Lucu komen arek2 ini menyalahkan aktivis mahasiswa UGM yang mengusir pejabat pemerintah Budiman, Nusron, dkk dari UGM.
Kalian coba tanya Budiman, dulu saat jadi aktvis berapa sering mendemo, mengusir pejabat yang mau "dialog" ke kampus UGM? Tanya juga itu Jumhur, enaknya lantai penjara, akibat mendemo, menolak kehadiran Rudini di Ganesha 10 ITB, yang katanya mau dialog.
Yang pernah jadi aktivis mahasiswa pasti tahu, bahwa mendemo, dan "mengusir" pejabat dari kampus ini adalah salah satu pesan kuat, bahwa mahasiswa tidak bisa dan tidak mau dikibuli lagi dengan retorika2 yang diucapkan pejabat pemerintah.
--------------
Pejabat pemerintah itu adalah orang yang berkuasa. Dengan kekuasaannya mereka bisa membuat kebijakan. Juga dengan kekuasaannya mereka bisa mengkoreksi kebijakan.
Pertanyaannya, apakah saat membuat kebijakan mereka berdialog, dan berdikusi dengan publik, dengan mahasiswa?
MBG, KDMP, misal, apakah menyerap aspirasi publik? Apakah menaikan BBM Pertamax itu pernah menjaring masukan dari publik yang akan terdampak, terutama kelas menengah rentan? Apakah menurunkan batas syarat penghasilan di persyaratan KIPK menjadi di bawah UMP, pernah serap aspirasi publik?
Tidak ada toh? Semua pemerintah jalankan dengan suka-suka, lewat kekuasaan yang ada pada pemerintah.
Sekarang, setelah banyak bukti, terjadi penyimpangan baik MBG maupun KDMP, apakah pejabat pemerintah seperti Budiman dkk itu murni datang ke UGM untuk cari masukan ke Mahasiswa untuk mengkoreksi kebijakan pemerintah?
Kan ndak, mereka datang ---seperti juga pejabat Era Orba yang dulu diusir Budiman dari UGM, justru semata-mata untuk tetap keukeh bahwa program dan kebijakan pemerintah di jalan yang benar.
Buat kebijakan suka-suka, saat salah tidak minta maaf ke rakyat, malah datang ke kampus untuk retorika membenarkan kebijakan yang salah. Ya wajar diusir.
Jika datang untuk mengakui salah, dengan niat mencari masukan untuk perbaikan kebijakan, mungkin bisa jadi diterima oleh Mahasiswa. Tapi wong jelas koq di panggung hanya duduk 3 pejabat dengan retorika pembelaan dirinya, tanpa ada niat mencari masukan.
Ya, sudah benar itu adik2 mahasiswa UGM mengusir kalian, Datang pun ke ITS, saya akan dukung jika adik2 saya juga mengusir kalian. Sudah mirip pejabat era Orba kelakuannya, menganggap mahasiswa bisa dikadali dengan retorika pembangunan.
Terakhir, sebelum terlambat, sudah saatnya pemerintah mengevaluasi diri. Ini era yang jauh lebih terbuka dan mudah mendapatkan informasi dibanding era Orba. Kabar cepat menjalar, secepat jari-jari warganet diatas layat gadgetnya.
Pemerintah itu bekerja untuk rakyat, bukan untuk kekuasaannya semata. Bukan untuk bertahta, dan berbuat suka-suka dengan kekuasaannya.
Salam
FK
mahasiswa UGM bukan membubarkan diskusi, mereka sedang membersihkan kampus dari sampah rezim otoriter, sebab itulah kewajiban yg harus dijunjung mereka sebagai bagian komunitas akademik en berpikir sehat
pake segala ngomong "anda pro demokrasi atau tidak? kalo pro demokrasi ayo kita dialog" WKWKWK ga enak kan rasanya dicuekin trus diserang? itu yang lu dan rezim kesayangan lu lakuin selama ini ke rakyat, kaya gitu rasanya, mamam, gausah bawa-bawa demokrasi dan dialog dah
@kirimpingkirin Turut kesal mendengar nya kang, aksi unjuk rasa seharusnya terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. Insyaallah harusnya dari massa aksi Bandung sekarang selalu terbuka untuk semua kalangan sipil. Tapi sangat bangsat memang tindakan aparat hari ini yang melarang gabung sipil😔
Aksi hari ini di Bandung, Senin 15 Juni. Lagi dan lagi tindakan yang melanggar wewenang kepolisian, yakni penggeledahan secara sepihak bagi massa aksi yang ingin masuk ke titik aksi. Cedera terhadap demokrasi!
Kalau kamu pernah ikut demo, pulang dengan perasaan "ini akan mengubah sesuatu", lalu tiga bulan kemudian semuanya kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa — 𝐔𝐓𝐀𝐒 𝐈𝐍𝐈 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐊𝐀𝐌𝐔.
Hal itu dijawab tuntas oleh Zen RS di Diskusi & Peluncuran Buku: Infrastruktur Impunitas (Karya Elizabet F. Draxler).
Ini agak panjang. Tapi setiap bagiannya saling mengunci, dan di akhir, ada satu pertanyaan yang mungkin akan terus mengganggumu setelah selesai membaca.
𝗦𝗘𝗕𝗨𝗔𝗛 𝗨𝗧𝗔𝗦.
@mfghiffario berkali kali Unpad turun tanpa almet dan berkali-kali semuanya bisa pulang dengan aman. kalo yg dimaksud penyusup itu Intel, selalu ada cara buat jaga satu sama lain. UNPAD misal pake lakban merah atau coklat sebagai penanda. tapi kalo penyusup yg dimaksud "anarko", bljr lagi dah
Betul, dari aksi2 5 tahun terakhir. Pergerakan, dari think tank smp aksi massa masih pake template 98.
Penanganan aksi sudah berevolusi.
Jangan bebankan aksi ke mahasiswa saja.
Sipil jg gerak. Tapi gmn bikin gerakan yg organik tapi di sisi lain punya kohesi kuat? Itu debatnya.