βKukira Kakak datangnya nanti!βentah jam berapa, tapi pokoknya kukira aku akan sampai lebih dulu. Oh, tadi sudah kutawarkan lewat pesan sih, tapi barangkali Kakak berubah pikiran. Aku baru beli makanan, mau cicip?β
β§ . @abidingloved
Kesiangan! Bisa-bisanya aku tidur terlalu larut sebab tidak sabar ingin mengunjungi toko bunga tempat kakakku bekerja itu. Kulirik jam pada dinding, lalu kulirik pula jam yang tertera pada gawai. Aku baru terbangun di jam sepuluh lewat sedikitβbukankah aku sudah diberi tahu -
warna yang mudah dikenaliβhijau, misalnya.
Kusingkirkan dulu pemikiran konyol itu. Kakakku ada di depan mata, masa bisa-bisanya aku malah sibuk memikirkan warna rambut mencolok?
βKakak, kok sudah datang?β Bukan bermaksud protes atau apapun itu! Hanya bingung, sungguh, sebab, -
β¦ Ralat, deh. Sepertinya yang bagian terakhir tidak perlu. Sebab, seiring mendekatnya aku kepada lokasi tujuan, mataku menangkap sosok familiar yang tengah menempati kursi di depan toko. Lantaran terkejut, spontan terlontar, βLho, Kakak?β sebelum benar-benar memastikan -
menunggu,
( π± : @abidingloved. )
β’ π³βΌοΈ
β¦ yang itu untuk pujian tadi, tentunya.
β’ oke kalau begitu !!
β’ dan tidak perlu!! nanti kalau kakak telat datang kerja ke toko bunga bagaimana π aku nanti makan di meja payung depan toko saja
β’ sebentar lagi aku ke sana! >__<
dengan kedua kuasa kini menggenggam gawai, aku bersiap mengetikβ
βah, tunggu, giliranku memesan! βMm, aku mau yang ini dan ini, dibawa pulang β¦β yah, begitulah akhirnya. Dengan sigap aku memesan makanan, membayar, lalu menyingkir sesaat untuk akhirnya membalas pesanmu selagi -
utama dengan alasan murah dan cepat. Sembari berdiri di tengah deret orang-orang yang jua lapar, kakiku tidak berhenti bergoyang. Gelisah rasanya! Karena ingin buru-buru makan atau segera mengunjungi toko bunga, entahlah. Mungkin keduanya?