Sakit hati banget pas dengar pemaparan Ketua Perpusnas di RDP DPR. Dia cerita kalau karena efisiensi, Perpusnas bahkan nggak punya anggaran untuk mengirim buku ke daerah. Mau daerah perlu dan minta kayak gimana pun ya nggak akan bisa dikasih, lha wong duitnya nggak ada. Kacau.
Masa masih ga sadar kalau aksi kamisan itu lagi dihancurin dengan narasi kelompok marjinal itu ancaman negara? masa masih ga sadar kalau lagi dibentrokin sipil dengan sipil seperti tahun 98 biar hilang fokus dengan segala macam bobroknya rezim?
Gimana?
Berisiknya kita soal MBG dan kematian petugas Kopdes karena keletihan latihan militer sudah nyaris hilang terganti sama isu LGBTQ ya?
Masih belum percaya ini playbook rejim fasis yang selalu korbankan minoritas?
Banyak laki-laki yang memilih untuk terlihat jelek, kumis lele, bau asem, mulut bau rokok, dan cuman pake kaos item belel bolong2 cuman karena gamau dicap "boti".
Untuk para cewek homofobik:
Nikmatilah ciuman dengan laki-laki bau jigong samsoe tersebut.
Soal hotel ini… ada cerita menarik.
Jadi, Indonesia menerima pampasan perang dari Jepang pada tahun 1958.
Tahu ga berapa? $223,08 juta. Kalau pakai nilai dolar sekarang, itu sekitar 2,7 miliar USD.
Kalau dirupiahkan, totalnya : 45-46 triliun!
Sukarno dan Hatta berbeda pandangan tentang penggunaan pampasan perang ini.
Hatta : Pakai saja buat pendidikan dan pertanian dan membangun industri dasar
Sukarno? Well pake aja buat bangun SIMBOL-SIMBOL negara modern.
Apa itu? Hotel Indonesia, Sarinah, Wisma Nusantara, juga Hotel Samudra ini.
Hotel Samudera pun dikasih aroma mistis, seperti adanya ruang khusus buat ketemu "Nyi Roro Kidul"
Akhirnya apa?
Yep, Indonesia kehilangan momentum untuk membangun pendidikan dan industri dasar..
Dan memilih membangun simbol-simbol ketimbang substansi.
Peringatan dilarang merokok pakai bahasa Indonesia di ximending Taipei Taiwan.
Artinya apa?
Yak yang suka merokok di sana ya orang Indonesia.
Malu gak?
orang indo bukan, kenal juga nggak, masih aja dapet komentar homophobic DAN ableist begini. masih mau ngomong "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung"?
emang narasinya gitu, ubah target kemarahan publik ke scapegoat.
tahun 98 korbannya minoritas tionghoa. sekarang kaum non-heteronormatif. besok bisa kaum rentan lainnya, entah suku/agama minoritas, perempuan, atau lainnya.
siapa yang tertawa? elit politik.
be kind towards each other. jangan mau diadudomba pemerintah.
First, I’m Filipino. Second, I’m not Muslim. Third, it’s 2026. Not everyone is going to live by your beliefs. Stop acting like your opinions are universal facts. Try focusing on your own life instead of obsessing over how other people choose to live. 😌🥰
Padahal pas pemilu 2024, banyak pengusaha vote 02 karena butuh stabilitas politik dan ekonomi. Biar bisnisnya smooth. Berharap sama 02 karena ada anak presiden incumbent, biar pas transisi ga bergolak.
Yg kejadian beneran 180 derajat.
Stabilitas gone, politik chaotic, cuan bye.
Kitchen sampe chaos tu flownya berantakan, atau nerima order di luar kapasitas, apa ownernya pelit ga mau hire staff lagi?
Gua pernah ga ke kitchen 8 bulan jalan aja itu kitchen. Temen gua head chef di satu resto & bar gede di Bali, bulan kemarin izin 3 minggu karena mamanya kecelakaan, ga ada chaos tu kitchennya. Pun executive chef dan owner nya cuek aja dia izin wong tinggal potong gaji. 3 minggu lho, bukan 1-2 hari. Tapi ga pake drama marah2.
Atasan kayak gitu ga boleh dinormalisasi. Apalagi di kitchen yg pressure dan resikonya tinggi. Orang sini malah kebalik, di kitchen malah harus dimaklumi. Goblok 😂
Gw gak peduli mau industri apapun:
Kalo perkara 1-2 orang gamasuk aja bikin chaos, itu artinya understaffed.
We are human beings, sesekali bakal gak masuk karena sakit, rehat, liburan, atau ngurus keluarga sakit.
Pengusaha2 kontol sok2 "aduh gaada duit" tau2 liburan ke Jepang.