ngeluh kepanasan, heboh nyuarain soal kekeringan & kebakaran hutan, tapi ikut tren minta tolong chatgpt buat gambarin diri di taun '80an kayak apa. 3 juta orang udah ikut.
make it makes sense... 🥲
HINDARI RETINOL DALAM BENTUK APAPUN (RETINAL, TRETINOIN, ISO TRETINOIN) KALAU KAMU SEDANG HAMIL ATAU MAU HAMIL.
Kenapa retinoid dilarang saat hamil? Bentuk aktif dari retinol acid berfungsi mengatur ekspresi gen selama embrio berkembang. Masalahnya, kalau sinyal retinoic acid berlebihan, ia bisa mengaktifkan reseptor RAR/RXR secara tidak tepat dan mengacaukan gen perkembangan seperti HOX yang menentukan pola pembentukan tubuh. Akibatnya, proses pembentukan otak, wajah, jantung, telinga, dan organ lainnya bisa terganggu dan menyebabkan cacat bawaan.
Nonton podcast Shireen Sungkar sm Dewi Sandra, seketika ambyar waktu Dewi Sandra bilang:
"Everytime kita bisa sholat on time aja, itu Allah yg mengizinkan hidayah pada kita untuk ambil wudhu lalu sholat. Kita pake hijab bukan karna diri kita keren, tapi atas kebaikan Allah yg mengizinkan kita untuk pake". Jadi ketaatan yg kita lakukan itu bukan karna diri kita sendiri, tapi Allah yg baik kasi kita hidayah untuk melakukan itu. Dan hidayah itu mahal, tidak Allah beri untuk semua orang 😭😭😭
Jarang muncul di podcast, ternyata Sheila On 7 punya alasannya sendiri. Duta mengungkapkan, bandnya lebih nyaman berbagi cerita lewat radio karena dinilai punya batasan yang membuat obrolan tetap nyaman, informatif, dan ramah untuk semua umur. Seperti apa penjelasan lengkapnya?
Baca Selengkapnya Disini: https://t.co/gvIParxKJg
#VIVANews #VIVAFlash #SheilaOn7 #DutaSheilaOn7 #Podcast #Radio #MusikIndonesia #BeritaHariIni
Rapat orang tua di TK Ponakan. Biasanya isinya soal SPP sama jadwal libur. Biasanya gak pernah dengerin.
Tapi hari itu, gurunya,Bu Sari, udah 12 tahun ngajar, bilang satu hal yang bikin semua orang tua di ruangan itu fokus dan berhenti scroll HP:
"Bapak-Ibu, saya mau cerita satu hal yang Bapak-Ibu GAK PERNAH tau."
"Anak yang paling kalem, paling nurut, paling 'gak bikin masalah' di kelas, dia BERUBAH dalam 30 detik begitu orang tuanya datang jemput."
Rabu, 10 Juni 2026. Satu hari. Dua pernyataan dari gubernur yang sama.
Pertamax baru naik hampir Rp4.000 per liter.
Pramono Anung keluar dengan solusi:
"Dengan kenaikan BBM ini, peluang orang untuk naik transportasi umum juga makin besar."
Di hari yang sama, Pramono juga mengonfirmasi tarif Transjakarta dan Transjabodetabek akan segera disesuaikan ,dari Rp3.500 ke kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000.
Tiga sampai empat kali lipat.
Jadi jalan keluarnya dari BBM mahal adalah naik Transjakarta. Dan Transjakartanya sendiri sedang akan naik tiga kali lipat.
Pertamax naik → pindah ke Transjakarta. Transjakarta naik → pindah ke mana?
Ini bukan soal salah satu kebijakan.
Ini soal pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Rupiah melemah → biaya impor naik → BBM naik → biaya hidup naik → subsidi tertekan → tarif transportasi umum naik.
Setiap domino jatuh ke rakyat.
Tarif Rp3.500 itu bertahan lebih dari 20 tahun , bukan karena pemerintah lupa menaikkan, tapi karena itu satu-satunya hal yang masih bisa dijangkau jutaan orang yang tiap hari menggantungkan mobilitas hidupnya pada angkutan umum.
Alasan pemerintah menaikkannya sekarang: subsidinya terlalu besar.
Pertanyaannya bukan apakah subsidi perlu diefisiensikan.
Pertanyaannya adalah: di negara yang APBN-nya 3.800 triliun, yang program prioritasnya saja terbukti bocor di mana-mana, kenapa yang pertama dipangkas selalu yang dipakai rakyat , bukan yang dinikmati kekuasaan?
@heytikaputri@CommuterLine Dulu sekolah anak saya pernah ikut edutrip krl, sudah ada petugas khusus untuk program ini dan memang dipilih kan waktu di luar rush hour. Kemungkinan itu sekolah nya ga janjian dulu deh sama pihak krl
@keluhkesahkonoh Bagiku yang sering bolak balik kafe sambil nunggu anak sekolah. Kafe itu umumnya memang untuk chill,ngopi sambil baca² buku/dengerin musik, ngobrol sama temen. Kalau bawa anak² biasanya ya ke resto untuk makan berat. Alternatif, kalau mau bawa anak, cari kafe yang ada playground.
Cara self-audit penggunaan listrik:
1️⃣ Berapa daya terpasang di rumah? Lalu cek TDL.
Subsidi:
450 VA: Rp 415/kWh
900 VA: Rp 586/kWh
Nonsubsidi:
900 VA: Rp 1.352/kWh
1.300 VA & 2.200 VA: Rp 1.444,7/kWh
3.500 VA ke atas: Rp 1.699,53/kWh
2️⃣ Hitung pemakaian khususnya yg berdaya besar seperti AC, pompa air, dispenser yg panas dingin, airfryer/oven/microwave.
Hitungan sederhana berapa konsumsi (kWh) = daya peralatan (dalam Watt) dikali lama pemakaian (dalam jam) dibagi 1.000.
3️⃣ Bandingkan dengan bulan sebelumnya, bila ada pembeda seperti banyak WFH atau libur (AC nyala terus).
Khusus AC, suhu udara (luar) ngaruh ke konsumsi listrik karena kompresor kerja keras menghasilkan suhu yg diinginkan.
Cek alat elektronik lain juga ya :)
4️⃣ Jika tetap aneh (nggak biasa), cek jaringan kelistrikan rumah (siapa tahu ada yg nyantol) atau lapor PLN untuk diinvestigasi.
Selamat berhitung 🧮
Udah pada ngopi blm?
Saya mau curhat..
Punya satu teman yg tiap diajak wiskul (wisata kuliner) selalu ada aja yg dikomentari. Padahal pas bayar juga seringnya cuma ikut duduk manis.
Diajak makan soto bening, katanya,
“Lho, soto kok bening begitu?”
Makan bakso,
“Baksonya kurang berasa, lebih enak yg dekat rumah gue”
Makan mie ayam,
“Ah, mienya terlalu lembek.”
Ngopi di kafe,
“Kopinya biasa aja, mahal doang tempatnya.”
Makan sate,
“Bumbunya kurang medok.”
Coba nasi goreng,
“Kayak nasi goreng abang2an pinggir jalan.”
Makan seafood,
“Kurang segar ikannya..”
Pokoknya hampir semua tempat selalu ada minusnya di mata dia.
Akhirnya lama2 saya udh jarang ngajak dia ikut wiskul lagi. Bukan karena pelit atau apa, tapi karena pergi makan harusnya bikin suasana tambah seru, bukan malah lagi ikutan master chef!
Gara-gara info dari @alfatj_ akhirnya ikutan pamer “STRAVA” baca buku di IG story. 😆
Yang mau cobain juga, bisa pakai generator-nya di tautan ini gengs: https://t.co/ByqYbGcvlh
Guys...
Di sebuah kondangan, ada yang nyeletuk nanya ke istri sepupunya, kenapa HP-nya nggak diganti, retaknya dari ujung ke ujung.
Si istri cuma senyum. "Masih bisa dipakai kok."
Suaminya? Nggak noleh. Pura-pura sibuk ngobrol.
Yang nulis cerita ini langsung keinget kejadian di rumahnya sendiri.
Dulu istrinya pernah bilang tas kerjanya resletingnya macet. Dia jawab sambil scroll HP, "yaudah nanti kita cari yang baru."
Nanti itu nggak pernah datang.
Istrinya akhirnya beli sendiri tas murah di online shop. Diam-diam. Tanpa drama.
Beberapa bulan kemudian, dia sendiri beli tas ransel branded untuk meeting klien.
Harganya setara gaji istrinya sebulan. Dibeli tanpa pikir panjang.
Pas pulang kondangan dia tanya sepupunya, beneran nggak lihat HP istri retak?
Jawaban sepupunya singkat, "liat sih, tapi dia juga nggak pernah nuntut. Yang penting kan masih bisa WA."
Dan di situlah dia sadar sesuatu yang selama ini dia lewatkan.
Banyak suami mengira istri yang nggak pernah menuntut adalah istri yang sabar dan baik. Padahal itu tanda yang jauh lebih menyedihkan.
Tanda bahwa dia sudah lelah meminta.
Sudah terlalu sering kecewa sampai akhirnya memilih untuk tidak berharap sama sekali.
Kata "nggak papa" dan "masih bisa" dari seorang istri bukan selalu tanda keikhlasan.
Kadang itu bendera putih. Tanda menyerah untuk diperhatikan.
Dia pulang malam itu dan buka lemari istrinya. Sandal jepit yang sudah tipis.
Blender yang bunyinya aneh. Dompet kulit yang sudah mengelupas. Semuanya masih dipakai. Karena "nanti"-nya tidak pernah jadi "sekarang."
Malam ini, sebelum tidur, coba tanya pasanganmu satu pertanyaan sederhana. Beneran nggak pengen ganti yang baru?
Dan perhatikan matanya saat menjawab.
Kalau kamu sudah menikah atau punya pasangan, hal kecil apa yang selama ini sering kamu tunda tapi sebenarnya kamu tahu pasanganmu butuh?
Guys, pemerintah baru saja mengumumkan sesuatu yang dikemas sebagai kabar baik untuk rakyat kecil.
KPR 40 tahun.
Cicilan hanya Rp773.000 per bulan.
Pekerja bergaji Rp2 juta bisa punya rumah.
Kedengarannya bagus.
Kedengarannya pro rakyat. Kedengarannya seperti solusi.
Tapi gue minta lo berhenti sejenak dan pikirkian apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ini bukan solusi.
Ini adalah desain perbudakan yang dilegalkan.
KPR 40 tahun artinya lo mulai mencicil rumah
usia 25 lo baru selesai di usia 65 tahun.
Tepat saat pensiun.
Tepat saat lo tidak punya penghasilan lagi.
Seluruh masa produktif hidup lo dari muda sampai tua habis untuk membayar satu rumah.
Bukan untuk menabung.
Bukan untuk investasi.
Bukan untuk pendidikan anak.
Bukan untuk menikmati hidup.
Untuk cicilan rumah yang tidak akan lunas sampai lo pensiun.
Dan ini yang paling mengerikan dari kalkulasinya:
Gaji Rp2 juta per bulan.
Cicilan Rp773.000 per bulan.
Itu 38,6% dari seluruh penghasilan hanya untuk cicilan rumah.
Belum makan.
Belum transportasi.
Belum listrik.
Belum air.
Belum biaya anak sekolah.
Belum biaya sakit.
Sisa untuk hidup: Rp1,2 juta sebulan.
Rp40.000 per hari.
Dengan Rp40.000 per hari lo harus makan, transport, bayar semua kebutuhan hidup.
Di era rupiah Rp17.600 per dolar.
Di era harga pangan yang terus naik karena kedelai, gandum, dan minyak semuanya impor dalam dolar.
Dan ini yang tidak pernah diceritakan pemerintah:
Total yang lo bayar selama 40 tahun dengan bunga bukan hanya harga rumahnya.
Lo membayar harga rumah ditambah bunga selama 40 tahun.
Yang bisa berarti lo membayar dua sampai tiga kali lipat harga asal rumah itu.
Rumah yang secara teknis bisa lo beli Rp200 juta lo bayar Rp400-600 juta selama 40 tahun.
Selisihnya masuk ke mana?
Ke sistem keuangan. Ke bank. Ke Tapera.
Rakyat kecil yang tidak punya pilihan lain dipaksa membayar premium berlipat-lipat hanya karena mereka tidak punya uang di awal.
Dan lo tahu apa yang paling gue ingat dari ini:
John D. Rockefeller pernah bilang sesuatu yang sangat terkenal dan sangat mengerikan:
"Saya tidak menginginkan bangsa pemikir.
Saya menginginkan bangsa pekerja."
Dan cara paling efektif untuk memastikan orang tidak berpikir kritis adalah memastikan mereka terlalu sibuk memikirkan cicilan.
Orang yang gajinya Rp2 juta dan cicilannya Rp773.000 tidak punya bandwidth mental untuk memikirkan kenapa rupiah melemah.
Tidak punya waktu untuk mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan dipotong 44%.
Tidak punya energi untuk marah tentang Nadiem yang dituntut 27 tahun atau Noel yang bilang menyesal tidak korupsi lebih banyak.
Mereka terlalu lelah.
Terlalu sibuk bertahan.
Terlalu tenggelam dalam tekanan cicilan yang tidak akan selesai sampai mereka pensiun.
Itu bukan kebijakan perumahan.
Itu adalah mekanisme kontrol sosial.
Dan ini sambungkan dengan semua yang sudah terjadi:
Gaji tidak naik signifikan.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta ke 46 juta.
Tabungan rata-rata turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta. Rupiah Rp17.600.
Harga pangan naik.
Guru honorer digaji di bawah UMP.
Tapi solusi yang ditawarkan bukan menaikkan upah.
Bukan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Bukan memastikan inflasi terkendali.
Solusinya:
perpanjang tenor KPR dari 30 tahun menjadi 40 tahun.
Supaya cicilan per bulannya kelihatan lebih kecil padahal total yang dibayar jauh lebih besar.
Supaya lebih banyak orang bisa masuk ke dalam sistem utang jangka panjang yang mengikat mereka seumur hidup produktif.
Ini bukan membantu rakyat memiliki rumah.
Ini membantu sistem keuangan memiliki rakyat.
Dan yang paling miris:
Pemerintah mengklaim ini sebagai kebijakan pro rakyat.
Sebagai solusi untuk krisis perumahan.
Sebagai bukti bahwa pemerintah peduli dengan masyarakat berpenghasilan rendah.
Tapi coba bayangkan satu skenario sederhana:
Lo mulai KPR di usia 25 dengan gaji Rp2 juta.
Lo cicil selama 40 tahun.
Di tahun ke-15 usia lo 40 rupiah makin melemah, harga kebutuhan pokok naik, dan lo di-PHK karena otomasi AI atau karena bisnis tempat lo kerja bangkrut karena investor asing kabur.
Cicilan tetap harus dibayar.
Rumah disita kalau tidak bayar.
Lo kehilangan segalanya setelah 15 tahun mencicil.
Itu bukan kepemilikan rumah.
Itu adalah ilusi kepemilikan yang bisa diambil kapan saja kalau lo tidak bisa membayar.
KPR 40 tahun bukan solusi krisis perumahan.
Itu adalah pengakuan resmi bahwa gaji rakyat Indonesia terlalu kecil untuk membeli rumah dengan cara yang wajar dan alih-alih menaikkan gaji atau menurunkan harga rumah, pemerintah memilih memperpanjang masa perbudakan finansialnya.
Rockefeller tidak membutuhkan rantai untuk mengikat pekerjanya.
Dia cukup memastikan mereka punya cukup utang untuk tidak berani berhenti bekerja.
KPR 40 tahun adalah versi modern dari filosofi itu. Diberikan dengan senyum.
Dikemas sebagai bantuan. D
an dirayakan sebagai terobosan kebijakan.
Sementara yang sebenarnya terjadi adalah: rakyat yang sudah kelelahan dipastikan akan terus kelelahan untuk empat puluh tahun ke depan.
awalnya mau beli gree tpi harga jadi bahan pertimbangan karna belum beli barang elektronik lain. akhirnya beraniin diri beli anaknya (flife) dan yap begini penampakan jam 1 siang dengan panasnya matahari cikarang di luar rumah