Punten, ini akses tangga JPO di depan gedung DPR/MPR dikemanakan ya, kok malah jadi gak ada?
Turun dari bus mau nyebrang ke sebelah pakai JPO jadi gak bisa.
Cuma orang bodoh yang kasihan sama Purbaya. Kurusan karena jadi menteri keuangan? Dia yang mau kerjaan itu cuy!
Sini gue spill dapur Purbaya, resep kenapa dia wangi di media. Info valid karena gue sempat jadi wartawan makro, hampir tiap hari liputan di Kemenkeu.
Purbaya itu punya ‘tim bayangan’ di luar Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kemenkeu. Isinya wartawan senior yang setia sejak beliau di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), bahkan jauh sebelum itu.
Lu tahu kenapa awal-awal menjabat langsung viral di TikTok? Itu by design. Setiap hari ada ‘tim bayangan’ yang nempel dia untuk bikin konten. Akhirnya, diresmikan jadi TikTok @/purbayayudhis.
Siapa yang pegang TikTok Purbaya? Wartawan media massa yang nyambi jadi admin sekaligus editor beliau. Gue belum update sih sekarang dia masih double job atau full time nempel Purbaya.
‘Tim bayangan’ Purbaya sama KLI Kemenkeu awalnya selek. Sekarang sih sudah agak bonding kelihatannya. Jadi, yang ngawal dan ngonsep konten buat beliau semakin solid.
FYI ngobrol sama wartawan itu juga konsep, setiap beres salat Jumat di press room Kemenkeu. Sesekali ada gimmick makan ayam sambal hijau di samping Kantor OJK (seberang Kemenkeu).
Buat kami wartawan ya senang kalau menterinya mau terbuka. Gak kabur-kaburan kek zaman Sri Mulyani sebelum didepak. Di sisi lain, kesal juga kalau jawabannya ngawang.
Contoh nyata di kasus Badan Gizi Nasional (BGN) yang beli 21 ribu unit sepeda motor buat operasional MBG. Masa iya lu bilang gak tahu? Kok bisa bendahara negara enggak tahu ke mana larinya anggaran?!
Itu jelas jawaban ngeles pejabat yang mulai lihai dan lincah macam Bahlil. Mana gaya koboi ala Purbaya yang dipertontonkan saat awal menjabat sebagai menkeu? Kasih unjuk dong!
Poin pentingnya adalah Purbaya Yudhi Sadewa itu dengan sadar mengambil pekerjaan menteri keuangan. Bahkan, menawarkan diri ke Prabowo. Purbaya ngaku siap di Hambalang.
Saat pertama kali jadi menkeu dan roadshow ke beberapa media, dia blak-blakan. Purbaya jujur kalau dia yang usul agar menkeu diganti atau Prabowo bakal terus didemo.
Jadi, lu pada warga Twitter masih mau kasihan sama Purbaya? Come on!
Guys Danantara mau terbitkan surat utang lagi. Rp7 triliun.
Tenor 5 dan 7 tahun.
Bunganya 2%.
Gw ulangi.
Dua persen.
Deposito bank digital sekarang kasih 4 sampai 6%. SBN ritel kuponnya 6 sampai 7%.
US Treasury yield-nya 4 sampai 5%.
Dan Danantara mau jual surat utang dengan bunga 2%.
Secara logika investasi paling dasar ini tidak masuk akal untuk investor retail biasa.
Kenapa lo mau kasih duit ke Danantara dengan bunga 2% kalau opsi lain kasih dua sampai tiga kali lipatnya dengan risiko yang lebih jelas?
Tapi sebelumnya Patriot Bond Rp50 triliun dengan bunga yang sama kata mereka terserap 100%.
Yang beli siapa?
Hampir pasti bukan ibu-ibu yang baca brosur di bank. Bukan anak muda yang scroll TikTok soal investasi. Yang beli besar adalah konglomerat Indonesia.
Grup-grup besar yang punya kas besar dan punya kepentingan besar untuk tetap baik-baik sama pemerintah.
Dan itu bukan filantropi.
Itu kalkulasi bisnis yang sangat dingin.
Kalau lo konglomerat Indonesia lo punya izin usaha, konsesi tambang, kontrak pemerintah, akses proyek infrastruktur yang semua bergantung pada hubungan baik dengan penguasa.
Beli Patriot Bond Rp1 triliun dengan bunga 2% itu bukan rugi itu biaya politik.
Lo bayar diskon dari return pasar demi akses dan proteksi yang nilainya jauh lebih besar dari selisih bunganya.
Sekarang pertanyaannya apakah konglomerat mau beli lagi di putaran kedua ini.
Kondisinya jauh berbeda.
IHSG sudah turun lebih dari 20% dari puncak.
Rupiah di 17 ribu.
Perang Iran belum selesai.
Rating outlook Indonesia sudah diturunkan Moody's dan Fitch.
Saham-saham konglomerat sendiri sedang kena pressure MSCI free float.
Kas mereka tidak sebebas dulu.
Dan kalkulasi politiknya mungkin sudah berubah.
Tapi ada satu hal yang tidak berubah.
Selama pemerintah masih pegang kunci izin dan konsesi konglomerat tidak bisa benar-benar bilang tidak.
Mereka mungkin tawar.
Mungkin minta porsi lebih kecil.
Mungkin minta konsesi lain sebagai kompensasi.
Tapi keluar dari game ini sepenuhnya terlalu berisiko untuk bisnis mereka.
Dan itulah yang paling menarik dari seluruh skema ini.
Danantara tidak perlu jual produk yang kompetitif secara pasar.
Mereka jual sesuatu yang jauh lebih berharga dari bunga 2% akses dan aman.
Kalau lo investor retail biasa ini bukan untuk lo. Return-nya tidak masuk akal.
Kalau lo konglomerat dengan kepentingan bisnis yang bergantung pada pemerintah ini bukan investasi.
Ini iuran.
Ibarat preman di pasar cuk
Dan bedanya tipis sekali.
Guys kencengin ikat pinggang. Gw sama suami bener2 memutuskan di rumah aja pas liburan nanti. Meskipun ada rejeki lebih baik disimpan or dibagi ke orang tua dan adik2.
Tough time ahead. Tapi semoga semua ini bisa kita lewati sama-sama.
Jangan lupa momen2 ini guys pas pemilu 2029 nanti. Beneran deh, gw pun mengingatkan ke diri gw sendiri. Selalu edukasi diri.
Polesan kamera itu menyakitkan. Uda stop justifikasi2 orang baik, politik itu harus damai, pilih pemimpin yg punya pengalaman. STOP.
Next time, gw cuma mau milih yg mendorong perubahan sistem. Ga ada lagi ngomong2in program kerja. Capek. Banyak banget program kerja, tapi ujung2nya mental juga kondisi ekonomi kita.
Kalo institusi bener2 jalan, at least kita ga ngerasa clueless kaya gini. Kita ga harus saling blaming each other. Kita ga harus dipaksa mikir setiap saat untuk issue yg seharusnya tugas yg menjalankan pemerintah.
Kuat2 semua. Apalagi sandwich generation, I feel you. 🫶🏼