4.106,26 TRILIUN itu buat apa gue tanya?!?! Kalian semua enak tinggal ketok palu, menyetujui, pura2 kerja tapi rakyat dipaksa bayar pajak
Kehidupan kita ga pernah sejahtera, kalian membuat sistem scra struktural utk memiskinkan rakyat
WE’RE LIVING IN HELLLLL
Ya Allah, sgr turunkanlah hujan di tiap tempat yg dilanda pembakaran dan kekeringan. padamkanlah apinya, basahilah tanahnya, hilangkanlah pekat asapnya. dan redakanlah hujan di tempat saudara2 kami yg tengah bergelut dgn banjir. serta lindungilah kami smua dari kerakusan manusia.
ternyata bukan salah jurusan, bukan salah pilihan, bukan salah jalan, bukan salah keadaan, bukan salah pergaulan, bukan salah pemahaman…
EMANG GUE AJA YANG KAGAK KARUAN 😭🙏🏻 it’s me, hi, i’m the problem, it’s me 🧍🏻♀️
Indonesia demo berjilid-jilid ga ngaruh apapun sma presidennya soalnya kita semua tdk terlihat buat dia. Mahasiswa demo aja dijaga sama 9.000 aparat, dikritik ga terima, marah2 ngatain rakyatnya antek2 asing dan robot oligarki, rakyatnya disuruh cari negara lain
abis baca ini aku langsung ketampar bgt🥺
“kamu tidur dengan seluruh dosamu, tapi Allah tetap menjaga dan membangunkan kamu setiap hari, tapi kamu masih berani lalai dan meninggalkan sholat, padahal itu nanti jadi separuh amalanmu buat diakhirat.”
Sebuah profesi yang separuh hidupnya dihabiskan di atas rel, menjaga ribuan nyawa setiap hari, kini harus berakhir di balik jeruji besi.
Kabar masinis KA Argo Bromo Anggrek ditetapkan sebagai tersangka dengan ancaman 5 sampai 12 tahun penjara benar-benar jadi pukulan telak yang menyayat hati.
Jarak 263 meter di atas kertas mungkin terlihat sebagai angka yang “bisa dihindari”.
Tapi di dalam kabin lokomotif malam itu, ada ketakutan luar biasa kalau rem mendadak justru membuat gerbong terbalik dan merenggut lebih banyak nyawa.
Masinis terjebak dalam hitungan detik antara hidup dan mati, harus memilih opsi terbaik dari situasi yang paling buruk.
Sungguh memilukan melihat dedikasi belasan tahun menembus malam, melawan rasa lelah demi mengantar kita pulang, lalu runtuh begitu saja dalam satu malam musibah.
Beliau gak pernah berniat mencelakai siapa pun, tapi takdir menempatkannya di kursi pesakitan sebagai “kambing hitam” dari peliknya sistem perlintasan kita.
Di balik seragam yang sekarang harus berganti menjadi baju tahanan, ada seorang ayah, seorang suami, dan seorang pekerja keras yang dunianya hancur.
Jeritan hatinya membisu, memikul beban 16 nyawa yang hilang sekaligus masa depannya sendiri yang kini ikut terenggut oleh dinginnya jeruji besi.
Doa terbaik kami langitkan untukmu, Pak Masinis.
Semoga Tuhan menguatkan pundakmu melewati badai ini, memberikan keadilan yang seadil-adilnya, dan memeluk hatimu yang sedang remuk redam.
Pengabdianmu gak akan dilupakan oleh lintasan yang pernah kau jaga.
Tabah, Pak.