Ada anak berusia 18 tahun.
Namanya Maolana Purwo Wibowo.
Dia baru saja merantau ke Kalimantan. Pertama kali naik kapal laut. Di dalam kapal, dia bolak-balik ke toilet karena mabuk laut.
Itu pelayaran pertamanya. Ternyata juga pelayaran terakhirnya.
Kemarin jenazahnya teridentifikasi sebagai korban Kapal Virgo. Di saku celananya, petugas menemukan satu HP dan sebuah dompet. Isinya KTP almarhumah neneknya. Dan uang 13 ribu rupiah.
Ya, hanya Tiga belas ribu rupiah.
Anak ini tinggal bersama kakeknya. Orang tuanya sudah berpisah, masing-masing punya kehidupan sendiri. Dari SMP dia sudah kerja serabutan. Ibunya sempat ingin memberi 300 ribu. Maolana menolak. Tidak mau merepotkan ibunya.
Delapan belas tahun, tapi sudah terlalu dewasa untuk umurnya. Seharusnya Ia masih kelas 3 SMA.
Dia berangkat mencari nafkah. Yang pulang hanya KTP nenek dan 13 ribu di dalam dompet.
Al-Fatihah untuk adik Maolana.
Semoga Allah angkat derajatnya, ganti segala lelahnya dengan tempat yang lebih baik, dan berikan ketabahan untuk kakek serta keluarga yang ditinggalkan.
Dunia ini kadang terlalu kejam pada anak-anak yang cuma ingin jadi tulang punggung.
Oli Sykes mengaku BMTH pernah diperingatkan bahwa mengibarkan bendera Palestina di panggung bisa membawa konsekuensi yang bahkan berpotensi mengakhiri karier mereka.Tapi Oli tetap kekeuh menampilkan bendera Palestina.
Buat Oli, kejadian itu justru membuatnya berpikir soal bagaimana manusia bisa dibuat untuk menekan rasa kemanusiaannya sendiri. Pemikiran tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi lagu Dehumanized.
“When empathy becomes an act of anarchy, then you discover whether your values are real.”
Chef Taka Libur dulu, Biar Oliver yg memasak🔥🔥🔥