Kenapa Banyak Petani Menanam Pohon Turi di Pinggir Sawah?
Di banyak desa pertanian, pohon turi (Sesbania grandiflora) sering ditanam di pematang sawah. Bagi petani lama, ini bukan sekadar kebiasaan, tapi bagian dari ilmu titen yang diwariskan turun-temurun.
Dalam titen Jawa, turi dikenal sebagai wit urip sawah, pohon penghidup sawah. Sawah yang bisa ditumbuhi turi dipercaya memiliki tanah yang adem, gembur, dan cukup air. Jika turi tumbuh subur, itu pertanda sawah masih sehat dan padi tidak mudah stres, baik saat kemarau maupun musim hujan.
Kepercayaan ini ternyata sejalan dengan sains. Turi termasuk tanaman leguminosa yang akarnya bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen. Proses ini membantu menambah unsur hara nitrogen alami di sekitar sawah, sehingga tanah menjadi lebih subur tanpa bergantung penuh pada pupuk kimia.
Daun turi yang gugur juga berperan penting. Seresah daun ini cepat terurai, memperkaya bahan organik tanah, memperbaiki struktur sawah, dan menjaga kelembaban. Tak heran jika dulu daun turi sering dimanfaatkan sebagai pupuk hijau alami.
Selain itu, pohon turi di pematang berfungsi sebagai penahan angin dan pengatur mikroklimat. Angin kencang yang bisa merobohkan padi dapat diredam, sementara lingkungan sawah menjadi lebih seimbang. Bunganya pun menarik serangga bermanfaat yang membantu menjaga ekosistem sawah tetap stabil.
Dari kearifan lokal hingga ilmu pertanian modern, pohon turi membuktikan satu hal :
sawah yang dirawat dengan alam akan memberi hasil dengan lebih bijak.
Semoga Bermanfaat....🙏
#TitenJawa
#IlmuTiten
Kotanya jelek.
Ga punya identitas kultural, terutama di ranah seni.
Transportasi umum tidak ada.
Toilet mal bayar malah bangga dan defensif alias ga pernah ke luar kota lain dn sewajarnya toilet di mal itu bagaimana.
ATM diparkiri, bahkan saat di situ ada satpam.
Bebal. Banal.