
@SAIBdelvi because of that aku sangat mencintai segala bentuk kehidupan manusia, suka dengan berbagai manusia dengan segala irony dan problematikanya yang selalu membuat aku merasa perasaan yang lebih dalam tentang perjalan, waktu, ikatan, dan emosi yang sulit untuk digambarkan
*Ilyy all
Menurut psikologi, kalau kamu sering ngerasa orang lain sebenarnya nggak suka sama kamu, itu bukan karena mereka beneran nggak suka. Itu karena pikiran kamu yang udah terbiasa fokus ke tanda-tanda penolakan. Ini disebut social hypervigilance, dan biasanya dialami orang yang pernah dibully, sering ngerasa beda sendiri, atau tumbuh dengan orang tua yang terlalu kritis.
Jangan ngeremehin heartbreak guys. Efeknya bisa ngubah personality dan jadi forever bitter kalo ga disembuhkan dgn baik. Go head. Book appointment with your therapist.
Anak yg dikasih kebebasan biasanya dr awal udah dibiasain buat mikir sendiri: "kalo aku lakuin ini, konsekuensinya apa ya?" Jadi kontrolnya datang dr dalam diri (self-control). Meanwhile, anak yg dibesarkan dengan stirct rules seringnya nurut karena takut dimarahin, takut dihukum
I'm in ☝️sampe semua dosa pun aku cerita ke Mama wkwk karena dikasih kebebasan dan ku pakai dengan bijak IMO itu bukan soal mana yang lebih "baik", tapi soal cara anak belajar ngontrol diri.
Masih menjadi misteri kenapa anak yang diberi unlimited freedom by thier parents lebih berakal and never crossed the limit daripada anak yang strict parents.
@blackmaskloner@vyowiz_@greenredbwd bantu jawab yaa kak, ini adalah salah satu rujukan skripsiku dulu. aku bahas soal family communication pattern dalam penyelesaian konflik ortu-anak
intinya anak dari keluarga yang menerapkan pola komunikasi kepatuhan, cara komunikasinya akan cenderung lebih konfrontatif—
Dulu sempat waspada sama yg appear terlalu religius. Takut gampang 'play God' pake dalil, atau cherry-picking dalil untuk keuntungan pribadi. Tapi pas ketemu yg beneran paham esensi, adem bgt asli.
Berasa pasti bedanya, yg semata ritualist, dan yg mendalami sampai ke jiwa.
04.27
"Surah Maryam"
Wahai sang membolak balikkan hati, kuatkan aku diatas takdir yang sedang engkau titipkan padaku, terlihat sulit tapi aku percaya ada hal indah yang sedang kau siapkan untukku, karena aku tau dengan izin kun fayakunmu, semua pasti terwujud 🤍
Sebagai psikolog klinis dan terapis trauma, aku gak pernah menyarankan klienku secara gamblang untuk memaafkan.
Memaafkan itu baik tapi bukan syarat pemulihan trauma.
Keinginan memaafkan perlu datang dari kesadaran dan kesiapan dalam diri.
Menyalahkan ortu memang gak membantu, sehingga yg dibutuhkan adalah memahami bukan memaklumi atau menghakimi.
Lalu perlahan melepaskan luka, berfokus pada pemulihan diri dan dorongan utk jadi individu yg lebih baik ☺️
aku pernah membaca,
“maka, bertumbuhlah dengan sangat cantik. biarlah luka-luka itu menjadi perjalanan yang perlahan membentukmu menjadi akar yang kuat.”
lalu seseorang menimpali,
“jika nasi telah menjadi bubur, buatlah bubur yang enak.”
Bahwa saya telah "telanjur" dihidupkan di dunia oleh Tuhan.
Karena sudah telanjur hidup, hanya ada 2 pilihan: Sedih atau gembira. Dan saya berusaha bergembira dalam setiap keadaan.
Bahwa saya diciptakan oleh-Nya, pasti tak sia-sia.
Bahwa Tuhan sudah memperjalankan saya sejauh ini, pasti tak akan dibiarkan-Nya saya berjalan sendirian.
Buat yg masih ragu apakah doamu akan dikabulkan Allah, coba baca Al Hijr 34-37, kisah klasik iblis diusir dari surga karena sombong.
Kalau permintaan iblis saja dikabulkan, apalagi permintaan manusia (makhluk terbaik masterpiece Allah)?
Yuk bisa yuk lbh yakin dlm berdoa. 💪🏻
Hanya saran dari aku yaa
1. Jangan melabeli diri dgn hal-hal yang kurang baik
2. Kalau merasa diri kita tidak baik-baik saja maka sembuhkan hal itu dulu.
3. Belajar soal self-esteem (gmn cara km memandang diri sendiri).
@ekstapol Betul saat kita membebankan manifestasi ke Yang Maha Mengabulkan Manifestasi maka keinginan kita jadi grounded
Jika tercapai kita tau itu memang baik untuk kita
Jika tidak tercapai pun Allah lebih tau yg terbaik untuk diri kita