@calomagang Sampai ada pameo semua orang indo sebenernya koruptor semua, cuma belum dapat kesempatan aja. Yg bawah² pun tetap berusaha korupsi dengan caranya sendiri alih² kerjasama buat kaya bersama.
MANUSIA SILVER
Saya pertama lihat manusia emas/silver itu di trotoar di Kota Bangkok, Thailand sekian tahun yang lalu. Dan dalam setahun terakhir ini saya melihat manusia silver sudah "sampai" di Kota Mojokerto.
Tapi menurut saya, "konsep" manusia silver di Indonesia (konteksnya, yang saya lihat di Mojokerto ya), itu salah. Dan dari kesalahan itu, celakanya malah menyulitkan orang itu sendiri.
Beberapa alasan yang menjadikannya kurang pas dari manusia emas/silver di Indonesia adalah:
Pertama: Konsep awal manusia emas/silver adalah berkamuflase menjadi: PATUNG.
Yang dikerjakan adalah duduk atau berdiri di trotoar dan berharap ada yang memberi uang saat ada yang mengajak foto bareng.
Faktanya di Indonesia (Mojokerto khususnya), mereka bawa kaleng dan minta uang di mobil-mobil yang berhenti di lampu merah (lampu lalin).
Kedua: Sebagai patung, manusia emas/silver itu BERPAKAIAN LENGKAP, termasuk topi dan sepatu, plus ada yang berkaca mata.
Dengan berpakaian lengkap, bagian tubuh manusia emas/silver yang harus terkena cat, tentunya lebih sedikit. Bisa dibilang, bagian tubuh yang kena cat hanyalah: muka, sedikit rambut bagian bepakang (karena pakai topi), dan pergelangan tangan hingga jari. Selebihnya, yang dicat adalah: PAKAIANNYA.
Faktanya di Indonesia (Mojokerto khususnya), mereka tak bertopi, tak berkaca mata, bertelanjang dada, bercelana pendek, dan tanpa alas kaki. Praktis, mereka hanya bercelana pendek.
Dengan hanya bercelana pendek, otomatis hampir seluruh tubuhnya harus terkena cat. Menyulitkan dirinya sendiri? Jelas!
Apalagi kalau kita bicara "jam kerja" mereka yang seringnya siang hari di bawah terik matahari. Apakah itu tidak menyiksa diri sendiri?
Terlebih lagi jika (maaf) dia beragama Islam, itu salatnya bagaimana???
Ketiga: Manusia emas/silver adalah sebuah kegiatan yang mengandung unsur seni. Menurut saya ya.
Namun faktanya di negara kita, manusia silver/emas sama sekali tak ada seninya. Misal ada orang memberi uang, pastinya lebih karena kasihan, bukan karena kagum, apalagi ingin berfoto bersama.
Dari 3 foto yang saya sertakan, kita bisa menilai mana yang lebih sengsara dalam melakukan "pekerjaan"-nya.
Keterangan foto (hasil googling):
- Foto 1 dan 2: manusia silver di Mojokerto
- Foto 3: manusia emas di Hollywood street.