Dito mulai jawab pelan-pelan.
Air mineral. Kadang isotonic habis lari. Teh kotak buat sarapan. Kopi susu kekinian habis gym karena "reward" setelah latihan keras.
Dokternya nulis sesuatu.
"Coba hitung total gulanya," kata dokternya.
Dito nggak pernah kepikiran soal itu. Dia fokus ke makanan. Minuman nggak pernah dihitung.
Gua tau sih knp gua susah bgt untuk nerima diri sendiri akhir akhir ini. Karena he left me hanging jadi gua kaya sering meragukan diri sendiri dan bnyk nyalahin diri sendiri
Berarti mereka gak mengalami dua jam depan laptop tapi baru bisa nulis satu kalimat setelah menyelam 15 artikel. Anddddddd itu pun yang dikutip cuman 2 artikel setelah membaca dan membandingkan sebanyak itu
This was a long time ago btw ive fully moved on now but looking back i just remembered how pathetic i was questioning abt so many things, i even blamed myself for how things ended i cried myself to sleep missing him and asking to myself what went wrong and made him left
“No closure is closure tuh gak ada” SEPAKAT. VALID. SETUJU. Aku tipe orang yang gampang moveon tapi the only time aku bisa hampir setahun gamonin satu orang itu karena selesainya tanpa closure, tbtb hilang with no explanation dan setelah dipikir pikir itu jahat bgt t___t
Setuju, kak! Secara psikologis, orang yang milih ghosting daripada kasih closure biasanya punya avoidant attachment style atau conflict avoidance. Mereka gak siap secara emosional buat ngadepin konfrontasi/rasa bersalah, jadi milih kabur. Padahal dampaknya jahat bgt. 🧠💔
sifat kaya gini tuh udah keliatan dari pacaran sebenernya.
ga usah sama pasangan, gue sama temen pun kalo udah kerasa ga balance secara inisiatif, effort, manner, ga segan langsung jaga jarak. sempet mikir kayanya gue terlalu transaksional... but
kangen ga sih rasanya naksir orang beneran like having sparks all over your stomach when you look at them in real life and smile silly without you realize trs punya semangat buat menjalani hari karena lo bakal ketemu dia tiap hari
No offense ya girls, tapi di umur sekarang harusnya kita lebih takut ga punya skill, value, dan tujuan hidup daripada ga punya pasangan.
karena relationship bukan pencapaian terbesar dalam hidup. dan pasangan juga ga selalu jadi jaminan hidup bakal aman.
pas hidup lagi ga baik-baik aja, yang bakal bantu kita survive bukan sekadar relationship, tapi skill, mindset, relasi, dan value yang kita punya sendiri.
manusia bisa berubah, perasaan bisa pudar, situasi juga bisa kebalik kapan aja. so the best investment will always be yourself.